ARKEOLOGI LANSKAP: IDENTIFIKASI KAWASAN TAMBLINGAN SEBAGAI PERMUKIMAN

 

LANDSCAPE ARCHEOLOGY: IDENTIFICATION OF THE TAMBLINGAN AREA AS A SETTLEMENT

 

Gendro Keling

Balai Arkeologi Bali

Jln. Raya Sesetan No 80 Denpasar Bali, 80223

gendro.keling@gmail.com

 

Reception date : 20/04/2020

Last Revision: 03/05/2021

Acceptation date: 26/05/2021

Published: 10/06/2021

To Cite this article : Keling, Gendro. 2021. “ARKEOLOGI LANSKAP: IDENTIFIKASI KAWASAN TAMBLINGAN SEBAGAI PERMUKIMAN : [Landscape Archaeology: Identification of The Tamblingan Area As A Settlement]”. Berkala Arkeologi Sangkhakala 24 (1). Medan, Indonesia, 31-43. https://doi.org/10.24832/bas.v24i1.430.

©2021 Berkala Arkeologi Sangkhakala –This is an open access article under the CC BY-NC-SA license

 

Abstract

Tamblingan is an area in Bali which is located at an altitude of 1,350 meters above sea level. Tamblingan also known as an archaeological site because it holds many archaeological remains, especially during the ancient Balines era. The problem that would revealed and solved are how the landscape at Tamblingan is ideal as a settlement, supported by archaeological evidence to strengthen it. The purpose of this study is to identify the landscape in the Tamblingan area so that this area was chosen as a settlement in the past. Data collection is done by literature study, both search for internet sources and e-journals that focusing discuss of Tamblingan Site. Tamblingan area is a fertile plateau, its morphology is in the form of a mountain range with Lake Tamblingan as an old caldera containing rainwater. the topography also varies and allows it to be used as a settlement. From the results of the study conducted it was proven that the Tamblingan area is a fertile land area, besides that also the forest and Lake Tamblingan provide various needs to support daily life.

 

Keywords: Tamblingan area; Landscape; settlement; Ancient Bali

 

Abstrak

Tamblingan merupakan satu wilayah di Bali yang berada di ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut. Tamblingan juga dikenal sebagai situs arkeologi karena menyimpan banyak tinggalan arkeologi terutama dimasa Bali Kuno. Dalam penelitian ini permasalahan yang ingin diungkap dan dipecahkan adalah bagaimana bentanglahan atau lanskap kawasan Tamblingan sehingga daerah ini ideal untuk dijadikan sebagai lokasi hunian atau permukiman, ditunjang dengan bukti-bukti arkeologis untuk menguatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lanskap di wilayah Tamblingan sehingga daerah ini dipilih sebagai kawasan hunian dimasa lalu. Metode Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, baik itu penelusuran sumber internet maupun beberapa jurnal cetak dan online yang mengulas mengenai Situs Tamblingan. Kawasan Tamblingan adalah dataran tinggi yang subur, morfologinya berupa deretan pegunungan dengan Danau Tamblingan sebagai kaldera tua yang berisi air hujan. topografinya juga bervariasi dan memungkinkan untuk digunakan sebagai permukiman. Dari hasil studi yang dilakukan terbukti bahwa kawasan Tamblingan merupakan wilayah yang memiliki lahan yang subur, selain itu juga hutan dan Danau Tamblingan menyediakan berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

 

Kata kunci: kawasan Tamblingan; Lanskap; Permukiman; Bali Kuno

 

PENDAHULUAN

Istilah “arkeologi lanskap” atau landscape archaeology, pertama kali mulai digunakan di Inggris pada pertengahan 1970-an (Fleming 2006, 267). Dalam studi arkeologi lanskap konsep visibilitas biasanya dikaitkan dengan kajian tentang penggunaan lahan dan sedimentasi (Campana 2009, 7). Beberapa ilmuwan menyamakan lanskap dengan lingkungan fisik terlepas dari kehadiran manusia, ada pula yang berpendapat sebaliknya, bahwa keterlibatan manusia adalah apa yang membedakan lanskap dari lingkungannya (Ashmore 2004, 256). Menurut Branton (2009) arkeologi lanskap adalah kerangka kerja untuk menggambarkan cara manusia mengkonseptualisasikan, mengatur, dan memanipulasi lingkungan mereka dan dan bagaimana tempat-tempat tersebut membentuk perilaku dan identitas penghuninya dimasa lalu. Arkeologi lanskap berkaitan dengan lingkungan alam dan lingkungan buatan (Branton 2009, 51).

