MEMBANDINGKAN CATATAN PERJALANAN PELANCONG DAN NISAN KUNO KERAJAAN PEUREULAK, ACEH TIMUR, ACEH

 

COMPAIRING TRAVEL NOTES AND ANCIENT NISAN PEUREULAK  KINGDOM, EAST ACEH, ACEH

 

Ambo Asse Ajis

Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh

Jalan Banda Aceh-Meulaboh Km.7.5, Aceh

ambo.unsam@gmail.com

 

Reception date : 17/07/2020

Last Revision: 22/05/2021

Acceptation date: 02/06/2021

Published: 10/06/2021

To Cite this article : Ajis, Ambo Asse. 2021. “MEMBANDINGKAN CATATAN PERJALANAN PELANCONG DAN NISAN KUNO KERAJAAN PERLAK, ACEH TIMUR, ACEH: [Compairing Travel Notes and Ancient Nisan Peureulak Kingdom, East Aceh, Aceh]”. Berkala Arkeologi Sangkhakala 24 (1). Medan, Indonesia, 1-14. https://doi.org/10.24832/bas.v24i1.444.

©2021 Berkala Arkeologi Sangkhakala –This is an open access article under the CC BY-NC-SA license

 

Abstract

The 11th century AD Armenian text entitled A Journals of the South China Sea refers to the tofonim Peureulak  by the name Poure (Armenian) as a rich and valuable port. Marco Polo (1293 / late 13th century AD) was called Ferlec (Portuguese), which was a settlement with an Islamic population that was regularly visited by Islamic traders. The Negarakertagama manuscript of the 14th century AD mentions the name Parllak (Javanese) as one of the vassals of the Majapahit Kingdom. Likewise local texts, especially Hikayat Raja-Raja Pasai, mention that the existence of the Peureulak  Kingdom ended when it merged into the power of the Samudera Pasai Kingdom (1297 AD) through the process of marriage. This paper aims to see whether the records of the above improvements have the support of archaeological remains, especially the pre-Pasai Ocean era. The research method is descriptive by comparing information with the existence of archaeological remains of two pieces of data that have the same space and time dimensions, namely the rise of the pre-13th century AD and archaeological remains in the form of ancient pre-Samudera Pasai tombstones. The final conclusion is that the results of the comparison of space and time dimensions show that there is a synchronization that confirms the record that saw the Muslim population in Peureulak  before the establishment of the kingdom of Samudera Pasai, which is one of the earliest Islamic cities in Southeast Asia.

 

Keywords: Ancient Kingdom; Trade, harbor; ancient Islamic settlement; early Islamization

 

Abstrak

Teks berbahasa Armenia abad ke-11 Masehi berjudul Suatu Catatan Perjalanan di laut Cina Selatan menyebut toponim Peureulak  dengan nama Poure (bahasa Armenia) sebagai pelabuhan yang kaya dan berharga. Marco Polo (1293/akhir abad ke-13 M) menyebutnya Ferlec (bahasa Portugis) yakni sebuah lokasi permukiman berpenduduk Islam yang rutin disinggahi pedagang Islam. Naskah Negarakertagama abad 14 menyebut nama Parllak (bahasa Jawa) sebagai salah satu vasal Kerajaan Majapahit. Demikian juga naskah lokal, khususnya Hikayat Raja-Raja Pasai menyebut eksistensi Kerajaan Peureulak  berakhir ketika melebur ke dalam kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai (1297 M) melalui proses pernikahan. Tulisan ini bertujuan ingin melihat apakah catatan para pelancong di atas memiliki dukungan tinggalan arkeologis khususnya era sebelum Samudera Pasai. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan cara melakukan komparasi informasi dengan keberadaan tinggalan arkeologis dua buah data yang memiliki kedudukan dimensi ruang dan waktu yang sama, yakni catatan pelancong abad sebelum abad 13 dan tinggalan arkeologis berupa nisan-nisan kuno era sebelum Samudera Pasai. Kesimpulan akhirnya bahwa dari hasil perbandingan dimensi ruang dan waktu menunjukan ada singkronisasi membenarkan catatan para pelancong melihat adanya penduduk Islam di Peureulak  sebelum berdirinya kerajaan Samudera Pasai, yakni satu kota paling awal yang terislamisasi di Asia Tenggara.

 

Kata Kunci: Kerajaan Kuno; Perdagangan; Pelabuha; Permukiman Islam; Islamisasi awal

 

PENDAHULAN

Catatan historis dari buku pelancong abad ke-11 menjadi bukti letak pasti “Poure” atau Peureulak  berada di Kabupaten Aceh Timur. Tradisi lokal dan ahi-ahli sejarah di Aceh juga meyakini letak pusat kerajaan ini berada di Gampong Paya Meuligo, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh (Said 1981, 64–66). Karakter awal hingga berakhirnya Kerajaan Peureulak  menggunakan sungai sebagai basis kehidupan dasarnya. Nama sungainya Krueng Peureulak (sungai Peureulak) adalah inti atau pusat kehidupan kerajaan dan masyarakatnya. Dari sungai ini, dibangun basis inti permukiman, lokasi bandar (pelabuhan) Peureulak  tempat aktivitas dan rute menuju ke hulu melakukan eksplorasi mencari kekayaan alam yang diminati pedagang saat itu.

