Simbol Pertanian dalam Budaya Masyarakat Karo

Main Article Content

Nenggih Susilowati

Abstract

Abstract
The Tanah Karo's natural lanscape has been known such a fertile area with a climate that is perfect for agricultural activities. The ancient Karo people used to live the old way known as the megalith culture or tradition that is always related to ancestral and animism beliefs. When Islam and Christianity started to influx and flourish, the old beiefs gradually vanished. The material culture heritage, however, shows varous influences from the past. The old well-rooted concept and element that used to live in the society has left such a strong legacy to some aspects of the culture material and tradition in the present day, especially the buiding or the symbolic ornament and the traditional building element. The agricultural life in the past can be traced back through the symbols available, which then will become proposed questions in search for answers. This paper appliesmexplorative-descriptive method with inductive reasoning. The ornaments, building materials and elements available are proofs of agricultural activities in the forms of farming. The fertile soil and conducive climate provide a perfect back up to the farming. The traditional buildings for the ancestors' skulls at Tanah Karo settlements are the perfect examples of the ancient megalith.

Abstrak
Alam lingkungan Tanah Karo sejak dahulu memang merupakan area yang subur dengan iklim yang menunjang kegiatan pertanian. Masyarakat Karo dahulu masih menganut kepercayaan lama yang dikenal di Nusantara sebagai budaya atau tradisi megalitik yang sering dikaitkan dengan kepercayaan yang berkaitan dengan leluhur dan animisme. Seiring dengan masuknya agama Islam dan Kristen, kepercayaan ini berangsur hilang. Namun melalui budaya material yang ditinggalkan masih menunjukkan adanya pengaruh kepercayaan lama. Konsep maupun unsur budaya yang pernah ada dan mengakar pada masyarakatnya, menyebabkan sebagian bentuk budaya material maupun tradisinya masih menampakkan hubungan dengan budaya masa lalunya. Terutama berkaitan dengan bangunan atau simbol-simbol yang tercermin dalam ornamen dan elemen bangunan adatnya. Bagaimana kondisi pertanian masa lalu dilacak melalui simbol-simbol yang ada menjadi permasalahan yang ingin diungkapkan kejelasannya. Penulisan menggunakan metode eksploratif-deskriptif menggunakan alur penalaran induktif. Melalui berbagai ornamen, bahan bangunan serta elemen bangunannya menjadi petunjuk adanya kegiatan pertanian berupa persawahan dan perladangan. Hal ini didukung oleh tanah yang subur serta iklim yang menunjang kegiatan itu. Perkampungan di Tanah Karo juga masih menggambarkan adanya tradisi megalitik di masa lalu, dengan keberadaan bangunan adat sebagai tempat menyimpan tengkorak dan tulang belulang leluhur /geriten.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Susilowati, Nenggih. 2018. “Simbol Pertanian Dalam Budaya Masyarakat Karo”. Berkala Arkeologi Sangkhakala 16 (1). Medan, Indonesia, 44-59. https://doi.org/10.24832/bas.v16i1.113.

References

Ginting, Samaria & A.G. Sitepu 1994/1995. Ragam Hias (Ornamen) Rumah Adat Batak Karo. Medan: Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara.

Handini, Retno, dkk. 1996. Laporan Penelitian Samosir. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan).

Hasanuddin, Samaria Ginting, dan Lisna Budi Setiati. 1998. Ornamen (Ragam Hias) Rumah Adat Batak Toba. Medan: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sumatera Utara.

Prinst, Darwan. 2004. Adat Karo. Medan: Bina Media Perintis.

Sipayung, Hernauli dan S. Andreas Lingga. 1994/1995. Ragam Hias (Ornamen) Rumah Tradisional Simalungun. Medan: Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara.

Sipayung, Hernauli dan S. Andreas Lingga. 1995/1996. Simalungun Traditional – House Ornaments. Medan: Museum Negeri Propinsi Sumatera Utara.

Sitepu, A.G. 1995. Ragam Hias (Ornamen) Tradisional Karo- Seri A. Kabanjahe: tp.

Soejono, R.P. & R.Z. Leirissa ed. 2009. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

Susilowati, Nenggih dkk. 2000. Laporan Penelitian Arkeologi. Penelitian Arkeologi di Sekitar Tempuran Sungai Batang Pane dan Barumun, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan).

Susilowati, Nenggih. 2001. Laporan Penelitian Arkeologi. Penelitian Arkeologi di Batu Gajah, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Medan: Balai Arkeologi Medan (tidak diterbitkan).

Tanudirjo, Daud Aris. 1989. Ragam Penelitian Arkeologi Dalam Skripsi Karya Mahasiswa Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Laporan Penelitian. Yoyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

Tichelman, G L dan P. Voorhoeve. 1938. Steenplastiek in Simaloengoen. Medan: Köhler & Co.

Wagner, F.A. 1962. Indonesia, the Art of an Island group. Art of the World Series.

Website:

KITLV . Diakses pada 8 Mei 2013. http://media-kitlv.nl. “Legenda Tuak, Cerita Rakyat Sumut.” Diakses pada 20 Februari 2012. http://www.budaya-indonesia.org/iaci/Legenda_Tuak,_Cerita_Rakyat_Sumut

Most read articles by the same author(s)

> >>