Prinsip atau konsep awal pemikiran tentang lanskap sangat sederhana dimana orang-orang dimasa lalu tidak hanya tinggal, membuang barang, dan membangun di satu tempat, tapi juga berinteraksi dengan bentang alam di sekitarnya. Arkeologi lanskap, adalah tentang apa yang ada di sekitar situs. Dalam arkeologi modern, dorongan praktis untuk memikirkan lanskap adalah pengamatan terhadap lebih banyak fitur di darat (Renfrew 2005, 116). Arkeologi lanskap mengandung pengertian sebagai cabang arkeologi yang menekankan kajian dan pendekatannya pada hubungan antara corak dan sebaran fenomena arkeologis dengan karakteristik perubahan bentanglahan atau fisiografi sekitarnya. Bagaimana mengenali dan menjelaskan perubahan lanskap akibat pengaruh manusia; bagaimana kondisi lanskap mengontrol bentuk-bentuk campur tangan manusia; dan bagaimana memvisualisasikan dan menjelaskan hubungan antara manusia dengan lanskap hingga terbentuk lanskap ubahan, adalah pertanyaan-pertanyaan besar yang harus terjawab melalui kajian arkeologi lanskap (Yuwono, 2005; 2007, 212).

Menurut Vink (1983) istilah ‘lanskap’ mengandung arti kurang lebih sama dengan kata bentanglahan, fisiografi dan lingkungan. Perbedaannya terletak pada model pemaknaannya. Wilayah yang mempunyai karakteristik dalam hal bentuklahan, tanah, vegetasi, dan atribut (sifat) pengaruh manusia, yang secara kolektif ditunjukkan melalui kondisi fisiografi, dikenal sebagai suatu lanskap (Vink 1983, 84). Tanudirdjo (2019) menyebut lanskap dengan istilah saujana yaitu perpaduan antar unsur alam dan budaya yang sulit dipisahkan, di dalamnya tidak hanya ada benda atau materi saja tetapi juga ada kehidupan di situ (Tanudirdjo 2019, 90-91). Lebih lanjut Tanudirdjo mengungkapkan saujana dapat berarti benda, pengalaman, atau juga lambang-lambang yang saling mengisi dan menyatu (Tanudirdjo 2019, 91).

Ada beberapa unsur-unsur tertentu pada suatu lanskap yang mempermudah mengenali jenis-jenis lanskap antara lain: lanskap alami, lanskap fisik, lanskap sosial, lanskap ekonomi, dan lanskap budaya. Visualisasi lanskap dibentuk oleh dua hal pokok. Pertama, perpaduan antara karakteristik alami dan non-alami dari ruang di permukaan maupun dekat permukaan bumi yang bersifat dinamis; Kedua, adanya hasil suatu perubahan berkesinambungan dari interaksi dinamis antar geosfera, karena pada dasarnya bentanglahan merupakan ekspresi hubungan erat antar geosfera dalam ruang dan waktu tertentu (Yuwono 2007, 118). Pemilihan suatu lokasi sebagai hunian atau permukiman tentu mempertimbangkan kondisi lingkungan atau lanskap yang ada.