Keletakan lokasi Kerajaan Peureulak didasari pada (a) tradisi lisan maupun tertulis di Aceh, (b) data perjalanan para pelancong yang ditulis dalam bentuk monografi, dan (c) keberadaan tinggalan arkeologis berupa nisan-nisan kuno era sebelum Samudera Pasai yang digunakan di beberapa makam sultan Kerajaan Peureulak  yang ditemukan saat ini.

Pertama, tradisi masyarakat Aceh menunjuk Kabupaten Aceh Timur sebagai lokasi Kerajaan Peureulak . Di Aceh Timur berbagai hikayat kehidupan Kerajaan Peureulak  dikenali secara umum, seperti Hikayat Nurul A’la. Secara tertulis ada dua naskah hikayat yang menyebut tentang Peureulak  yaitu Hikayat Aceh dan Hikayat Raja-Raja Pasai. Naskah Hikayat Aceh menceritakan kisah penyebaran Islam seorang ulama Arab bernama Syeikh Abdullah Arif pada tahun 506 H atau 1112 M. Lalu berdirilah Kesultanan Peureulak dengan sultannya yang pertama Alauddin Syah yang memerintah tahun 520–544 H atau 1161–1186 M (Montana 1997, 85–95) dan Hikayat Raja-Raja Pasai menceritakan kedatangan Nahkoda Syekh Islamil ke Samudera dan mengislamkan tokoh utama bernama Meurah Silu (dikemudian hari beliau ini menjadi pendiri Kerajaan Samudera Pasai dengan gelar Sultan Malik as Shaleh). Disebutkan untuk melengkapi pemerintahannya, dipinanglah putri Kerajaan Peureulak sekaligus menjadi peleburan Kerajaan Peureulak  ke dalam kekuasaan Kerajaan Samudera Pasai.

Kedua, berbagai catatan baik itu dari pelancong maupun catatan kerajaan yang mengetahui keberadaan pelabuhan atau Kerajaan Peureulak, sejauh ini diketahui ada beberapa, seperti: (1) penyebutan nama yang mirip Peureulak  dari teks berbahasa Armenia (abad ke-11) Suatu Catatan Perjalanan di laut Cina Selatan” menyebut toponim Peureulak  dengan nama Poure sebagai pelabuhan yang kaya dan berharga. Dalam naskah tersebut disebutkan sekitar 16 pelabuhan lainnya, yang sangat berharga pada era tersebut. Beberapa pelabuhan yang disebut berdekatan dengan Poure (Peureulak), diantaranya: a. Pelabuhan P’anes, lokasinya disebut berada di bawah pelabuhan Poure; b. Pelabuhan Samoui/ Samwi/ Samawi lokasinya berada di atas Poure’; c. Pelabuhan K’roudayi/ K’roudai letaknya di atas pelabuhan Samoui/ Samwi/ Samawi; d. Pelabuhan K’roat/ K’routi letaknya di atas pelabuhan K’roudayi/ K’roudai dekat pelabuhan Lamri; dan, e. Pelabuhan Lamri/ Lamuri berada di atas pelabuhan K’roudayi/ K’roudai (Kevonian, 2015: 3-86); (2) catatan perjalanan Marco Polo (1292) menyebut nama Ferlec/Peureulak  sebagai salah satu lokasi paling awal dilihat dan dikunjunginya dari keseluruhan delapan lokasi, tetapi hanya enam yang dikunjunginya, antara lain: Ferlec, Basma, Sumatera, Dagroian, Lambri dan Fansur. Marco Polo mencatat opininya tentang Ferlec bahwa karena pedagang Muslim mengunjunginya, semua orang kota sudah masuk Islam. (3) Dalam catatan Cina, toponim Peureulak disebut berbagai nama, seperti, Pieh-li-ha (1284); Pa-la-la (1292-1293) dan Fa-erh-la (1295). (4) Kitab Negarakertagama (1360) menyebut Parllak sebagai salah satu vassal Majapahit[i] sebagai hasil penaklukan yang dilakukan Singoshari pada Tahun 1275 yang disebut dengan ekspedisi Pamalayu.

Ketiga, keberadaan nisan-nisan kuno pada makam sultan yang pernah berkuasa di Kerajaan Peureulak  adalah bukti arkeologis yang belum dikaji secara mendalam para ahIi tetapi bukti ini jelas menjadi indikasi keberadaan permukiman kuno era kerajaan di Kabupaten Aceh Timur, seperti: Kompleks Makam Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah, Kompleks Makam Sultan Ahmad Syah, Kompleks Makam Putri Nurul A’la, Kompleks Makam Meurah Ahmad, Kompleks Tengku Matang Tengah, Kompleks Makam Sultan Makdum Alaidin Malik Abdulah Syah, dan Kompleks Makam Gampong Ulee Aleung. Pada tahun 2020 lalu, Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh melakukan pendataan potensi cagar budaya dan menemukan keberadaan beberapa nisan kuno diduga pra Kerajaan Samudera Pasai yang tersebar di Kabupaten Aceh Timur[ii].

