PERANG KESULTANAN ARU MENGHADAPI KESULTANAN ACEH DI ABAD XVI M

 

ARU SULTANATE WARFACING THE ACEH SULTANATE IN THE XVI M

 

Ery Soedewo

Balai Arkeologi Sumatera Utara

Jalan Seroja Raya Gang Arkeologi No.1, Medan Tuntungan, Medan

soedewo.ery@yahoo.com

 

Reception date : 17/06/2020

Last Revision: 11/05/2021

Acceptation date: 28/05/2021

Published: 10/06/2021

To Cite this article : Soedewo, Ery. 2021. “PERANG KESULTANAN ARU MENGHADAPI KESULTANAN ACEH DI ABAD XVI M: [Aru Sultanate War Facing The Aceh Sultanate in The XVI M]”. Berkala Arkeologi Sangkhakala 24 (1). Medan, Indonesia, 15-30. https://doi.org/10.24832/bas.v24i1.443.

©2021 Berkala Arkeologi Sangkhakala –This is an open access article under the CC BY-NC-SA license

 

Abstracts

Aru Sultanate was a state in Sumatra Island cited by numerous local and international sources between 13th and 16th centuries CE. In the middle of 16th century CE, the sovereignty of Aru was threatened by Aceh Sultanate’s aggression to its neighbouring states in Sumatra. Aru Sultanate’s strategic moves to deal with that aggression is the subject matter of this article. The discussion of such strategies is aimed at revealing what options came to surface by the defensive side to counter the aggressor. Historical reviews of two main records of the Portuguese Tomé Pires and Ferna-O Mendes Pinto revealed the potential strength and strategies adopted by Aru Sultanate to repel Aceh Sultanate’s attack. The presence of the fort as a supporting defensive factor allows Aru Sultanate to deploy a defensive strategy in Aru War I. The defensive stance, however, turned into offensive one in Aru Wars II and III as a strong ally, Johor Sultanate came to assist. Despite more alliances were formed with more states, victory ultimately belonged to Aceh Sultanate.

 

Keywords: offensive; defensive; allies; Aru; Aceh

 

Abstrak

Kesultanan Aru adalah salah satu negeri di Pulau Sumatera yang disebut oleh sumber-sumber tertulis lokal dan mancanegara sejak abad ke-13 – ke-16 M. Pada pertengahan abad ke-16 M, kedaulatan Kesultanan Aru terancam oleh agresi Kesultanan Aceh ke negeri-negeri tetangganya di Pulau Sumatera. Langkah-langkah strategis apa yang ditempuh oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi agresi Kesultanan Aceh, merupakan permasalahan yang diulas dalam karya tulis ini. Pembahasan tentang strategi yang dipakai oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi agresi Kesultanan Aceh bertujuan mengungkap pilihan strategi yang diterapkan oleh pihak yang bertahan dalam menghadapi agresi dari luar.  Melalui kajian historis terhadap data utama berupa dua catatan bangsa Portugis yakni Tome Pires dan Ferna-O Mendes Pinto, diungkap potensi kekuatan dan strategi yang diterapkan oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi serangan Kesultanan Aceh. Keberadaan benteng sebagai salah satu unsur kekuatan negara, membuat Kesultanan Aru memilih strategi yang defensif pada Perang Aru I. Strategi Kesultanan Aru berubah dari defensif menjadi ofensif -saat Perang Aru II dan Perang Aru III- setelah memperoleh sekutu yang kuat yakni Kesultanan Johor. Meskipun jalinan persekutuan telah dibentuk oleh Kesultanan Aru dengan sejumlah negeri, namun kejayaan akhirnya menjadi milik Kesultanan Aceh.

 

Kata kunci: ofensif; defensif; sekutu; Aru; Aceh

 

PENDAHULUAN

Secara eksplisit nama Aru disebut dalam berbagai sumber tertulis mancanegara maupun Nusantara setidaknya sejak akhir abad ke-13 M. Salah satu sumber mancanegara yang menyebut keberadaan Aru adalah Buku Sejarah Dinasti Yuan yang menyebut adanya perintah dari Kublai Khan pada 1282 M agar Aru tunduk pada dominasi Dinasti Yuan. Perintah itu akhirnya dijawab oleh Aru dengan pengiriman duta Aru sambil membawa upeti ke istana Dinasti Yuan pada tahun 1295 M. Pada tahun 1310 M, seorang Persia bernama Rasiduddin menyebut Aru sebagai salah satu kota utama di pesisir timurlaut Sumatera, di samping Perlak dan Tamiang (Milner, McKinnon, and Sinar 1978, 7). Berselang 55 tahun setelah pemberitaan oleh Rasiduddin tersebut, pada tahun 1365 M Prapañca menyebut satu nama tempat yakni Harw dalam canto ke-13 bait pertama baris ke-4 kakawin Dēśawarṇnana yang lebih dikenal sebagai Nāgarakṛtāgama (Pigeaud 1960, 12). Dalam canto ke-13 itu Prapañca menyebut Harw bersama nama-nama tempat lain di Pulau Sumatera antara lain Jāmbi (Jambi), Palembang (Palembang), Karitang (Keritang), Těba (Toba), Ḍarmmāçraya (Darmasraya), Kāmpe (Pulau Kampai), Maṇḍahiliṅ (Mandailing), dan Tumihaŋ (Tamiang). Harw yang disebut oleh Prapañca dalam karyanya tersebut tidak lain adalah Aru (Soedewo 2020, 87).

Keberadaan Aru sebagai suatu entitas di pantai timur Sumatera bagian utara juga dicatat oleh Ma Huan dalam karyanya yang diterbitkan pada tahun 1416 M dengan judul Ying-yai Shêng-lan (Survei Menyeluruh Pantai-pantai Samudera). Hal-hal yang diungkap dari catatan Ma Huan tentang Aru antara lain batas negerinya adalah Samudera di sisi baratnya, komoditas hasil negeri ini berupa kain katun, beras, bebijian, sapi, kambing, burung, bebek, susu yang diasamkan, kemenyan su, dan kemenyan chin-yin. Untuk sistem kepercayaan yang dianut di negeri ini, Ma Huan menyatakan bahwa raja dan rakyatnya adalah muslim (Mills 1970, 114–15).

Berselang duapuluh tahun dari karya Ma Huan tersebut, nama Aru juga disebut dalam Hsing-ch’a Shêng-lan.[i] Dalam karyanya itu Fei Hsin antara lain memerikan Aru sebagai suatu tempat yang dapat dicapai dari Malaka setelah mengarungi perairan selama 3 hari 3 malam. Untuk kehidupan sehari-hari masyarakatnya menangkap ikan di laut dan mengumpulkan beragam jenis hasil hutan. Dalam perniagaan mereka menjual burung bangau berjambul dan kamper pada para pedagang mancanegara. Sebaliknya mereka membeli kain sutera, gerabah, manik-manik kaca, dan berbagai barang lain. Moda transportasi air yang digunakan oleh masyarakat Aru adalah perahu yang dibuat dari sebatang pohon (Groeneveldt 1960, 95).

Selain dideskripsikan oleh para juru tulis dan juru bahasa dari masa Dinasti Ming (Ma Huan dan Fei Hsin), nama Aru juga disebut dalam Buku ke-325 Sejarah Dinasti Ming. Dalam historiografi resmi Dinasti Ming, letak Aru digambarkan dekat Malaka yang dapat ditempuh setelah pelayaran selama tiga hari. Pada tahun 1411 M datang utusan Aru ke istana Dinasti Ming atas perintah rajanya yang bernama Su-lu-tang Hut-sin.[ii] Berselang setahun dari kedatangan duta dari Aru, pada tahun 1412 M Cheng Ho datang ke Aru sebagai duta Maharaja Ming. Pada tahun 1419, 1421, dan 1423 M, Aru mengirim lagi dutanya ke istana Dinasti Ming atas perintah putera raja yang bernama Tu-an A-la-sa.[iii] Cheng Ho sekali lagi mengunjungi Aru pada tahun 1431 M sembari membawa hadiah bagi penguasa Aru. Setelah kunjungan Cheng Ho yang terakhir tersebut, Aru tidak pernah lagi mengirim utusannya ke istana Ming (Groeneveldt 1960, 95–6).