Lokus penelitian yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah kawasan Tamblingan. Orang awam lebih mengenal wilayah ini sebagai tempat wisata dimana terdapat danau yang namanya sama dengan nama daerah ini yaitu Danau Tamblingan. Memang anggapan itu tidak sepenuhnya salah, namun perlu dicatat juga bahwa wilayah Tamblingan tidak hanya menyimpan kekayaan alam berupa danau. Lebih dari itu Tamblingan juga menyimpan kekayaan budaya yang sudah ada sejak masa Bali kuno abad IX-XIV Masehi (Utami 2010, 163). Secara administratif lokasi penelitian terletak di Dusun Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Secara astronomis terletak antara 8°15’21.0” - 8°15’88.0” LS dan 115°6’20” - 115°5’44.0” BT (gambar 1). Pada peta Pulau Bali, terletak di daerah pegunungan tengah Bali, Situs Tamblingan ini dapat dicapai dengan berbagai transportasi baik itu kendaraan bermotor roda dua maupun empat dari Denpasar menuju ke arah Utara dengan jarak tempuh 32 km selama 1,5 jam. Kondisi jalan saat ini sangat baik, karena tempat ini merupakan salah satu tujuan wisata, melewati objek wisata Danau Beratan menuju arah Utara ke Singaraja (Haribuana 2012, 77).  Sampai saat ini kondisi dan akses ke kawasan Tamblingan tidak banyak mengalami perubahan. Bagi peneliti, terutama kajian arkeologi Situs Tamblingan merupakan situs permukiman tepi danau yang menyimpan banyak informasi kehidupan masa lalu, terutama di sisi pinggir hutan di sebelah Timur Danau Tamblingan (Suarbhawa 1995, 1).

 

Gambar 1. Kawasan Tamblingan (lokus penelitian)

(Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bedugul.png)

 

Titik tolak atau awal mula penelitian di Situs Tamblingan dimulai sejak adanya temuan satu lembar Prasasti Tamblingan oleh seorang warga lokal bernama Pan Niki tahun 1987. Saat itu Pan Niki sedang membersihkan ladang di tepi danau Tamblingan. Dari hasil pembacaan oleh peneliti Balai Arkeologi Bali mengenai isi prasasti, didapatkan informasi yaitu nama raja yang mengeluarkan prasasti, tahun pembuatan prasasti dan tujuan dikeluarkan prasasti. Secara singkat dapat diuraikan prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Bhatara Çri Parameswara pada tahun 1306 Saka atau 1384 M. Isi prasasti berupa seruan kepada para keluarga pande besi di daerah Tamblingan agar supaya kembali dari tempat pengungsian ke wilayah semula. Selain itu raja juga memerintahkan kepada seorang tokoh bernama Arya Cengceng (Kenceng) agar kembali ke Lo Gajah atau Goa Gajah. (Suantika, 1993, 3).

Sampai dengan tahun 2012, Balai Arkeologi Bali wilayah kerja Bali, NTB, NTT sudah melakukan penelitian di Situs Tamblingan sebanyak 13 tahap. Dari beberapa tahap penelitian tersebut, Balai Arkeologi Bali berhasil menemukan data-data arkeologi berupa artefak, ekofak, dan fitur. Tinggalan artefak berupa kereweng dengan hiasan terajala, fragmen beliung persegi, batu ububan, manik-manik, palungan batu pendingin, butiran logam, batu landasan pukul, kerak logam, arang, wadah lebur logam (kowi), alat kait besi, keris, tombak, pisau, kermaik, dan uang kepeng. Tinggalan artefak berupa struktur bangunan dan tinggalan ekofak berupa arang, serta sisa-sisa pembakaran. Dari hasil analisis yang dilakukan, diduga benda-benda temuan tersebut berkaitan erat dengan sebuah aktifitas pengolahan logam hingga merujuk pada suatu komunitas dimasa lalu yang masyarakatnya berprofesi sebagai pande besi (Bagus 2013, 2).