Berbagai sumber di atas menunjukan eksistensi Peureulak  dengan ragam karakter, antara lain: (a) sebuah permukiman kuno; (b) permukiman yang memiliki pemerintahan kota; (c) terletak dekat laut (pesisir); (d) dikunjungi banyak pedagang Islam dan pedagang lainnya; (e) sebagai lokasi yang ramai aktivitas perdagangan; (f) telah tercatat sejak abad ke-11 bahkan bisa lebih tua lagi; (g) berdekatan dengan pelabuhan lainnya yang juga ramai dikunjungi; (h) tempat persinggahan saat perubahan arah angin[iii];  (i) memiliki penduduk lokal yang tradisional (zapatech/ zabed)[iv] yang tinggal di luar kota; dan (j) memiliki penduduk yang tinggal dalam kota beragama Islam merupakan hasil bauran penduduk lokal dan pedagang pendatang yang  beragama Islam.

Berdasarkan uraian data di atas, permasalahan yang akan diselesaikan  dalam penelitian kali ini adalah apakah ada relasi keruangan dan waktu antara jejak arkeologis berupa makam dan nisan kuno tersebut dengan keterangan para pelancong. Tujuan yang ingin dicapai untuk mendapatkan pemahaman kronologis dan ruang serta waktu hubungan keduanya.

Landasan pemikiran dalam mengkaji relasi antara tinggalan arkeologis berupa makam dan nisan kuno dengan informasi pelancong, yaitu mencocokan dimensi bentuk nisan melalui perbandingan nisan yang telah ada sebelum era Kerajaan Samudera Pasai. Kemudian membandingkan dimensi waktu keletakan makam dan nisan tersebut dengan catatan para pelancong guna mendapatkan pemahaman dimensi ruang sehingga bisa menjelaskan kelayakannya hadir pada era abad ke-13.

 

METODE

Untuk menjawab hal tersebut, penulisan karya ini menggunakan metode kualitatif dengan penalaran induktif sebagai alat menjelaskan data yang berhasil dihimpun, yakni: pertama data arkeologis berupa nisan-nisan kuno era sebelum Samudera Pasai yang diperoleh di wilayah Peureulak  dan Aceh Timur berdasarkan hasil eksplorasi penulis, hasil kegiatan pendataan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh maupun data dari Kepala Seksi Cagar Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur, dan kedua data catatan pelancong asing yang mencatat tofonim Peureulak  sebelum abad 13 masehi. Adapun data kualitatif merupakan data hasil kajian bersumber dari berbagai pustaka yang relevan dengan tema tulisan ini.

Dari kedua sumber tersebut, penulis melakukan studi perbandingan data dengan cara komparasi berpasangan dengan objek yang sama, yaitu dimensi ruang dan waktu yang tertera pada nisan sebelum abad ke-13 (sebelum Samudera Pasai) di Peureulak dengan catatan pelancong sebelum abad ke-13 masehi. Penalaran induktif digunakan sebagai sarana menjelaskan hasil komparasi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan keletakan, titik koordinat Peureulak  (Poure) disebutkan dalam buku “Nama Kota-Kota India dan Kawasan Pinggiran Persia” yang ditulis abad ke-11 letaknya berada dibawah bandar dagang (pelabuhan) bernama Samwi[v].Toponim Samwi sendiri tidak lain adalah Kota Lhokseumawe, terletak di pesisir pantai utara Aceh yang sampai sekarang masih menjadi kota perdagangan penting di Aceh. Pelliot mengatakan bahwa nama Ferlec dipengaruhi bahasa Arab (Perret 2015:25) sehingga tidak mustahil pendirian kerajaan Peureulak adalah orang-orang muslim yang berbahasa Arab. Demikian juga kesaksian Marco Polo tentang aktivitas orang-orang Arab di Peureulak menguatkan lokasi ini benar-benar berpenduduk muslim, menjalin kehidupan perkotaan yang mulanya dari sebuah bandar atau pelabuhan niaga. Jika dilihat dari sudut kekinian, fakta tersebut tidak mengherankan karena keletakan Peureulak (Aceh Timur) tepat berada di pesisir timur Pulau Sumatera, berhadapan dengan Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan sejak abad pertama Masehi menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Dunia Arab-India-Asia Tenggara-Cina.