 

Map

Description automatically generated

Gambar 1. Peta karya Ortellius (1570) yang menyebut nama Teradaru

(Sumber: Suárez 1999, 165)

Selain data tertulis, setidaknya terdapat dua data piktorial yang menyebut nama mirip dengan Aru dalam peta-peta abad ke-16 M yakni Teradaru dan Isola Daru. Dalam peta tahun 1570 karya Ortelius letak Teradaru dan Isola Daru berada di selatan Timiam serta Campar dan di utara dari Camper serta Andragui (lihat Gambar 1). Dalam peta karya Willem Lodewijks yang berangka tahun 1598 M, Isola Daru dan Teradaru berada di selatan dari Pacem serta Ambara, dan di utara dari Tanjam (lihat Gambar 2). Dua nama tempat yang di­sebut dalam kedua peta dari abad ke-16 M tersebut, yakni  Teradaru dan Isola Daru adalah dua tempat yang letaknya agak berjauhan, terpaut jarak sekitar 70 km. Teradaru secara harfiah berarti Aru Darat, sedangkan Isola Daru secara harfiah berarti Aru Pulau. Kedua nama tempat di pantai timur Sumatera Utara itu boleh ditempatkan di dua lokasi berbeda. Untuk Aru Pulau (Isola Daru) lokasinya diperkirakan berada di kawasan Teluk Aru di wilayah Kabupaten Langkat saat ini, sementara Aru Darat (Teradaru) lokasinya kemungkinan berada di aliran Sungai Deli. Analogi yang bersesuaian dengan penempatan Aru di kawasan Teluk Aru adalah penamaan Kesultanan Deli yang melekat pada satu bentang alam yang merekam jejak keberadaannya yakni Sungai Deli. Kiranya demikian juga keberadaan Kerajaan Aru tentu berada di bentang alam yang juga merekam eksistensinya, dalam hal ini bentang geografis itu adalah Teluk Aru. Jika pandangan itu bisa diterima maka wilayah kekuasaan Aru juga meliputi kawasan yang saat ini merupakan bagian dari Teluk Aru. Artinya, bentang wilayah kekuasaan Aru setidaknya meliputi bentang antara Teluk Aru di utara hingga Sungai Deli di selatan.

Terkait lokasi tepat Aru atau Haru, para pakar masih belum sepakat. Sir Richard Winstedt menggunakan Aru dan Deli (nama satu kerajaan pasca tahun 1600an, termasuk di dalam wilayahnya adalah kawasan situs Kota Cina) secara bergantian untuk menyebut nama satu tempat dalam karyanya A History of Malaya; sementara Encyclopoedia van Nederlandsch-Indie mengusulkan Teluk Aru yang terletak sekitar 70 km arah utara dari Kota Cina sebagai tempat kedudukan Aru. Adapun pandangan G. R. Tibbets adalah yang paling ekstrim, sebab meletakkan Aru di muara Sungai Panai, yang terletak sekitar 200 km arah selatan dari Kota Cina (Milner 1978 dalam Soedewo 2020, 90).

Map

Description automatically generated

Gambar 2. Peta karya Willem Lodewijks (1598) yg menyebut nama Teradaru & Isola Daru (sumber: Suárez 1999, 180)

Pendapat Winstedt tampaknya lebih didukung oleh bukti-bukti yang tersedia, antara lain lewat catatan Ma Huan.[iv] Ma Huan menyebut Samudera (Pasai) sebagai tetangga Aru di bagian barat, dan mencatat bahwa pegunungan besar tampak berada di selatannya. Sebaliknya, di Panai pegunungan tidak langsung terlihat di sisi selatannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa  catatan Ma Huan lebih menggambaran kawasan pantai antara Tamiang dan Deli, di mana jajaran Pegunungan Bukit Barisan dapat terlihat langsung dari laut. Sejalan dengan Ma Huan, Fei Hsin yang juga turut dalam penjelajahan Cheng Ho menyatakan bahwa Aru berada di arah berlawanan dari Kepulauan Sembilan yang terletak di pantai Perak (Malaysia). Gambaran itu sekali lagi menunjukkan bahwa Deli sesuai sebagai lokasi dari Aru. Peta Wu-pei-chih yang berasal dari abad ke-15 M, juga menegaskan alasan lain untuk mengaitkan Kota Cina dengan Aru. Petunjuk terakhir sebagai bukti bahwa Kota Cina adalah bagian dari Aru terdapat dalam “Sejarah Melayu” (The Malay Annals). Dalam sumber tertulis itu disebutkan bahwa perdana menteri Aru yakni Raja Pahlawan, adalah raja yang berasal dari Serbanyaman, nama salah satu suku dari empat suku di Deli pada abad ke-19 M (Milner 1978 dalam Soedewo 2020, 90–1).

Milner, McKinnon, and Sinar (1978), menyimpulkan Kota Cina adalah bandar atau pelabuhan Aru, tempat dikumpulkannya berbagai barang sebelum disebarkan ke berbagai tempat di pedalaman. Pada abad ke-14 M Kota Cina tidak lagi berfungsi sebagaimana masa sebelumnya, yang dibuktikan oleh ketiadaan artefak-artefak dari masa yang lebih muda dari abad ke-14 M. Penyebab ditinggalkannya Kota Cina tampaknya terkait dengan serangan dari luar, kemungkinan dari Jawa (Majapahit) atau dari pelabuhan saingan Kota Cina seperti Samudera yang makin menunjukkan perannya di akhir abad ke-13 M (Milner 1978 dalam Soedewo 2020, 91).

Penguasaan Malaka oleh Portugis sejak 1511 adalah ancaman nyata bagi pelayaran dan perdagangan di Kepulauan Nusantara khususnya, dan jalur perniagaan antara India hingga Cina secara umum (Vlekke 2016, 88). Sejak itu perlawanan dari sejumlah kerajaan di Nusantara terhadap kekuasaan Portugis datang silih berganti. Diawali oleh satu serangan oleh armada koalisi Jawa dan Palembang yang dipimpin oleh Pate Unus terhadap Malaka di tahun 1512. Pires (Cortesao 1967, 185–86) mencatat pasukan koalisi Jawa dan Palembang mengalami kekalahan yang parah sehingga hanya menyisakan 5 atau 6 perahu pangajawa yang dapat kembali ke Demak. Secara tersirat Pires (Cortesao 1967, 186) menyatakan bahwa dampak dari hancurnya armada Demak di Malaka itu adalah menghilangnya perahu-perahu Jawa yang biasanya mengangkut beragam muatan di kawasan Selat Malaka. Kekosongan perahu-perahu dari Jawa itu kemudian diisi oleh perahu-perahu dagang dari mancanegara antara lain dari Gujarat (India barat), Keling (India sealatan), Teluk Benggala (India timurlaut), dan Cina.

Dalam situasi Selat Malaka yang tidak kondusif pasca penguasaan Malaka oleh Portugis di tahun 1511 serta serangan ke Malaka oleh koalisi Jawa dan Palembang di tahun 1512, di bagian utara Pulau Sumatera muncul kekuatan baru yakni Aceh yang menjadi ancaman terus-menerus terhadap keberadaan Portugis di Malaka. Pires (2014) menggambarkan Aceh sebagai negeri penghasil lada dalam kuantitas yang sedikit bila dibanding negeri-negeri tetangganya seperti Pedir yang mampu menghasilkan lada antara 2000 – 3000 bahar per tahun, dan Pasai yang mampu menghasilkan 8000 – 10.000 bahar merica per tahunnya. Negeri ini memiliki armada yang terdiri dari 30 – 40 lanchara, yang digunakan antara lain untuk melakukan pembajakan di Selat Malaka (Pires 2014, 197–204). Di tengah kekacauan yang melanda kawasan Samudera Hindia akibat penguasaan Goa dan Malaka oleh Portugis itulah Aceh mulai menapaki tangga kejayaannya.

Bila Aceh semula hanya negeri perompak yang mengganggu pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka, namun memasuki dasawarsa kedua abad ke-16 M Aceh telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi negeri-negeri tetangganya di Pulau Sumatera. Memasuki dasawarsa ketiga abad ke-16 M, ancaman itu telah berganti menjadi bahaya nyata bagi negeri-negeri di pantai timur Sumatera bagian utara. Pada masa Aceh dipimpin oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Al-Kahar (1537 – 1571), kesultanan ini menyerang negeri-negeri tetangganya seperti, Batak, Aru, dan Barus (Soedjono and Leirissa 2009, 30).