Situs Tamblingan memiliki keunikan tersendiri karena di dalamnya terkandung tinggalan budaya yang terkait langsung dengan potensi sumberdaya alam (Sutaba 2007). Secara Geografis wilayah Tamblingan dan sekitarnya memang merupakan wilayah yang subur dengan berbagai hasil alam. Danau Tamblingan adalah salah satu kawasan konservasi yang berada di bawah Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Wilayah I Bali, status kawasan ini adalah Taman Wisata Alam. Saat ini Kawasan Tamblingan sudah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam, hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kehutanan No.:144/Kpts-II/1996 tanggal 4 April 1996, dengan luasan wilayahnya mencapai 1.336,50 Hektar. Satu tahun kemudian cakupan Taman Wisata Alam di kawasan ini diperluas menjadi 1.703 Hektar yang dituangkan dalam Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Bali No.: 140/Kwl-5/1997 tertanggal 22 Januari 1997. Dari uraian latar belakang di atas, muncul permasalahan yang menarik untuk dibahas dalam tulisan ini yaitu bagimana lanskap Situs Tamblingan, berkaitan dengan tinggalan budaya yang terkandung di wilayah ini.

Lebih lanjut untuk dicermati juga bahwa perlu dibahas dalam artikel ini yaitu bagaimana bentanglahan dan apa saja yang menjadi indikasi Situs Tamblingan ini menjadi situs hunian, terutama dimasa Bali Kuno. Tujuan dari penulisan ini adalah memberikan gambaran tentang kondisi lanskap wilayah Danau Tamblingan sebagai permukiman kuno.

 

METODE

Kajian arkeologi pada dasarnya berupaya untuk menjelaskan masa lalu melalui tinggalan budaya materi dan segenap data kontekstual yang melingkupinya dalam tiga dimensi yaitu bentuk, ruang, dan waktu. Dalam kajian ini, aspek keruangan menjadi fokus utama kemudian ditelaah untuk menjelaskan bagaimana manusia memanfaatkan suatu lingkungan dan kawasan sebagai ruang aktifitasnya. Sehingga kajian dalam dimensi ini tidak lagi menekankan pada artefak, ekofak, atau fitur sebagai data arkeologi sebagai data individual, namun lebih ditekankan pada situs dan hubungan antar data arkeologi tersebut sebagai satu unit ruang yang diteliti (Mundarjito 2002, 2-5). Dengan kata lain, data arkeologi yaitu artefak, ekofak dan fitur dikaji secara kontektual, dan fokus telaah yang menjadi perhatian utama yaitu hubungan antara data-data arkeologi tersebut dalam satu situs atau kawasan. Melalui pengamatan terhadap hubungan-hubungan ini diharapkan interpretasi fungsional dapat dicapai. Model interpretasi ini dipandang mampu memberi gambaran yang lebih lengkap, ketika artefak sebagai data arkeologi tidak lagi dikaji dari aspek bentuknya semata, namun diperluas dalam hubungannya dengan data arkeologi lain dalam satu situs. Hubungan antar artefak ini bahkan sering dikatakan sebagai kunci interpretasi arkeologi (Mundarjito 1995, 25, Ririmase 2007, 73).