Selain alasan posisi geografis, di Peureulak ada bahan baku perdagangan, seperti kayu (kayu Peureulak) (Muchsin 2018, 221–23), tanaman rempah-rempah dan bahan tambang (emas). Tradisi lokal menyebut aktivitas para pedagang yang singgah di Bandar Peureulak ,yakni (1) mencari kayu Peureulak untuk dijadikan bahan pembuatan perahu, termasuk perbaikan selama menunggu perubahan arah angin. Kayu ini disenangi karena karakter alami kayu Peureulak  disebut ringan, tidak dimakan rayap dan tidak menghisap air[vi]; (2) Bandar Peureulak  juga menyediakan hasil hutan dan emas serta berbagai kebutuhan yang diinginkan para pedagang saat itu. Hasil hutan yang bisa diperoleh seperti rotan dan kayu manis; hasil tambang berupa emas; (3) Bandar Peureulak menyediakan tempat aman untuk kapal berandar (berlabuh) dari hempasan gelombang karena posisinya berada di muara sungai sehingga memberi rasa aman dan nyaman kepada pemilik kapal dan awaknya; (4) Bandar Peureulak  berada di tengah-tengah garis pantai timur pulau Sumatera yang bagian atas dan bawahnya berkembang bandar/ pelabuhan yang efektif bagi mereka melakukan aktivitas niaga; (5) kesamaan ideologi Islam bagi pedagang dari semenanjung Arab menyebabkan pedagang-pedagang muslim memilih singgah di Peureulak  dibandingkan bandar lainnya yang masih menyembah berhala dan masih hidup tradisional; dan (6) kekuasaan Sriwijaya tidak memberi ancaman berarti kepada Peureulak, khususnya abad ke-11 sampai abad ke-14 karena pada era ini Sriwijaya baru saja mendapatkan pukulan berat dari Dinas Chola (abad ke-11) dan serangan dari Singashari (abad ke-13) dan Majapahit (abad ke-14).

Dengan demikian, sangat masuk akal bila bandar Peureulak menjadi tujuan utama para pedagang Muslim dari Timur Tengah dan pedagang India Muslim yang melanjutkan perjalanan bisnisnya ke Cina di era sebelum akhir abad ke-13. Kemudian saat mereka kembali dari Cina, mereka singgah ke Peureulak menunggu bergantinya arah angin, sekaligus memperbaiki kapal jika ada kerusakan. Adapun situasi sosial di Peureulak dicatat Marco Polo (1292) dengan memerikan catatan ada dua kategori sosial penduduk, yaitu penduduk belum Islam yang dilabeli dengan istilah penduduk tradisional dan penduduk kota dikatakan telah beragama Islam berkat usaha dakwah para mubaligh yang sekaligus berprofesi pedagang.

 

Tinggalan arkeologis Nisan Kuno di Peureulak dan sekitarnya

Dari hasil penelusuran mencari bekas permukiman kuno di sekitar Peureulak, sejauh ini yang baru berhasil ditemukan dalam bentuk sebaran makam-makam kuno, dipercaya relevan era Kerajaan Peureulak atau masa sebelum berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Berikut tinggalannya:

 

Kompleks Makam kuno Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah (840-864 Masehi)

Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah dipercaya oleh tradisi setempat sebagai sultan pertama Kerajaan Peureulak  yang pusat pemerintahannya bernama Bandar Khalifah. Menurut tradisi setempat, sebelum bernama Bandar Khalifah, lokasi pusat kerajaan ini memilki nama awal yakni Bandar Peureulak . Dengan kata lain jauh sebelum tahun 840 Masehi, telah ada permukiman kuno di Kerajaan Peureulak . Adapun Keterangan tahun berkuasa sultan ini diperoleh keterangannya dari salinan kitab Idharul Haq fi Mammalaqatil Peureulak  karangan Abu Ishaq al Makarany al Fasiy (Hasjmy 1983).

Situs Kompleks Makam kuno Sultan Alaidin Said Maulana Abdul Aziz Syah berlokasi di Gampong Paya Meuligo, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur berada di koordinat 5°02'05.8"N 97°37'22.5"E. Morfologi nisannya sebagai berikut: (a) bagiandasar berbentuk persegi panjang; (b) antara dasar dan badan terdapat pelipit yang berfungsi sebagai dudukan badan nisan berbentuk persegi panjang vertikal lalu melengkung (bahu bulat) kearah puncak; (c) bagian puncak/atas merupakan sambungan dari bahu berbentuk persegi panjang (rata) tanpa penutup; bahan nisan dari batu andesit. Secara umum, jika diamati secara sepintas maka bentuk nisannya seperti vas bunga. Material nisan berbahan batu andesit, berukuran tinggi 30 sentimeter, lebar 20 sentimeter, dan tebal 5 sentimeter.

Gambar 1. Nisan Makam Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah

(Sumber: BPCB Aceh, 2020)

 

Kompleks Makam

Sultan Ahmad Syah (1109-1135 M)

Sultan Ahmad Syah dipercaya sebagai sultan ke-12 Kerajaan Peureulak  dengan nama lengkap Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat berkuasa Tahun 1109-1135 Masehi (Said 1981, 66–67). Lokasi situs Kompleks Makam Sultan Ahmadsyah berada di koordinat 5°6'27.29"N 97°28'28.26"E. Morfologi nisannya sebagai berikut: (a) bagian dasar berbentuk persegi panjang; (b) antara dasar dan badan terdapat pelipit yang berfungsi sebagai dudukan badan nisan berbentuk persegi panjang vertikal kearah bahu; (d) bahu memiliki sayap pendek; (e) dari bahu ke puncak melengkung ke bagian puncak/atas berbentuk persegi panjang (rata) tanpa penutup menyerupai vas bunga.