Penguasaan Kesultanan Aceh atas negeri-negeri tetangganya dilakukan melalui pengerahan kekuatan bersenjata. Bisa dipastikan, sebelum memulai tindakan militer, Kesultanan Aceh tentu sudah mempersiapkan secara baik segala perangkat yang diperlukan untuk berperang. Ketika pihak penyerang telah mempersiapkan segala keperluan untuk berperang, bagaimana halnya dengan pihak yang diserang. Salah satu negeri yang diserang oleh Kesultanan Aceh adalah Kesultanan Aru.

Permasalahannya adalah langkah-langkah strategis apa yang ditempuh oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi agresi Kesultanan Aceh ? Penjelasan tentang tindakan yang ditempuh oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi Kesultanan Aceh bertujuan mengungkap pilihan strategi yang diterapkan oleh Kesultanan Aru dalam menghadapi agresi dari luar.

Di setiap peperangan, selalu terdapat dua pihak yang saling berhadapan yakni pihak yang menyerang (ofensif) dan pihak yang diserang/ bertahan (defensif). Ofensif adalah tindakan yang bertujuan menundukkan kekuatan musuh, menguasai dan mengendalikan wilayah musuh. Sebaliknya posisi bertahan (defensif) adalah tindakan yang bertujuan mencegah pihak penyerang (ofensif) menguasai wilayah yang dimiliki dari musuh (Department of the Army 2018).

Untuk menjelaskan bagaimana strategi pihak yang bertikai khususnya langkah-langkah yang diambil oleh pihak yang diserang, digunakan sejumlah konsep terkait politik dan potensi kekuatan. Meskipun konsep-konsep itu berasal dari masa yang lebih tua dan lebih muda dari abad ke-16 M, namun tetap relevan untuk diaplikasikan dalam kajian ini. Salah satu pandangan berkenaan dengan tindak politik adalah pendapat Kautilya yang meliputi 4 hal dasar, yakni (Liebig 2014, 6):

1.     Sāman (persahabatan, kerjasama)

2.     Dāna (hadiah, suap)

3.     Bheda (memecah belah / divide et impera)

4.     Daṇḍa (penggunaan/pengerahan kekuatan)

Hasil akhir dari konflik kepentingan antara negara sahabat dan negara musuh akan ditentukan oleh faktor terakhir (keempat), yakni kekuatan (daṇḍa). Menurut Kautilya kekuatan (daṇḍa) terbentuk atas 7 prakṛti (elemen negara), sehingga dikenal sebagai konsep saptāṅga, yang terdiri dari (Liebig 2014: 8 – 10) :

1.    Svāmin (Raja, Pemimpin)

2.    Amātya (menteri, unsur pemerintahan dan administrasi)

3.    Janapada (rakyat)

4.    Durga (benteng pertahanan)

5.    Kośa (kekayaan, ekonomi)

6.    Daṇḍa (pasukan bersenjata)

7.    Mitra (sekutu)

Dalam hubungan dengan pihak luar, Kautilya menjabarkannya dalam enam prinsip yakni (Liebig 2014, 10–1):

1.    Saṃdhi (perdamaian), kondisi ini berlaku manakala negera pesaing lebih kuat dibanding negeri sendiri.

2.    Vigraha (perang), kondisi ini berlaku ketika negara pesaing dalam keadaan lemah dibanding negeri sendiri.

3.    Āsana (netral), kondisi ini berlaku bila kekuatan antarnegara berimbang.

4.    Yāna (persiapan perang, tekanan diplomatik), kondisi ini berlaku bilamana salah satu kekuatan makin kuat dibanding negara pesaing.

5.    Saṃśraya (membentuk persekutuan), kondisi ini berlaku ketika kekuatan negara pesaing tumbuh lebih cepat dibanding negeri sendiri.

6.    Dvaidhībhāva (permainan diplomasi ganda), kondisi yang berlaku bila konstelasi antara sekutu dan musuh sangat cair.

Aru adalah satu negeri yang memiliki batas daratan dan perairan dengan negeri-negeri lain. Letak Aru yang berada di kawasan Selat Malaka, menjadikan negeri ini memiliki posisi strategis bagi pelayaran dan perniagaan di kawasan selat tersebut. Mahan (1890, 29–58) menyebutkan adanya 6 unsur utama yang menjadi syarat bagi suatu entitas agar menjadi satu kekuatan laut, yakni:

1.     Posisi geografis: suatu negeri yang memiliki akses langsung dengan laut memiliki keuntungan secara militer maupun komersial, dibanding negeri kontinental. Secara komersial negeri yang memiliki akses langsung dengan laut memiliki keuntungan dibanding negeri kontinental, sebab akses langsung dengan laut memberi kemudahan untuk terhubung dengan perniagaan lintas lautan maupun samudera.

2.     Bentuk lahan: suatu negeri yang memiliki pantai-pantai terbuka dan potensial berkembang sebagai pelabuhan, memiliki keuntungan komersial dibanding negeri yang memiliki garis pantai namun kurang layak untuk berkembang sebagai suatu pelabuhan. Namun dalam kondisi lain, ditinjau secara militer suatu negeri dengan banyak pantai terbuka akan lebih mudah diserang oleh pihak-pihak yang bermusuhan.

3.     Luas wilayah kekuasaan: banyaknya pelabuhan di garis pantai yang dikuasai serta karakter dari pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki adalah potensi sekaligus kelemahan bagi suatu negeri.

4.     Jumlah populasi: di luar ketiga faktor alami tersebut, yang tidak kalah penting adalah berapa banyak penduduk yang mendiami kawasan yang dikuasai. Lebih penting dari banyaknya penduduk adalah jumlah populasi yang memiliki kemampuan mengarungi lautan. Dalam kalimat lain adalah seberapa banyak dari total populasi yang siap dipekerjakan di armada komersial maupun militer yang dimiliki, adalah lebih penting dibanding jumlah populasinya. Singkatnya masyarakat yang berkarakter kebaharian adalah faktor penting bagi negeri yang memiliki akses langsung dengan laut.

5.      Karakter penghuni: sifat khas atau karakter anak negeri yang mendiami suatu negeri bahari adalah faktor penting lain yang ikut menentukan apakah suatu negeri bisa menjadi kekuatan bahari. Karakter itu tidak hanya meliputi keberanian dalam mengarungi lautan saja namun tidak kalah penting juga adalah kemampuan mereka untuk menghasilkan suatu produk untuk diperdagangkan.

6.      Karakter dan kebijakan pemerintah: konsistensi kebijakan pemerintah yang berkuasa dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi lautan akan meningkatkan jangkauan perniagaan lintas laut/samudera dan kekuatan armada lautnya.

 

METODE

Dalam ilmu sejarah alur metodologi kajian sejarah diawali dengan (1) kajian heuristik, (2) kritik sumber, (3) interpretasi, dan (4) hingga historiografi (Madjid and Wahyudi 2014, 219–36). Tahapan pertama dalam kajian sejarah ini adalah mengumpulkan sumber sejarah dalam bentuk catatan, kesaksian, dan fakta-fakta lain yang menggambarkan suatu peristiwa berkenaan dengan kehidupan manusia. Data primer yang digunakan dalam kajian ini terutama adalah sumber-sumber tertulis dari abad ke-16 M. Data primer dimaksud berasal dari catatan 2 orang bangsa Portugis yakni Tomé Pires dan Ferna-O Mendes Pinto. Catatan Pires berasal dari masa yang lebih awal dibanding catatan yang dibuat oleh Pinto. Catatan Pires menggambarkan kondisi Sumatera di masa awal setelah penaklukan Malaka di tahun 1511 M, sementara catatan Pinto berasal dari pertengahan abad ke-16 M. Hanya catatan-catatan berkenaan langsung dengan konflik antara Kesultanan Aru dan Aceh yang akan dijadikan data dan diulas dalam artikel ini. Deskripsi nama-nama tempat yang termuat dalam catatan Pires dan Pinto tersebut, digunakan untuk identifikasi nama-nama tempat di kawasan antara Aceh hingga Sumatera Utara, yang diduga sebagai ajang konflik antara Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Aru.