Untuk membatasi pembahasan mengenai lanskap di wilayah ini, maka lokus penelitian difokuskan hanya di sekitar Situs Tamblingan.  Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, baik itu penelusuran sumber internet maupun beberapa jurnal yang membahas mengenai Situs Tamblingan. Beberapa artikel banyak menyingung mengenai Situs Tamblingan. Artikel itu antara lain, I Gusti Made Suarbhawa (2010) dalam artikel berjudul “Satu Lempeng Prasasti Tamblingan”, menurut Suarbhawa dimasa Bali Kuno, seorang raja telah menerbitkan sebuah prasasti. Prasasti ini diterbitkan untuk meredam dan menciptakan suasana kondusif pasca peralihan kekuasaan pada masa Bali Kuno di wilayah Tamblingan. Kemudian I Putu Yuda Haribuana (2012) dalam artikel berjudul “Melacak Sumber Logam di Situs Tamblingan”, dalam artikel itu Haribuana menyebutkan bahwa ciri-ciri dan karakteristik batuan penyusun kawasan Tamblingan, serta proses-proses yang terjadi masa lalu dan sekarang adalah saling berkaitan, dinamis dan berkesinambungan. Proses dan aktifitas geologi inilah yang kemudian menciptakan lanskap danau Tamblingan. Proses geologi yang terjadi dipengaruhi oleh proses tektonik regional dan keletakan kawasan Tamblingan. Di dalamnya terjadi kegiatan vulkanisme dan aspek-aspeknya seperti misalnya penerobosan magma dan metamorfisme. Endapan mineral logam murni sangat mungkin terdapat di lokasi ini di samping juga bahan galian lain yang sampai saat ini masih di eksploitasi. I Made Geria (2006) dalam artikel berjudul “Kajian Arkeologi Lanskap Tantangan ke Depan Dalam Pelestarian Budaya di Bali”, dalam pembahasannya, Geria memaparkan mengenai pola pengelolaan bentang alam di Bali secara “tradisional” yang dilandasi konsep-konsep Hinduisme di Bali. A.A. Gede Bagus (2013) dalam artikel “Perkembangan Peradaban di Kawasan Situs Tamblingan” menambahkan keberlanjutan budaya di situs dari masa prasejarah hingga ke masa kolonial. Namun demikian kiranya perlu kajian lebih saintifik berkaitan dengan bukti-bukti tinggalan prasejarah di Situs Tamblingan. Hal ini dikarenakan belum ada bukti pertanggalan valid mengenai tinggalan ini. Disamping itu tradisi berlanjut yang masih ada di Bali turut andil dalam mengaburkan hipotesis yang dikemukakan oleh Bagus.

Kebaruan tulisan ini terletak pada pendekatan yang diambil untuk mengupas lanskap kawasan tamblingan sehingga kawasan ini cocok untuk lokasi hunian yang kemudian didukung oleh data-data arkeologi sebagai penguat. Tulisan ini menggunakan pendekatan lanskap baik itu lanksap alam maupun lankskap fisik untuk mengeksplorasi bentang alam di wilayah Situs Tamblingan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Permukiman sebagai tempat menetap dan melakukan aktifitas kehidupan telah muncul sejak masa praejarah dan berkembang hingga kini. Masa prasejarah yaitu ketika manusia mulai mengenal teknik bercocok tanam, dimasa ini manusia sudah menguasai sumber-sumber alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak bergantung sepenuhnya pada pemberian alam. Manusia mulai mengenal budidaya tanaman dan domestikasi hewan. Periode masa ini manusia mulai berdiam dan tinggal di suatu tempat. Pada zaman itu mulai muncul sistem hidup yang tidak lagi mengembara dari satu tempat ke tempat lain (nomaden) tetapi menetap di suatu wilayah dengan tempat tinggal yang masih sederhana dan didiami secara berkelompok dalam satu keluarga. Aktifitas-aktifitas utama dalam kehidupan permukiman itu yaitu mencukupi kebutuhan bersama dalam satu kelompok tersebut. Pembagian-pembagian tugas juga sudah disesuaikan antar anggota kelompok (Poesponegoro 2008, 203; Handoko 2007, 84).

Menurut Butzer (1971) ada beberapa aspek yang berhubungan dengan karakteristik atau kondisi lingkungan alam berkaitan dengan pemilihan lokasi hunian atau permukiman antara lain:

1.    Tersedianya sumber air sebagai kebutuhan utama,

2.    Terpenuhinya sarana dan prasarana yang diperlukan untuk bergerak (pantai, sungai, rawa, danau dan hutan),

3.    Terpenuhinya sumber makanan berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan, serta faktor-faktor kemudahan memperoleh makanan (Butzer 1971).