 

Gambar 2. nisan di duga Sultan Ahmadsyah (Sumber: BPCB Aceh, 2020)

 

Kompleks Makam Nurul A’la

Kompleks Makam Putri Nurul A’la berada di koordinat 4°42'20.10"N 97°44'43.89"E. Secara morfologis nisan kuno yang digunakan di makam Putri Nurul A’la, sebagai berikut: (a) bagian dasar berbentuk persegi panjang; (b) antara dasar dan badan terdapat pelipit yang berfungsi sebagai dudukan badan berbentuk persegi panjang vertikal puncak yang ujungnya ada motif lidah api khas nisan Tipe Bandar Aceh Darussalam; (c) dari badan atas ke puncak ada tiga lengkungan tumpang ke bagian puncak/ atas yang di ujungnya berbentuk segitiga; (d) bahan nisan dari batu pasir (sandstone). Kelihatannya nisan ini tidak lazim untuk nisan perempuan. Adapun nisan khusus perempuan di era Kerajaan Bandar Aceh Darussalam umumnya pipih bersayap berbaha batu pasir.

Gambar 3. Nisan milik Nurul A’la

(Sumber: BPCB Aceh, 2020)

 

Makam Meurah Ahmad

Nisan milik Meurah Ahmad berada di Situs Kompleks Makam Meurah Ahmad di koordinat 5°2'28.10"N 97°30'42.40"E.  Secara morfologis nisannya dapat diidentifikasi sebagai berikut: (a) bagian dasar berbentuk persegi panjang; (b) antara dasar dan badan terdapat pelipit yang berfungsi sebagai dudukan badan berbentuk persegi panjang vertikal; (c) dari badan atas ke puncak ada dua lengkungan tumpang ke bagian puncak/atas berbentuk rata; (d) bahan nisan ini dari batu andesit. Dari ciri nisannya diketahui umum digunakan pada masa Kerajaan Samudera Pasai abad ke-15.

A picture containing wall, indoor, stone

















Description automatically generated

Gambar 4. Nisan milik Meurah Ahmad

(Sumber: BPCB Aceh, 2020)

 

Makam Tengku Matang

Nisan milik Tengku Matang Tengah (bukan nama sebenarnya) berada di Situs Kompleks Makam Tengku Matang Tengah di koordinat 5°3'5.10"N 97°31'6.80"E. Secara morfologis diketahui mirip dengan nisan Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah dengan kondisi sebagai berikut: (a) bagian dasar berbentuk persegi panjang; (b) antara dasar dan badan terdapat pelipit yang berfungsi sebagai dudukan badan berbentuk persegi panjang vertikal; (c) dari badan atas ke puncak ada lengkungan (bahu bulat) ke bagian puncak/atas berbentuk rata; (d) bahan nisan terbuat dari batu andesit.

A picture containing old, stone

















Description automatically generated

Gambar 5. Nisan milik Teungku Matang Tengah (Sumber: BPCB Aceh, 2020)

 

Makam Sultan Makdum Alaidin Malik Abdulah Syah (1023-1059 M)

Nisan tokoh milik Sultan Makdum Alaidin Malik Abdulah Syah(1023-1059 M) ini, berada di Situs Kompleks Makam Sultan Makdum Alaidin Malik Abdulah Syah di koordinat 4°48'12.10"N 97°50'4.80"E. Secara morfologis diketahui kondisi nisan sebagai berikut: (a) bagian dasar berbentuk persegi panjang; (b) antara dasar dan badan terdapat pelipit yang berfungsi sebagai dudukan badan berbentuk lengkung vertikal kearah bahu; (c) bahu lengkung ke arah puncak ada lengkungan (bulat) kecil menuju ke bagian puncak/atas berbentuk rata; dan (d) bahan nisan ini dari batu andesit.

Gambar 6. Nisan milik Sultan Makdum Alaidin Malik Abdulah Syah (Sumber: BPCB Aceh, 2020)

 

Kompleks Makam Gampong Ulee Aleung 

Kompleks Makam Gampong Ulee Aleung  terletak di koordinat 5°02'05.8"N 97°37'22.5"E, salah satu nisan kuno yang ditemukan memiliki morfologi sebagai berikut: (a) bagian dasar berbentuk persegi panjang; (b) antara dasar dan badan terdapat pelipit yang berfungsi sebagai dudukan badan nisan berbentuk persegi panjang vertikal kearah bahu; (d) bahu memiliki sayap pendek dalam kondisi patah; (e) dari bahu ke puncak melengkung ke bagian puncak/atas menyerupai vas bunga; (f) bahan nisan dari batu andesit.

Gambar 7. nisan di Komplek Makam Gampong Ulee Aleung (Sumber: BPCB Aceh, 2020)

Tinggalan arkeologis di atas diyakini bagian dari permukiman era Kerajaan Peureulak  di masa lalu. Tradisi msayarakat setempat sampai saat ini masih menempatkan penguburan tidak jauh dari permukiman. Dengan kata lain, keletakan sebuah kompleks makam selalu berdekatan ruang permukiman. Dari ketujuh makam kuno di atas, bisa diketahui kedudukan relatifnya jika dilakukan perbandingan dengan objek yang berciri morfologi nisan sama. Berikut hasil perbandingannya:

 

Nisan pipih bahu bulat

Nisan berbentuk pipih bahu bulat milik Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah  dan Makam Tengku Matang Tengah, ternyata tersebar di banyak tempat di Aceh, seperti Aceh Utara (Kerajaan Samudera Pasai), Aceh Besar (Kerajaan Lamuri) dan Banda Aceh (Kerajaan Bandar Aceh Darussalam). Demikian juga di beberapa tempat di Asia tenggara ada ditemukan sebarannya, seperti di Pattani (Thailand), Malaysia dan Brunei Darussalam. Hasil perbandingan nisan Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah  dan Makam Tengku Matang Tengah dengan nisan kuno di Aceh Utara diketahui keberadan nisan seperti ini telah eksis sebelum berdirinya Kerajaan Samudera Pasai, Aceh Utara. Demikian juga di Kabupaten Aceh Besar ditemukan morfologi nisan yang sama dengan angka tahun 1007 Masehi.