Untuk menunjang identifikasi nama-nama tempat dalam sumber tertulis maka dalam kajian ini juga digunakan sejumlah peta. Peta-peta yang digunakan adalah peta kuno yang sezaman dengan data primer (abad ke-16 M), maupun peta yang berasal dari masa yang lebih muda. Digunakannya peta dari masa yang lebih muda, disebabkan oleh minimnya nama-nama tempat yang tercantum di peta-peta lama. Toponim-toponim yang terdapat di peta baru memungkinkan diungkapnya nama-nama lokasi yang disebut oleh terdapat dalam data primer.

Identifikasi toponim yang ada dalam peta dengan nama tempat dalam catatan-catatan Portugis sekaligus menjadi tahapan kedua dalam alur kajian historis ini yakni kritik sumber. Tahap ini merupakan langkah verifikasi sumber untuk menguji kedua data primer yang digunakan dalam kajian ini. Bila, nama-nama tempat yang disebutkan oleh salah satu maupun kedua data primer tidak memiliki kemiripan dengan toponim-toponim yang tertera di peta lama maupun baru, maka bisa dianggap data itu hanya karangan belaka.

Tahapan ketiga dalam kajian historis ini adalah interpretasi terhadap fakta-fakta historis yang terkumpul sehingga dapat terbentuk narasi tentang perang antara Kesultanan Aru melawan Kesultanan Aceh di abad ke-16 M. Hasil interpretasi terhadap kumpulan fakta tentang peperangan antara Kesultanan Aru dengan Kesultanan Aceh akan menghasilkan historiografi mengenai konflik dua kekuatan di Sumatera bagian utara.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Catatan Tomé Pires tentang Aru yang dimuat dalam karyanya berjudul Suma Oriental (ditulis antara 1512 – 1515 M), memberi kesan bahwa Aru adalah  kerajaan besar, bahkan yang terbesar di Pulau Sumatera. Negeri Aru digambarkan Pires sebagai negeri yang banyak dialiri sungai, sehingga banyak rawa-rawa yang menjadikan negeri ini sulit dimasuki. Aru memiliki armada lanchara yang digunakan oleh hulubalang dan rakyatnya merompak di lautan. Sebagian hasil jarahan di laut itu masuk ke kas kerajaan, sebab raja turut andil membiayai armada lanchara itu (Cortesao 1967, 146–48).

Pires mencatat bahwa Aru telah bermusuhan dengan Malaka, bahkan sejak Malaka pertama kali didirikan. Aru kerap melakukan penjarahan di kampung-kampung pesisir Malaka, mereka tidak hanya menjarah harta benda, lebih jauh mereka bahkan menawan para nelayan yang berdiam di kampung-kampung itu (Cortesao 1967: 147). Permusuhan antara Malaka dan Aru (Haru) juga dimuat dalam Sejarah Melayu yang mengisahkan pertempuran di perairan Tanjung Tuan[v] antara armada Aru melawan armada Malaka yang akhirnya dimenangkan oleh armada Malaka (Winstedt 1938, 145–47). Meskipun berhasil mengalahkan armada Aru di perairan dekat Malaka, namun Malaka tidak pernah menaklukkan Aru.

Kontak pertama antara Aru dengan Portugis di Malaka terjadi pada akhir Juni 1539 M.[vi] Kedatangan utusan Kesultanan Aru ke Malaka adalah permohonan bantuan militer pada Portugis untuk menghadapi pasukan Aceh yang akan menyerang Aru (Pinto 1897, 30). Kunjungan balasan Portugis -di Malaka- ke Kesultanan Aru baru terjadi pada 5 Oktober 1539 M, ketika Pinto sebagai duta Portugis bertolak dari Malaka menggunakan satu kapal lanchara dengan muatan untuk Aru antara lain 15 kuintal bubuk mesiu, ratusan butir granat, 150 peluru meriam, 12 senapan arquebus, dan beragam jenis kain dan pakaian (Pinto 1897, 50).

Perang antara Kesultanan Aru melawan invasi Kesultanan Aceh terbagi menjadi 4 babak (episode) yang boleh disebut sebagai Perang Aru I (Pertama), Perang Aru II (Kedua), Perang Aru III (Ketiga), dan Perang Aru IV (Keempat). Perang Aru I (Pertama) terjadi pada 1539 M, ketika pasukan Aceh berhasil menaklukkan pertahanan dan pusat Kesultanan Aru yang berada di tepian Sungai Panetican.[vii] Perang Aru Kedua terjadi ketika pasukan gabungan Kesultanan Johor dan sisa-sisa pasukan Aru berhasil mengalahkan dan menduduki kembali pertahanan dan pusat Kesultanan Aru yang berada di tepian Sungai Panetican. Perang Aru Ketiga terjadi ketika pasukan Aceh berusaha merebut kembali pertahanan dan pusat Kesultanan Aru yang berada di tepian Sungai Panetican, namun gagal. Perang Aru Keempat adalah perang yang terakhir antara koalisi Aru dan Johor melawan Kesultanan Aceh. Perang terakhir ini terjadi pada tahun 1574 ketika pasukan Aceh menaklukkan Kesultanan Johor dan berhasil menawan raja, permaisuri, dan putera Sultan Johor ke pusat Kesultanan Aceh. Sejak tahun itu Kesultanan Aru mutlak dikuasai dan menjadi bagian dari Kesultanan Aceh.

Babak pertama Perang Aru digambarkan oleh Pinto tentang kesibukan Aru membuat kubu-kubu pertahanan di kedua sisi Sungai Panetican[viii] di mana ibukota Aru berada. Begitu turun dari perahu yang dinaikinya, Pinto melihat langsung parit pertahanan di sekeliling ibukota Aru, yang terletak kira-kira 1 km ke hulu dari perkubuan itu (Pinto 1897, 51–2). Pinto memerikan kekuatan Aru yang terdiri dari 6000 orang prajurit, 40 pucuk meriam kecil, dan sepucuk meriam besar yang dibeli dari seorang pelarian Portugis di Pasai bernama Antonio de Garcia. Selain kekuatan pasukan dan persenjataan yang dilihatnya sendiri, Pinto juga mendapat informasi dari Raja Aru bahwa dia masih memiliki 40 pucuk senapan musket, 26 ekor gajah perang, satu kesatuan kavaleri yang terdiri dari 50 pasukan berkuda, dan 11.000 – 12000 pucuk tombak kayu yang telah diolesi racun, yang dicadangkan untuk mempertahankan kompleks istana (Pinto 1897, 52).

Sehari setelah kedatangan Pinto di ibukota Aru, terdengar kabar bahwa pasukan Aceh diperkirakan akan sampai ke pusat Aru paling lambat 8 hari kemudian (Pinto 1897, 53). Menyadari ancaman kian mendekat, Raja Aru memerintahkan pengungsian seluruh wanita dan mereka yang tidak sanggup bertempur ke satu tempat di hutan yang berjarak 5 hingga 6 leagues jauhnya. Di antara para pengungsi itu terdapat permaisuri Raja Aru yang menunggangi seekor gajah menuju tempat pengungsiannya (Pinto 1897, 53).

Kekuatan pasukan Aceh yang menyerang Aru dipimpin oleh Heredin Mahomet,[ix] seorang raja bawahan Aceh di Barus, sekaligus ipar Sultan Aceh. Pasukan ini berangkat ke Aru diangkut oleh satu armada yang terdiri dari 103 moda transportasi air yang terdiri dari beragam jenis kapal perang seperti lanchara,[x] galley,[xi] dan calalus[xii] dari Jawa, serta diperkuat dengan 15 kapal pengangkut besar yang memuat amunisi dan bahan makanan. Dalam armada besar itu terdapat sekitar 20.000 pasukan yang terdiri dari 12.000 prajurit tempur, dan 8.000 selebihnya adalah pelaut dan pioneer.[xiii] Di antara pasukan sebesar itu terdapat sekitar 4.000 orang asing yang berasal dari Turki, Abissinia (Ethiopia), Malabar, Gujarat, dan orang-orang Luson dari Pulau Kalimantan (Pinto 1897, 62). Pemimpin legiun asing itu adalah seorang Abbissinia bernama Mamedecan[xiv] (Pinto 1897, 63).