Terkait bentang alam di Bali, khususnya Situs Tamblingan, adalah bentuk pengelolaan alam yang bijak dan memperhatikan aspek kesinambungan. Sudah menjadi dogma bahwa perkembangan budaya suatu wilayah tidak terlepas dari keadaan lingkungan masyarakat setempat. Hal ini tidak hanya tercermin dari hasil penelitian pakar budaya, namun sudah mendasar pada kehidupan budaya masyarakat. Kenyataan demikian ini menjadi dasar pemikiran konsep desa mawa cara, bahwa adat istiadat yang berlaku di suatu daerah disesuaikan dengan lingkungan maupun aturan yang berlaku di daerah tersebut, umumnya adat istiadat ini bersifat konvensional. Konsep ini tampaknya juga berlaku di masyarakat Bali. Unsur budaya yang dimaksud disini bersifat material maupun spiritual (Geria 1993, 45).

Masyarakat Bali masih teguh menjaga tradisi dari leluhur mereka dalam bersinergi dan menjaga keseimbangan alam. Kearifan masa lalu masyarakat Bali tersebut perlu dijadikan teladan karena memberi hikmah yang positif bagi kehidupan hingga saat ini sebagai contoh sistem subak dalam kegiatan pertanian. Contoh lain juga berkaitan dengan konsepsi harmonisasi manusia Bali dengan alam adalah pola permukiman di Bali yang dikenal dengan Tri Mandala, antara lain segmen utama mandala yang diperuntukkan untuk tempat suci, segmen madya mandala untuk tempat perumahan dan segmen nista mandala yang dipolakan sebagai dapur, lumbung dan bagian belakang ada ruang kosong yang dimanfaatkan sebagai kebun. Pola yang seperti ini masih berlaku dan diterapkan oleh masyarakat Bali karena mempunyai pengaruh positif terhadap penataan ruang kawasan. Kedua contoh yang disebutkan diatas merupakan konsep leluhur yang merupakan bagian dari lanskap arkeologi, yaitu pengaturan mengenai tata ruang. Hal ini perlu dikaji lebih lanjut karena kehidupan manusia tidak terlepas dari alam lingkungannya. Mengelola lingkungan sebagai sumber kehidupan, tempat tinggal maupun sebagai tempat melakukan interaksi sosial dengan sesamanya serta hubungan terkait dengan lingkungan hidup lainnya secara ekosistem (Geria 2006, 9). Pengelolaan sumber daya alam merupakan aktivitas yang sangat penting dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan. Sumber daya alam harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh manusia untuk meningkatkan kemakmuran dan harkat kemanusiaannya. Selain itu sumber daya alam harus dijaga agar tidak cepat habis atau merusak lingkungan (Suhadi 1986, 231; Suarbhawa 2014, 314).

Bali sebagai salah satu destinasi wisata budaya, juga memiliki kekayaan panorama alam yang masih terjaga dengan baik. Keindahan alam Bali sudah diakui hingga ke mancanegara. Bentang alam Bali yang indah ini tidak serta merta dimiliki tetapi sudah dirintis sejak masa lampau. Menurut Setiawan (2011) masyarakat Bali Kuno sudah memiliki usaha pelestarian alam dan bentanglahan di Bali. Hal ini tersirat pada beberapa buah prasasti yaitu Prasasti Ujung A (1011), Prasasti Bwahan D (1181) (Setiawan 2011, 357). Selain dua prasasti di atas, ada satu prasasti lain yaitu Prasasti Tengkulak A (1023) (Ekawana, et. al 1990, 11). Dalam ini pemerintah (kerajaan) melarang penebangan pohon tanpa alasan jelas, kecuali keberadaanya dianggap mengganggu lingkungan.