 

Graphical user interface, application, Word

Description automatically generated

Gambar 8. Perbandingan nisan Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah dan Makam Tengku Matang Tengah dengan situs Sebelum Samudera Pasai (awal abad ke-13) di Kabupaten Aceh Utara

(Sumber: Ajis, 2020:15)

 

Bentuk nisan seperti ini yang memiliki angka tahun tertua, ditemukan di Kuta Lbhok, Lamreh, Aceh Besar berangka tahun 1007 Masehi. Meskipun ada yang meragukan pembacaannya tetapi bantahan terhadap angka tersebut sampai saat ini belum ditemukan publikasinya. Sebagai tambahan, nisan tersebut di atas sudah tidak ditemukan lagi. Menurut kabar, nisan tersebut di simpan di Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Syiah Kuala, Aceh.

 

 

Gambar 9. Nisan pipih bahu bulat berangka tahun awal abad ke-11/1007 Masehi.

(Sumber: Suprayitno 2011, 140)

 

Bentuk nisan pipih bahu bulat juga ada di Situs Minyek Tujuh, Aceh Utara di ketahui berasal dari abad ke-14 Masehi. Dalam epitaph di nisan diketahui milik seorang perempuan Kerajaan Samudera Pasai bernama Ratu Agung Wabisa (Wanisa?) binti al-Sultan almarhum al-Malik al-Zahir Sharaf al-din khan bin Pulda khan bin Bad (Yad?) khan meninggal 4 Desember 1389 Masehi(Kalus 2008, 65).

 

 

Gambar 10. Nisan pipih bahu bulat berbahasa Arab dari Situs Minyek Tujuh, Aceh Utara berangka tahun awal abad ke-14/ 1389 Masehi

(Sumber: Kalus 2008, 65)

Pipih bersayap Pendek

Nisan pipih bersayap pendek berada di situs Komplek Makam Gampong Ulee Aleung dan Situs Jirat Raja Ahmad telah eksis digunakan sebagai penanda kubur sebelum berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Sebagai data pembanding bisa dilihat pada Kompleks Makam Situs Jirat Raja Ahmad (1267 Masehi), Lubuk Tuwe, Aceh Utara dan di Situs Kompleks Jrat Habib (1226 Masehi), Lubuk Tuwe, Aceh Utara.

 

  

 

 

Gambar 11. Perbandingan nisan pra Samudra Pasai bentuk pipih bersayap pendek

Di Ulee Ateung, Aceh Timur (A); (B) nisan di Situs Jirat Raja Ahmad (1267 Masehi); (C) di Situs Kompleks Jrat Habib atau Raja Muhammad (1226 Masehi) Gampong Lubuk Tuwe, Kabupaten Aceh Utara

(Sumber: Aceh 2020)

 

Beberapa tipe nisan Aceh di kompleks makam kuno Leubok Tuwe.

 

Gambar 12. (kiri) Nisan Sultan Ahmad Syah di Aceh Timur (1109-1135 masehi) era sebelum Samudera Pasai; (kanan) Nisan pipih bersayap pendek di situs berangka tahun 1226 masehi (awal abad 13), Gampong Lubuk Tuwe, Kabupaten Aceh Utara (Sumber: Aceh 2020)

 

Pipih tanpa sayap dengan bahu ganda

Nisan pipih tanpa sayap di Aceh Timur, terdapat di situs Meurah Ahmad dan situs Sultan Makdum Alaidin Malik Abdulah Syah (1023-1059 M). Bentuk nisan seperti ini umum digunakan sultan-sultan Kerajaan Samudera Pasai era akhir abad ke-15/awal abad ke-16. Sebagai data pembanding bisa dilihat pada Kompleks Makam Batee Bale di Aceh Utara di bawah ini:

 

  

Gambar 13. (kiri atas) Nisan pipih bahu ganda di Situs Kompleks Makam Meurah Ahmad;  (kanan atas) Nisan pipih bahu ganda di Kompleks Makam Batee Balee, Kabupaten Aceh Utara; (bawah) bentuk nisan bahu ganda milik Sultan Shalahuddin

(Sumber: (Aceh 2020; Muhammad 2011)

Hasil Perbandingan Data

Nisan kuno sebelum Samudera Pasai di Peureulak menjadi satu petunjuk kuat adanya permukiman Islam yang sudah eksis sebeum abad ke-13. Pola sebaran makam kuno dengan nisan pra Samudara Pasai yang berpusat di sungai Peureulak  dan pesisir pantainya menjadi atribut penanda model permukiman berciri hunian di bantaran sungai dan pesisir pantai.