Serangan awal pasukan Aceh diawali dengan tembakan meriam yang tertuju pada kubu-kubu pertahanan dan permukiman Aru di kedua tepi sungai. Gempuran meriam-meriam pasukan Aceh itu berlangsung selama 6 hari lamanya. Gempuran meriam-meriam Aceh itu akhirnya membuahkan hasil, sehingga panglima pasukan Aceh memutuskan untuk mendaratkan pasukannya beserta 12 pucuk meriam besar. Meriam-meriam itu menghujani salah satu dari kubu-kubu pertahanan Aru yang terletak di tepi sungai, hingga salah satu kubu pertahanan itu akhirnya berhasil dibobol pasukan Aceh. Melihat terbukanya salah satu kubu pertahanan Aru, panglima legiun asing Aceh Mamedecan memerintahkan pasukannya menyerang benteng utama Aru. Merasa di atas angin, Mamedecan bersama 60 orang Turki, 40 Janissari, dan beberapa muslim Malabar menancapkan 5 panji-panji mereka di atas benteng. Menyadari kondisi pusat kerajaannya di ujung tanduk, Raja Aru mengobarkan semangat pasukannya untuk menyerbu posisi legiun asing Aceh. Serbuan pasukan Aru akhirnya berhasil mengalahkan legiun asing Aceh, dan mengakibatkan gugurnya Mamedecan beserta para prajurit asing yang sempat menduduki benteng Aru. Memanfaatkan kondisi yang menguntungkan pihakya, Raja Aru meneruskan serangannya ke posisi pasukan Aceh yang berada di luar benteng. Hasil pertempuran awal ini menguntungkan pihak Aru, selain berhasil memukul mundur pasukan  pendarat Aceh, pihak Aru juga berhasil merampas 8 pucuk meriam Aceh (Pinto 1897: 63).

Setelah kegagalan di serangan pertama itu, pengepungan pasukan Aceh terhadap benteng Aru terus berlangsung dan makin mengetat. Dalam tujuhbelas hari pengepungan terhadap benteng Aru, pasukan Aceh paling tidak melakukan sembilan kali penyerbuan. Pada kesempatan itu, pasukan Turki telah menggali terowongan-terowongan tepat di bawah perbentengan Aru untuk meletakkan bahan peledak di bawah perbentengan Aru. Akibat ledakan yang dibuat pasukan Turki, dua kubu utama Aru yang berada di sisi selatan hancur, sehingga pasukan Aceh berhasil menerobos masuk ke pertahanan ibukota Aru. Dalam pertempuran di dalam benteng pasukan Aceh masih menghadapi perlawanan sengit dari pasukan Aru yang dipimpin langsung oleh rajanya. Akibat pertempuran sengit yang terjadi di areal dalam benteng, sebanyak 2500 prajurit Aceh gugur, sementara kerugian di pihak Aru sebanyak 400 prajuritnya gugur. Meskipun jumlah prajurit Aru yang gugur lebih sedikit dibanding pasukan Aceh, tapi itu merupakan kerugian yang sangat besar bagi Aru, mengingat jumlah mereka yang lebih sedikit dibanding pasukan Aceh. Melihat jumlah pasukannya makin menipis, Raja Aru memerintahkan pengunduran pasukannya ke pertahanan di bagian dalam istana (Pinto 1897, 65).

Kekalahan Aru dari serangan Aceh selain disebabkan oleh lebih banyaknya jumlah pasukan dan lengkapnya persenjataan pasukan Aceh, Pinto melihat pengkhianatan sebagai faktor yang menentukan atas kekalahan pasukan Aru. Dalam catatannya Pinto menyebut pengkhianatan seorang Cacis[xv] yang memimpin 500 orang prajurit Aru. Cacis ini mempunyai tugas strategis yakni mempertahankan sebagian benteng, di saat pasukan Aru menyongsong pasukan Aceh yang menerobos sisi benteng yang lain.  Cacis Aru ini tega meninggalkan posisi pertahanannya karena dia telah disuap oleh mata-mata Aceh dengan emas senilai 40.000 ducat.[xvi] Posisi pasukan Aru di bagian benteng yang ditinggalkan oleh pasukan Aru dibawah pimpinan Cacis Aru, kemudian segera diduduki oleh legiun asing Aceh yang tediri dari orang-orang Malabar dan Gujarat yang dipimpin oleh seorang muslim dari Malabar bernama Cutiale Marcaa. Naas bagi Raja Aru, dalam pengunduran dirinya ke dalam kompleks istana, dirinya ditembak oleh seorang prajurit Turki yang menggunakan senapan arquebuse. Akibat tembakan yang mengenai dadanya, Raja Aru gugur di tempat. Kehilangan pemimpin berakibat pada kekacauan pada barisan pasukan Aru hingga mereka akhirnya ditaklukkan pasukan Aceh (Pinto 1897, 65).

          Mengenai nasib permaisuri Raja Aru, Pinto (1897, 66–7) menyebut keberadaannya di suatu tempat berjarak 7 league[xvii] dari ibukota Aru. Ketika mendengar kematian suaminya, semula dia akan melakukan bunuh diri, namun, berhasil dicegah oleh para pengawal dan pengiringnya. Ketika kesedihan permaisuri berganti menjadi kemurkaan, dia bergegas menunggangi gajahnya dengan diiring oleh sekitar 700 prajurit, menuju ibukota Aru untuk menyerang pasukan pendudukan Aceh yang berdiam di sana. Meskipun serangan sisa-sisa pasukan Aru yang dipimpin oleh sang permaisuri berhasil menewaskan ratusan pasukan Aceh dan menguasai kembali ibukota Aru. Namun dia menyadari tidak akan sanggup mempertahankan ibukota, bila Aceh kembali menyerang. Akhirnya dia meninggalkan Aru bersama para pengikutnya yang tersisa menggunakan 16 perahu nelayan, melalui sungai Minhacumbaa menuju Selat Malaka untuk mencari bantuan dari Portugis yang berkuasa di Malaka (Pinto 1897, 67).

A close up of a map

Description automatically generated

Gambar 3. Penyerangan Aceh atas Aru

(Sumber: maphub dimodifikasi oleh Andri Restyadi)

Bantuan yang diharap oleh janda Raja Aru akan didapat dari Portugis di Malaka tidak mendapat balasan sebagaimana yang diharapkannya (Pinto 1897, 69–70). Hingga dia meninggalkan Malaka menuju Johor untuk meminta bantuan dari mantan penguasa Malaka untuk mengusir Aceh dari Aru. Sultan Jantana[xviii] menyanggupinya dan kemudian mengumpulkan dewan perangnya di Pulau Compar[xix] pada bulan Ramadhan.[xx] Sebelum menyerang, Sultan Johor mengirim dutanya ke istana Sultan Aceh, namun perang tidak terelakkan juga. Setelah upaya diplomasi gagal, Sultan Johor akhirnya memberangkatkan pasukan dari Johor menyerang Aru yang diduduki Aceh. Dipimpin oleh seorang Laque Xemena (Laksamana) pasukannya berlayar dalam satu armada yang terdiri dari beragam jenis perahu seperti lanchara, calalus, dan junk. Armada penyerang dari Johor itu mengangkut pasukan sebanyak 2000 prajurit dan 4000 pelaut serta para budak pendayung. Pasukan dari Johor ini akhirnya berhasil mendarat di tepi Sungai Panetican dekat dengan perkubuan pasukan Aceh (Pinto 1897, 71–3). Saat pendaratan pasukan dari Johor di perkubuan dekat Sungai Panetican inilah Perang Aru II bermula.

Tanpa banyak membuang waktu, Laksamana memerintahkan serangan terhadap benteng di tepi Sungai Panetican yang dikuasai Aceh. Serangan awal pasukan Johor dimulai dengan para pioneer yang mencoba membuat lubang di bawah benteng sekaligus meletakkan tangga-tangga di bagian lain benteng, namun siasat itu gagal. Setelah kegagalan serangan awal itu, pasukan Johor mengubah taktik serangan mereka dengan membombardir -benteng Aru yang diduduki pasukan Aceh- menggunakan 400 pucuk meriam selama 7 hari nyaris tanpa henti. Alhasil, benteng itu akhirnya berhasil ditembus sehingga berhamburlah pasukan Johor menyerbu ke bagian dalam benteng. Pertempuran yang terjadi akhirnya dimenangkan oleh para penyerbu dari Johor, yang mengakibatkan tewasnya 140 orang prajurit Aceh dan 400 orang prajurit Turki beserta panglimanya seorang kemenakan Pasha Kairo yang bernama Mora do Arraiz (Pinto 1897, 73). Perang Aru II ini, diperkirakan berlangsung selepas bulan Ramadhan kemungkinan di akhir bulan Syawal atau awal bulan Dzulqa’idah 946 H (bertepatan dengan akhir Maret 1540 M). Hasil Perang Aru II adalah kemenangan pihak Aru yang dibantu oleh Johor atas pihak Aceh.