Upaya pelestarian alam di Bali dilakukan oleh orang Bali di wilayah-wilayah yang dianggap sebagai daerah penyangga kehidupan. Upaya ini didukung hingga masa raja-raja Bali berkuasa dimasa Bali Kuno. Wilayah Tamblingan menjadi salah satu daerah yang boleh disebut sebagai kawasan penyangga sekaligus sebagai daerah permukiman kuno di Bali.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Bali, wilayah ini telah dihuni setidaknya dimasa prasejarah terbukti dengan ditemukannya artefak-artefak yang bahkan hingga kini masih dijaga dan dilestarikan. Temuan meja batu/dolmen sebagai sarana untuk meletakkan persembahan untuk memohon keselamatan dan kesuburan di Pura Penimbangan Tamblingan dan Pura Ulundanu, Pelinggih Pasimpangan Dur Capah. Selain dolmen ditemukan pula simbol lelaki dan perempuan yang dipahatkan pada bongkahan batu di Pura Dalem Tamblingan. Batu megalit berupa monolit di Pura Embang, Pura Endek, Pura Hyang Api Tanah Mal dan lain-lain sebagai indikasi temuan dan tradisi masa prasejarah di Situs Tamblingan. Namun demikian seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa bukti ini lemah mengingat belum adanya pertanggalan yang valid untuk tinggalan prasejarah ini.

Dari sumber tekstual sendiri di ketahui bahwa Desa Tamblingan sekitar Abad ke-9 Masehi telah ada sekelompok orang yang bermukim di sini. Kehidupan masyarakat masih berlangsung hingga sekitar abad 14 Masehi (Suantika 1997, 34). Data dalam prasasti-prasasti Bali Kuno menunjukkan bahwa sebagian besar Pulau Bali masih berupa hutan, dan permukiman tersebar di beberapa wilayah, baik pesisir, dataran, maupun pegunungan. Persebaran dan tingkat kepadatan antara satu wilayah dengan wilayah lain berbeda-beda.

Bertitik tolak dari data yang dimuat dalam prasasti-prasasti berbahasa Bali Kuno dan Jawa Kuno, menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Pulau Bali hidup dari sektor pertanian yang mencakup pertanian kering dan pertanian irigasi. Disamping itu sebagian penduduk masih melakukan praktik-praktik perburuan. Selain pertanian, beberapa mata pencaharian penduduk Bali Kuno adalah nelayan, pande, kerajinan, pertukangan, dan perdagangan (Suarbhawa 2014, 316-317; Laksmi 2014, 291-302). Kawasan Tamblingan, terutama di sekitar Danau Tamblingan merupakan daerah yang memiliki banyak tinggalan arkeologi. Banyak tinggalan arkeologi ini disimpan di dalam Pura. Selain itu Balai Arkeologi juga sudah melakukan beberapa kali penelitian dari tahun 1988 hingga tahun 2012. Dari penelitian yang dilakukan oleh A. A Gde Bagus, kawasan Tamblingan dan sekitar Danau Tamblingan menyimpan tinggalan arkeologi masa prasejarah hingga kolonial (Bagus 2013, 2) (gambar 2).


 

Diagram, map

Description automatically generated

Gambar 2. Sebaran tinggalan arkeologi di Kawasan Tamblingan

(Sumber: Bagus 2013)

 

Dugaan sementara, kawasan Tamblingan dipilih sebagai tempat permukiman dikarenakan lahannya yang subur, selain itu juga hutan dan Danau Tamblingan menyediakan berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Salah satu mata pecaharian di sekitar Tamblingan antara lain pande wsi (pandai Besi) (Mahaviranata 1995, 14; Suarbhawa 1995, 7; Bagus 1995, 21; Sunarya 1993, 65).