Pilihan okupasi permukiman di bantaran sungai dan tepi pantai ini merupakan ciri permukiman kuno yang umum digunakan pada masa tersebut. Selain terkait dengan lokasi sumber bahan baku yang subur karena banjir dan kualitas tanah alluvialnya yang baik, juga transportasi menggunakan perahu yang lebih mudah saat membawa ke pusat perdagangan (bandar) saat itu.

Pada abad ke-13, Selat Malaka adalah rute laut yang umum digunakan para pedagang Muslim dari Arab dan India menuju Cina. Rute ini sebelumnya dikendalikan kekuatan lokal Kerajaan Sriwijaya abad ke-7 hingga ke-10 dan akibat penetrasi Chola Mandala (India) abad ke-11, Sriwijaya melemah, kehilangan kendali dan meninggalkan wilayah yang tanpa penguasaan. Setelah rapuhnya Kerajaan Sriwijaya tersebut, penguasa dari Kerajaan Kediri bermaksud mengendalikan Selat Malaka dengan ekspidisi Pamalayu (1275) tetapi ini tidak berhasil sebagaimana kemampuan Kerajaan Sriwiaya.

Pada sisi yang lain, ketiadaan penguasa yang kuat di Selat Malaka di atas menyebabkan pedagang Muslim lebih leluasa melakukan eksplorasi di pesisir pantai Sumatera yang sebelumnya sulit dilakukan. Berbekal kesuksesan eksplorasi di wilayah pantai barat Sumatera (Barus) dalam mencari sumber rempah seperti kapur barus, kemenyan, emas, dan sebagainya, para pedagang Muslim menggunakan kemampuan tersebut leluasa menjajaki pantai timur Sumatera. Satu catatan penting dari pelaut Muslim Armenia karena saat abad ke-11, wilayah Armenia berada di bawah kekuasaan Bani Seljuk telah membuat catata bernama “Nama Kota-Kota India dan Kawasan Pinggiran Persia” yang ditulis abad ke-11 menyebut beberapa nama bandar dagang di pesisir timur pantai Sumatera, seperti:  Lambre/Lamri, Kr’outi, K’roudayi, Samwi, Poure (Peureulak ), P’anes, Lewan, dan Playoy.

Abad ke-11, bagi pedagang Muslim, bandar/pelabuhan Poure adalah jaringan bandar di Selat Malaka yang berada di pantai timur Sumatera. Pelabuhan yang pernah dikunjungi dan dikenal ini memiliki semua barang berharga yang diinginkan (kamper, kemenyan, manik-manik, emas, dll) ada di bandar ini. 

Abad ke-13, Marco Polo mengunjunginya dengan sebutan Ferlec dan mengklaim bandar ini sebagai “bawahan” Cina yang tidak pernah mengirimkan upeti. Ia juga menuliskan karakter Ferlec berbentuk kota perdagangan (Marco Polo membenarkan catatan abad ke-11 sebagai bandar) dimana penghuni kotanya adalah Muslim sementara penduduk di luar kota masih budaya asli.

Penanda arkeologis catatan Marco Polo yang menyebut keberadaan penduduk Muslim di bandar Peureulak /Ferlec adalah makam-makam kuno dengan nisan berciri sebelum Samudera Pasai (1297). Nisan sebelum Samudera Pasai ini berbahan batu andesit, bentuk pipih dengan dua macam gaya, yaitu: (1) bentuk pipih badan bahu lengkung dengan kepala pendek persegi menyerupai tempayam atau vas bunga, seperti pada nisan Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah (yang dalam tradisi lokal dianggap wafat tahun 840 masehi); dan (2) bentuk pipih persegi bahu bersayap pendek melengkung ke arah puncak rata, seperti pada Situs Sultan Ahmad Syah (yang dalam tradisi lokal dianggap wafat tahun 1109-1135).

Sebelum Marco Polo berlabuh di Parlak tahun 1293, bandar ini telah rutin dikunjungi pedagang Muslim dengan intensitas semakin tinggi karena Ketika itu pengawasan ketat Kerajaan Sriwijaya telah berakhir. Pada akhirnya tidak mengherankan jika Marco Polo melihat banyak pedagang Muslim di Peureulak  dan menyebutkan penguasaanya saat itu adalah seorang Muslim yang membedakannya dengan penguasa bandar-bandar lainnya yang sejaman. 

 

KESIMPULAN

Kajian arkeologis nisan-nisan kuno di Aceh Timur yang terkait era Kerajaan Peureulak  dan membandingkannya dengan catatan perjalanan para pelancong sedikit banyak menjelaskan eksistensi Peureulak  sebagai permukiman besar telah dimulai sejak abad ke-11 hingga abad ke-14. Kedua sumber data ini ternyata saling melengkapi dan sejalan satu sama lain.

Komunitas Muslim di tepi sungai Peureulak maupun sekitar pantainya, menjangkau wilayah yang luas hingga wilayah sebelum lahir Kerajaan Samudera Pasai (kini disebut Kabupaten Aceh Utara) karena Marco Polo bersaksi pada masa tersebut bandar Samudera masih hidup tradisonal. Dengan kata lain, jika ada komunitas Islam yang tumbuh di sana, bisa jadi adalah bagian dari kerajaan/kota/bandar Peureulak  saat itu yang telah membentuk pemerintahan kota sebagaimana yang dicatat oleh Marco Polo tahun 1293 lalu.