Penguasaan kembali benteng Aru di tepi Sungai Panetican oleh pasukan gabungan Johor dan Aru ditanggapi oleh Sultan Aceh dengan mengirimkan satu armada yang terdiri dari 140 kapal beragam jenis. Armada itu mengangkat pasukan 15.000 orang terdiri dari 12.000 prajurit dan selebihnya adalah pelaut. Dipimpin lagi oleh Heredin Mahomet -panglima Aceh saat Perang Aru I- armada ini akhirnya tiba di suatu tempat bernama Aupessumhee yang berjarak sekitar 4 leagues dari Sungai Panetican. Di pihak lain, setelah berhasil mengalahkan pasukan Aceh di benteng Aru, Laksamana Johor memerintahkan perbaikan kubu-kubu pertahanan yang baru saja mereka duduki, sebelum datangnya serangan balik dari Aceh (Pinto 1897, 73–4).

Perang Aru III akhirnya pecah ketika armada Aceh yang sedang menyusuri Sungai Panetican disergap oleh armada Johor-Aru yang didukung oleh pasukan yang baru tiba dari Perak, Johor, dan Saca.[xxi] Pertempuran yang terjadi melibatkan bombardir meriam antarpasukan hingga pertarungan langsung di atas kapal. Hingga pada satu kesempatan meriam dari armada Johor-Aru menghantam kapal Hereddin Mahomet, yang berakibat pada gugurnya panglima Aceh itu. Sepeninggal Hereddin Mahomet, armada Aceh dilanda kekacauan, hingga mereka mengundurkan diri ke suatu tempat bernama Baroquirin untuk menyusun pertahanan di tempat ini. Namun rencana ini gagal akibat kuatnya arus Sungai Panetican, sehingga kapal-kapal Aceh tercerai-berai. Kekacauan akibat ketidakmampuan armada Aceh membaca kuatnya arus Sungai Panetican, kemudian dimanfaatkan oleh armada Aru-Johor untuk menghancurkan kekuatan pihak Aceh. Kekalahan armada Aceh dalam Perang Aru III ini telah mereduksi kekuatan laut mereka, sebagian besar kapal Aceh dihancurkan atau dirampas Aru, sehingga hanya 14 kapal Aceh yang berhasil kembali ke Aceh (Pinto 1897, 74–5). Tidak diketahui secara pasti kapan Perang Aru III berlangsung, sebab Pinto tidak menyebut secara eksplisit terjadinya pertempuran antara pasukan Aceh melawan pasukan Aru-Johor. Namun, secara tersirat Pinto menyebut, serangan Aceh yang kedua terhadap Aru terjadi tidak lama setelah Sultan Aceh mendengar Sultan Johor memberangkatkan armadanya menuju Aru. Hal tersebut berarti Perang Aru III berlangsung tidak lama setelah armada Johor berhasil menduduki kembali benteng Aru di tepi Sungai Panetican (Perang Aru II) yang terjadi sekitar akhir bulan Syawal atau awal bulan Dzulqa’idah 946 H (bertepatan dengan akhir Maret 1540 M). Jadi Perang Aru III kemungkinan terjadi sekitar bulan April – Mei 1540 M.

Perang Aru IV adalah perang terakhir dalam serangkaian peperangan antara Kesultanan Aceh di satu pihak dengan Kesultanan Aru di lain pihak yang bersekutu dengan Kesultanan Johor. Perang Aru IV tidak terjadi di perbentengan di tepi Sungai Panetican, namun di Pulau Johor. Meskipun tidak berlangsung di perbentengan Aru, namun hasil perang di Jantana (Johor) ini mengakhiri untuk selamanya keberadaan Kesultanan Aru sebagai salah satu entitas sosio-politik di Nusantara. Jatuhnya Aru dalam Perang Aru terakhir (Perang Aru IV) terjadi pada tahun 1574 M, ketika armada Aceh yang terdiri dari sekitar 200 kapal menyerang sekutu Aru yakni Kesultanan Johor. Siasat Aceh menaklukkan sekutu Aru adalah dengan cara melakukan serangan mengecoh ke Patava, padahal target utamanya adalah Pulau Johor (Pinto 1897, 76).

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Aru adalah satu kerajaan yang cukup berpengaruh di kawasan Selat Malaka. Tampilnya Kesultanan Aru sebagai pemain penting dalam pelayaran dan perniagaan di kawasan Selat Malaka tidak terlepas dari potensi yang dimilikinya. Letak Aru yang berada di sisi barat Selat Malaka, menjadikan kerajaan ini terhubung langsung dalam jaringan interaksi global. Wilayah kekuasaan Kesultanan Aru diperkirakan berada di daerah yang terentang antara Teluk Aru (Langkat) hingga kawasan daerah aliran Sungai Deli. Lahan yang terbentang sepanjang kurang lebih 70 km dari utara ke selatan itu didominasi oleh kawasan pesisir landai yang terbuka untuk perniagaan bagi pihak mana pun yang berniat mencari keuntungan. Termasuk juga pihak yang berkeinginan untuk menguasainya. berada di suatu daerah yang bersentuhan langsung dengan kawasan bahari, telah membentuk karakter masyarakat Aru sebagai pelaut yang handal. Mereka adalah pelaut pemberani yang memiliki cukup nyali untuk menyerang wilayah Kesultanan Malaka. Karakter kebaharian masyarakat Aru senyawa dengan karakter dan kebijakan pemerintahan negeri ini. Interaksi Kesultanan Aru dengan Tiongkok lewat pengiriman duta ke istana Kemaharajaan Ming pada abad ke-15 M, adalah bukti bahwa Kesultanan Aru adalah negeri bahari yang cukup diperhitungkan di kawasan Selat Malaka antara abad ke-15 M hingga ke-16 M.

Untuk mempertahankan kedaulatannya, Kesultanan Aru memiliki seperangkat modal kekuatan untuk menangkal serangan dari luar. Mengacu pada konsep Kautilya tentang kekuatan (daṇḍa), Kesultanan Aru terbilang lengkap memiliki 7 elemen/ unsur negara (prakṛti). Unsur negara (prakṛti) pertama yang dimiliki Kesultanan Aru adalah seorang pemimpin/raja. Pada abad ke-15 M, Buku ke-325 Sejarah Dinasti Ming menyebut seorang Raja Aru yang bernama Sultan Husin (Su-lu-tang Hut-sin). Elemen prakṛti (unsur negara) kedua adalah amātya (aparatur pemerintahan). Sumber-sumber tertulis mancanegara menyebut sejumlah aparat pemerintahan dalam Kesultanan Aru. Beberapa aparat pemerintahan Aru itu ada yang ditugaskan menjadi duta kerajaan ke Tiongkok atas perintah salah seorang putera Raja Aru yang bernama Tu-an A-la-sa. Ditinjau dari kewenangan yang dimiliki oleh  Tu-an A-la-sa, tidak menutup kemungkinan dia adalah Putera Mahkota Kesultanan Aru di abad ke-15 M. Aparat pemerintahan Kesultanan Aru lainnya adalah Qadhi/ Khadi (Cacis) yang saat Perang Aru I (pertama) dipercaya memimpin 500 orang prajurit Aru, namun berkhianat setelah mendapat suap dari pasukan Aceh.

Prakṛti (unsur negara) ketiga yang dimiliki Kesultanan Aru adalah janapada (rakyat). Rakyat Aru adalah masyarakat dengan beragam profesi, merujuk pada catatan Ma Huan di awal abad ke-15 M tentang aneka komoditas Aru, masyarakat Aru ada yang berprofesi sebagai pengumpul hasil hutan, petani, peternak, dan pelaut.