Kesimpulan ini juga mendukung berbagai seminar masuknya Islam yang diselenggarakan di Aceh maupun di Medan yang menyebut Peureulak  sebagai salah tempat awal Islamisasi nusantara sebelum berdirinya Kerajaan Samudera Pasai (1297).

 

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, BPCB. 2020. “Kajian Potensi Cagar Budaya Di Kabupaten Aceh Timur.” Tidak diterbitkan

 

Ajis, Ambo Asse. 2020. "Analisis Morfologi Nisan Sultan-Sultan Kerajaan Samudera Pasai." Jurnal Panalunglitik Vol. 3,  No. 2, Desember 2020. Balai Arkeologi Jawa Barat

 

Hasjmy, Ali. 1983. Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah. Jakarta: Beuna.

 

Kalus, Ludvik. 2008. Inskripsi Islam Tertua Di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

 

Montana, Suwedi. 1997. “Nouvelles Donees Sur Les Royaumes de Aceh, and Typologies: Seeing Sources for the Early History of Islam in Southeast Asia.” Archipel 53: 85–95.

 

Muchsin, A. Misri. 2018. “Kesultanan Peureulak  Dan Diskursus Titik Nol Peradaban Islam Nisantara.” Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies, 221–23.

 

Muhammad, Taqiyuddin. 2011. Daulah Shalihiyyah. Aceh Utara: Cisah Press.

 

Perret, Daniel. 2015. Barus Negeri Kamper. Sejarah Abad Ke-12 Hingga Pertengahan Abad Ke-17. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Said, Muhammad. 1981. Aceh Sepanjang Abad Jilid I. Medan: PT. Percetakan dan Penerbitan Waspada.

 

Suprayitno. 2011. “Evidence of Beginning of Islam I Sumatera: Study on the Acehnese Tombston.” Jurnal Tawarikh, International Journal for Historical Studies.

 

Kevonian, Keram, 2015. Suatu Perjalanan di Laut Cina dalam Bahasa Armenia. Barus Negeri Kamper. Sejarah Abad ke-12 hingga Pertengahan Abad  ke-17. PT. Gramedia, Jakarta

 

 

Lampiran:

Peta Sebaran Keletakan situs di Peureulak  dan sekitarnya

Gambar 14. Kelekatan makam kuno tinggalan Kerajaan Peureulak  di tepi Krueng Peureulak , Aceh Timur

(Sumber: Modifikasi penulis dari google earth, 2020).

 

Tabel 1. Daftar situs yng menandakan ada lokasi permukiman kuno di Peureulak  dan sekitarnya

 

NO

NAMA SITUS

KOORDINAT

FOTO

1

Makam Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah

4°48'44.40"N 97°50'11.40"E

2

Makam Sultan Ahmadsyah

 

5° 6'27.29"N 97°28'28.26"E

3

Makam Putri Nurul A’la

4°42'20.10"N 97°44'43.89"E

4

Makam Meurah Ahmad

5° 2'28.10"N   97°30'42.40"E

5

Makam Tengku Matang Tengah

5° 3'5.10"N  97°31'6.80"E

6

Makam Sultan Makdum Alaidin Malik Abdulah Syah

4°48'12.10"N  97°50'4.80"E

 

7

Komplek Makam Gampong Ulee Aleung

5°02'05.8"N 97°37'22.5"E 

 

 



[i] According to Mpu Prapañca, composer of the Desawarnana, the Javanese king (of Singasari) had ordered attacks on the ‘Bumi Melayu’ in 1275 and that, at the time of writing in the 1360s, the lands of Barat, Jambi, Palembang, Lampung and Perlakwere still loyal vassals that paid their taxes. “Menurut Mpu Prapañca, komposer Desawarnana, raja Jawa (Singasari) telah memerintahkan penyerangan terhadap 'Bumi Melayu' pada tahun 1275 dan bahwa, pada saat penulisan pada tahun 1360-an, tanah Barat, Jambi, Palembang, Lampung dan Perlak masih merupakan pengikut setia yang membayar pajak mereka.

[ii] Laporan Kajian Potensi Arkeologi di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2020 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh. Tidak diterbitkan.

[iii] Marco Polo di abad ke-13 Masehi dimana ia terpaksa bermukim di sekitar Perlak-Basma-Sumatera menunggu perubahan angin yang membawanya meneruskan perjalanan. Saat itu, Marcopolo tidak sendiri, ia bersama  kurang lebih 2.000 petualang lain yang tinggal di rumah-rumah kayu.

[iv] Istilah untuk penduduk kemaharajaan Sailendra (Sriwijaya)

[v] Sebuah Bandar yang sangat luas dan ramai sekali dalam perdagangan. Di bawah pelabuhan ini terdapat pelabuhan lain bernama “Poure.”

[vi]Catatan ini dimuat dalam Laporan Tim Kajian Monumen Islam Asia Tenggara, 2017 dan dan Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara di Aceh Timur 25-30 September 1980.