Elemen prakṛti (unsur negara) keempat Kesultanan Aru adalah durga (benteng). Keberadaan benteng pertahanan Kesultanan Aru disebut secara eksplisit disebut oleh Pinto, saat dia melihat langsung kesibukan Aru membuat kubu-kubu dan parit-parit pertahanan di kedua sisi Sei (Sungai) Petani. Sisa-sisa benteng Aru yang disebut oleh Pinto itu, bisa dilihat jejak-jejaknya di situs arkeologi yang dikenal oleh masyarakat Medan dan sekitarnya sebagai Benteng Putri Hijau di daerah Deli Tua. Situs Benteng Puteri Hijau merupakan saksi bisu penyerbuan Kesultanan Aceh terhadap Kesultanan Aru. Data monumental yang terdapat di situs ini berupa benteng tanah dan parit-parit pertahanan yang meliputi areal seluas 4,3 hektar (Tim Penelitian Benteng Puteri Hijau 2009, 69). Selain kepurbakalaan yang sifatnya monumental itu, di situs ini juga ditemukan pecahan-pecahan gerabah dan keramik yang secara relatif ditarikhkan berasal dari abad ke-13 hingga ke-17 M. Di samping bukti artefaktual yang masih bisa dilihat di permukaan tanah, di situs ini juga pernah ditemukan potongan meriam yang dikeramatkan oleh sebagian masyarakat Medan dan kini disimpan di satu bangunan di halaman Istana Maimun, yang dikenal oleh masyarakat sebagai Meriam Puntung. Mungkin meriam ini adalah meriam Portugis yang dibeli oleh Aru dari seorang pelarian Portugis di Pasai, sebagaimana terungkap lewat catatan Mendez Pinto.

 

A grassy area with trees in the background

Description automatically generated with low confidence

Gambar 4. Sebagian dari benteng tanah tersisa di situs Benteng Puteri Hijau

(sumber: foto pribadi diambil tahun 2006)

 

Prakṛti (unsur negara) kelima Kesultanan Aru adalah kośa (kekayaan, ekonomi). Sumber kekayaan Kesultanan Aru berasal terutama dari komoditas alam bernilai ekonomis seperti kain katun, beras, bebijian, sapi, kambing, burung, bebek, susu yang diasamkan, kemenyan su, kemenyan chin-yin, burung bangau berjambul, dan kamper.

Prakṛti (unsur negara) keenam Kesultanan Aru adalah daṇḍa (pasukan bersenjata). Kekuatan militer Kesultanan Aru dapat dibedakan menjadi dua yakni, pasukan darat dan armada laut. Pasukan darat Aru terdiri dari 6000 prajurit, 40 pucuk meriam kecil (lela), sepucuk meriam besar, 40 pucuk senapan musket, 26 ekor gajah perang, kesatuan kavaleri yang terdiri dari 50 pasukan berkuda, dan 11.000 – 12000 pucuk tombak kayu yang telah diolesi racun. Di kawasan perairan, Kesultanan Aru memiliki armada perang yang di abad ke-15 M, pernah beberapa kali menyerang wilayah Kesultanan Malaka. Namun saat Aceh menyerang Aru dalam agresi pertama, tidak disebut terjadi bentrokan antara armada Aru melawan armada Aceh. Hal tersebut tampaknya terkait dengan melemahnya kekuatan armada Aru setelah perang berkepanjangan melawan Malaka di abad ke-15 M, sehingga ketika armada Aceh memasuki perairan Aru, tidak ada perlawanan yang berarti dari sisa-sisa armada Aru. Pertempuran di perairan dalam Perang Aru, baru terjadi ketika aliansi armada Johor-Aru menyerang armada Aceh di kawasn Sungai Petani pada Perang Aru III (April – Mei 1540 M). Artefak yang menjadi bukti situs Benteng Puteri Hijau adalah ajang pertempuran pasukan Aru melawan Aceh adalah ditemukannya sebutir peluru musket / tüfenk seberat 23 gr, dengan diameter 1,5 cm yang terbuat dari campuran timah hitam dan baja. Temuan ini menarik, sebab keberadaannya membuktikan bahwa kawasan situs ini dulu merupakan kancah pertempuran. Selain itu keberadaannya juga menjadi bukti penggunaan senapan musket baik oleh pasukan Aru maupun aliansi Aceh-Turki.

Prakṛti (unsur negara) ketujuh Kesultanan Aru adalah mitra (sekutu). Saat menghadapi pasukan Aceh dalam Perang Aru I, Kesultanan Aru hanya menjalin persekutuan dengan Portugis di Malaka. Wujud persekutuan Aru-Portugis itu adalah bantuan senjata Portugis kepada Aru. Jalinan persekutuan yang lebih kuat terjadi saat Perang Aru II, ketika armada dari Johor setuju untuk merebut kembali Aru yang telah diduduki pasukan Aceh. Persekutuan Aru-Johor makin meluas pada saat meletus Perang Aru III,  ketika kesatuan-kesatuan dari Perak dan Siak ikut terlibat dalam pertempuran di perairan Sungai Petani pada tahun 1540 M.

Jika ditinjau dari perspektif Mahan tentang syarat suatu entitas bisa menjelma sebagai kekuatan laut, maka Kesultanan Aru boleh dikata memenuhi seluruh persyaratan yang disebut oleh Mahan. Secara geografis, wilayah Aru jelas terhubung langsung dengan lautan. Ditinjau dari bentuk lahannya yang terbentang dari kawasan Teluk Aru hingga hilir Sungai Deli, wilayah Aru diuntungkan oleh pantai-pantainya yang terbuka dan terhubung langsung dengan jalur pelayaran tersibuk di Nusantara yakni Selat Malaka. Arti penting Aru dalam pelayaran dan perniagaan dibuktikan oleh berdatangannya para pelaut dari mancanegara, kesempatan lain mereka bahkan mengirim langsung duta ke Cina. Di masa jayanya sumber-sumber mancanegara menggambarkan Aru memiliki armada yang cukup kuat terdiri dari sejumlah lanchara. Sumber lokal (Sejarah Melayu) bahkan menyebut armada Aru sempat menyerang Malaka hingga terjadi pertempuran laut di perairan Tanjung Tuan. Semua hal itu menunjukkan bahwa Kesultanan Aru pada masa jayanya adalah kekuatan laut yang cukup diperhitungkan di Selat Malaka.

Dalam Perang Aru I (Pertama), Kesultanan Aru menerapkan strategi pertahanan yang defensif. Pilihan strategi yang demikian didukung oleh keberadaan sistem pertahanan berupa benteng-benteng tanah dan parit-parit pertahanan yang dibangun di sekeliling ibukota Aru yang terletak di tepi aliran Sungai Petani. Pilihan strategi perang yang statis di babakan pertama konflik antara Kesultanan Aru dan Kesultanan Aceh, tampaknya dilatarbelakangi oleh minimnya dukungan sekutu (mitra) dan keberadaan bangunan pertahanan (durga). Meskipun dalam Perang Aru I, Kesultanan Aru memiliki ketujuh elemen negara, namun ketika salah satu unsur itu menyimpan kecacatan, maka rapuhlah kekuatannya. Kelemahan Aru dalam menghadapi serangan Aceh pada Perang Aru I terletak pada amātya (menteri/unsur pemerintahan) yang dimiliki Aru. Bukan oleh ketiadaan amātya, namun oleh pengkhianatan salah satu dari aparat pemerintahan Aru yang menerima suap dari Aceh, sehingga salah satu bagian benteng yang menjadi tanggungjawabnya dibiarkan kosong tanpa pengawalan.

Ketika Perang Aru II, strategi Aru tidak lagi defensif. Setelah mendapatkan sekutu yang kuat dari penerus Sultan Malaka yang terusir di Johor, strategi Aru berubah dari yang semula defensif menjadi bersifat ofensif. Strategi ofensif juga dilakukan aliansi Aru-Johor saat Perang Aru III. Alih-alih menunggu pasukan Aceh menggempur benteng mereka di tepi Sungai Petani, armada Aru-Johor lebih memilih menyergap armada Aceh di kawasan Sei Petani. Hasil strategi yang lebih ofensif dalam Perang Aru II dan Perang Aru III berbuah kemenangan bagi aliansi Aru-Johor.

Kejayaan Kesultanan Aru mulai memudar seiring melemahnya kekuatan laut yang mereka miliki, setelah kekalahan armada Aru dari armada Malaka di perairan Tanjung Tuan. Di masa yang hampir bersamaan di ujung utara Pulau Sumatera sedang tumbuh kekuatan baru yang juga memiliki ambisi sama dengan entitas penting lain di Selat Malaka. Kekuatan baru itu adalah Kesultanan Aceh yang makin kuat seiring persekutuannya dengan Kesultanan Uthmani. Paduan dua kekuatan itu akhirnya menaklukkan satu demi satu kerajaan-kerajaan di Pulau Sumatera, termasuk juga di dalamnya adalah Kesultanan Aru. Perang Aceh melawan Aru boleh dikata adalah perang terlama yang dijalani Kesultanan Aceh di abad ke-16 M. Perang dua kekuatan yang berebut pengaruh di Selat Malaka itu disebabkan antara lain oleh terlibatnya pihak ketiga dalam perseteruan itu. Portugis di Malaka dan penerus Kesultanan Malaka di Johor membantu Aru baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga memungkinkan Kesultanan Aru bertahan bahkan menyerang balik kekuatan Aceh di Aru.

 

KESIMPULAN

Konflik yang terjadi antara Kesultanan Aru melawan Kesultanan Aceh, dilatarbelakangi oleh agresifitas Kesultanan Aceh yang ingin menguasai wilayah negeri-negeri tetangganya. Saat menghadapi serangan Kesultanan Aceh, Kesultanan Aru telah memiliki seperangkat modal awal yang berguna dalam mempertahankan ekssistensinya. Serangkaian peperangan yang melibatkan kedua belah pihak hingga 4 (empat) kali, pilihan strategi yang diterapkan oleh kedua belah pihak berbuah pada silih bergantinya kemenangan. Pada Perang Aru I pihak Kesultanan Aru yang bertahan mengandalkan sistem pertahanan yang dibangunnya untuk mencegah penguasaan wilayah Aru oleh Kesultanan Aceh. Pilihan strategi yang ofensif pada Perang Aru II dan Perang Aru III berbuah kemenangan bagi pihak persekutuan Aru-Johor. Eksistensi Kesultanan Aru akhirnya benar-benar berakhir setelah dalam Perang Aru IV, sekutu utamanya yakni penerus Kesultanan Malaka di Johor ditaklukkan oleh armada Aceh di tahun 1574 M.

 

DAFTAR PUSTAKA

Cortesao, Armando. 1967. The Suma Oriental of Tomé Pires and The Book of Fransisco Rodrigues. Nendela/Lichtenstein: Kraus Reprint Limited.

 

Groeneveldt, W.P. 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese Sources. Jakarta: Bhratara.

 

Liebig, Michael. 2014. “Kautilya’s Arthaśāstra: A Classic Text of Statecraft and an Untapped Political Science Resource.” In Heidelberg Papers in South Asian and Comparative Politics, Working Paper No. 74, 1–17. Heidelberg: Universität Heidelberg South Asia Institute.

 

Madjid, M. Dien, and Johan Wahyudi. 2014. Ilmu Sejarah Sebuah Pengantar. Depok: Prenadamedia Group.

 

Mahan, Captain A.T. 1890. The Influence of Sea Power upon History 1660-1783. Boston: Little, Brown, and Company.

 

Mills, J.V.G. 1970. Ma Huan: Ying-Yai Sheng-Lan ‘The Overall Survey of the Ocean’s Shores. London: Cambridge University Press.

 

Milner, A. C, Edmund Edwards McKinnon, and Tengku Lukman Sinar. 1978. “A Note on Aru and Kota Cina.” Indonesia 26: 1–42.

 

Pigeaud, Theodore G. Th. 1960. Java in The 14th Century a Study in Cultural History, The Nāgara-Kěrtāgama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D. The Hague: Martinus Nijhoff.

 

Pinto, Ferna-O Mendes. 1897. The Voyages and Adventures of Ferdinand Mendez Pinto, The Portuguese. (Translate. London: T. Fisher Unwin Paternoster Square.

 

Pires, Tome. 2014. Suma Oriental Perjalanan Dari Laut Merah Ke Cina Dan Buku Francisco Rodrigues. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

 

Soedewo, Ery. 2020. “Pulau Kampai: Pelabuhan Di Selat Malaka Dalam Pelayaran Dan Perniagaan Pada Abad XI – XVI M.” Universitas Gadjah Mada.

 

Soedjono, R.P, and K.Z Leirissa. 2009. Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan Dan Perkembangan Kerajaan Islam Di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Suárez, Thomas. 1999. Early Mapping of Southeast Asia. Singapore: Periplus Editions.

Vlekke, Bernard H.M. 2016. Nusantara Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

 

Winstedt, R.O. 1938. “The Malay Annals of Sejarah Melayu.” Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society 16 (3 (132)): 1–226.

 

Sumber Internet

Department of the Army. 2018. "Offense and Deffense." Last modified 13 August 2018. https://armypubs.army.mil

 

 



[i] Karya Fei Hsin yang terbit tahun 1436 M

[ii] Tampaknya yang dimaksud oleh penulis Buku ke-325 Sejarah Dinasti Ming dengan Su-lu-tang Hu-tsin adalah Sultan Husin

[iii] Tuan Aryasa (?), atau Tuan Halasan (?), Tuan Halasa (?), atau Tuan Hasan (?)

[iv] Seorang penerjemah yang menyertai penjelajahan Laksamana Cheng Ho di awal abad ke-15 M.

[v] Sekitar 68 km arah baratlaut dari Malaka

[vi] Berdasarkan catatan Pinto yang menyebutkan kedatangan utusan dari Aru ke Malaka Portugis terjadi 25 hari setelah kedatangannya di Malaka. Sementara dia menyebut kedatangannya di Malaka bersama armada Pedro de Faria adalah pada 5 Juni 1539 M (Pinto 1897: 49). Artinya kedatangan utusan Aru ke Malaka terjadi pada 30 Juni 1539 M (Pinto 1897: 30).

[vii] Tampaknya yang dimaksud oleh Pinto sebagai Sungai Panetican adalah Sei (Sungai) Petani, yang berada di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli, terletak di daerah Deli Tua saatni.

[viii] Penyebutan bangsa Portugis untuk Sei Petani, kawasan hulu Sungai Deli, saat ini merupakan bagian dari kawasan Deli Tua di wilayah Kabupaten Deli Serdang

[ix] Mungkin yang dimaksud Pinto adalah Khairuddin Mahmud atau Khairuddin Muhammad

[x] Nama lanchara tampaknya adopsi Portugis dari etimologi Nusantara yakni lancaran. Merupakan jenis moda transportasi air yang digerakkan oleh dayung dan layar, yang bisa digunakan baik untuk berniaga maupun berperang. Jenis perahu ini digunakan dalam peperangan karena kelancaran / kelajuan / kecepatannya.

[xi] Galley adalah jenis moda transportasi air yang khusus digunakan untuk berperang. Jenis perahu ini digerakkan oleh dayung dan layar.

[xii] Calalus adalah adopsi Portugis dari etimologi Nusantara untuk jenis perahu yang di Nusantara dikenal sebagai kelulus. Jenis perahu ini digerakkan oleh layar dan dayung.

[xiii] Mungkin yang dimaksud Pinto dengan pioneer dalam kesatuan pasukan Aceh itu adalah kesatuan zeni tempur, yang tenaga-tenaganya terutama terdiri dari para teknisi yang menangani pembuatan bangunan pertahanan, dan demolisi

[xiv] Kemungkinan yang dimaksud Pinto sebagai Mamedecan adalah Mahmud Khan atau Muhammad Khan

[xv] Mungkin yang dimaksud dengan Cacis oleh Pinto adalah nama jabatan yang jamak digunakan di negeri-negeri Islam, yakni Qadi atau Khadi. Jabatan ini adalah jabatan yudikatif, berfungsi layaknya hakim saat ini

[xvi] Ducat adalah koin emas atau perak, jamak digunakan sejak abad pertengahan di Eropa hingga wilayah kekuasaan Turki Utsmani (Ottoman) dalam transaksi perniagaan

[xvii] 1 league setara dengan 5,556 km

[xviii] Penyebutan Portugis untuk Johor

[xix] Mungkin yang dimaksud oleh Pinto sebagai Compar adalah Kampar

[xx] Bila peristiwa penaklukan Aru (Perang Aru I) diperkirakan terjadi pada akhir Oktober 1539 M atau awal November 1539 M, dan pertemuan Sultan Johor dengan dewan perangnya terjadi pada bulan Ramadhan; maka Ramadhan terdekat dengan tanggal itu terjadi pada bulan Januari – Pebruari tahun 1540 M (21 Januari – 19 Pebruari 1540 M), bertepatan dengan Ramadhan 946 H.

[xxi] Kemungkinan yang dimaksud oleh Pinto sebagai Saca adalah Siak