Ditinjau dari aspek geologi, morfologi deretan pegunungan di wilayah tengah Pulau Bali membujur dari Barat ke Timur. Mulai dari Barat hingga Timur kawasan Tamblingan secara umum tertutup oleh batuan vulkanik yang berumur relatif muda yaitu batuan vulkanik kuarter, batuan vulkanik ini berupa batuan lava, lahar, breksi, dan tufa. Selain itu, karakteristik batuan-batuan ini berkomposisi dasit, andesit hingga basal dan sering dijumpai tufa yang mengandung batuapung. Mineral asesori dari grup mika terutama biotit, mineral sedikit magnetit dan ilmenit sangat lazim ditemukan pada batuan vulkanik lelehan dan piroklastik (Sumartono 2005, 2). Danau Tamblingan merupakan salah satu kaldera dari kesatuan Gunung Api Pohen, Sengayang dan Lesong, yang kemudian terisi air sehingga menjadi tiga buah danau yaitu Tamblingan, Buyan, dan Beratan. Proses dinamika alam yang disebabkan oleh tenaga endogen dan eksogen terus terjadi yang mengakibatkan terjadinya kontrol stuktur pada lapisan batuan serta pelapukan fisik dan kimia yang merubah morfologi daerah penelitian dan sekitarnya. Secara umum kawasan Danau Tamblingan terdiri dari 4 formasi geologi yang dominan, yaitu bentuk topografi dari miring sampai dengan terjal. Pada bagian barat dan selatan kawasan merupakan tutupan endapan batuan muda vulkanik yang melereng, sedang pada daerah dataran tinggi berasal dari batuan andesit, basal, tephra halus/kasar dan recent vulkanik akibat kegiatan/aktivitas dari hasil letusan gunung api purba Batukau, Lesung, dan Pawon pada zaman kuarter tengah.

Secara umum, kawasan Tamblingan mempunyai topografi bervariasi mulai dari datar (sisi sebelah timur dan sebagian wilayah bagian selatan), agak curam (wilayah antara Danau Tamblingan dan Danau Buyan), sangat curam (daerah sisi bagian utara, timur, dan sebagian wilayah selatan). Ketinggian daerah ini berkisar antara 1.210-1.350 meter dari permukaan air laut dan total luas wilayah yaitu 1.703 Hektar. Kawasan ini mencakup tujuh desa yaitu Desa Pancasari, Desa Wanagiri, Desa Gobleg, Desa Munduk, Desa Pegayaman, Desa Candikuning, dan Desa Batunya (Indriyani dan Makalew 2020, 3). (Indriyani dan Makalew 2020, 3-4).

Keadaan tanah Danau Tamblingan terdiri dari jenis tanah typic hapludands, typic udivitrands, typic eutrooepts dengan tingkat erosi sedang. Adapun bentuk lahan yaitu datar sampai dengan sangat terjal serta terdapat perairan/danau dengan bagian utara Danau Buyan. Ketiga jenis tanah tersebut adalah turunan dari jenis tanah andosol. Tanah andosol ini terbentuk melalui pelapukan abu vulkanis dengan ciri-ciri: warna kelabu hingga kuning, peka terhadap erosi, dan sangat subur. Pemanfaatan tanah jenis andosol umumnya digunakan sebagai lahan pertanian, perkebunan, hutan pinus atau cemara. Jadi sangat jelas bahwa jenis tanah di sekitar Tamblingan sangat subur dan cocok digunakan untuk berocok tanam dan juga untuk bermukim.

Kawasan Danau Tamblingan merupakan kaldera tua yang berisi air hujan pada kedua buah danau yaitu Danau Buyan dan Danau Tamblingan. Kawasan Danau Tamblingan tidak memiliki sungai, baik sebagai daerah resapan, daerah pasokan dan air atau daerah perlindungan hidro-orologis. Kondisi cakupan lahan saat ini didominasi oleh vegetasi hutan dan terdapat dua buah danau yang dipisahkan oleh vegetasi hutan dengan topografi yang bervariasi.

Daerah tangkapan air utama (cathment area) berada pada sebelah Selatan Danau Buyan dan Danau Tamblingan dimana kondisi hutan masih utuh dan murni. Hutan di kawasan Tamblingan masih terjaga dengan baik, beberapa fauna yang hidup di kawasan hutan ini antara lain: berbagai jenis burung, reptil, trenggiling, landak, kijang, serangga, dan beberapa jenis ikan yang hidup di danau seperti tawes, mujaer, belut, karper, nila dan lain-lain. Adanya hewan-hewan ini dimasa lalu dimungkinkan sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Tidak dipungkiri juga bahwa dimasa lampau jumlah dan jenis hewan darat dan air di kawasan lebih beragam (gambar 3).

 

Diagram

Description automatically generated

Gambar 3. Lanskap Kawasan Tamblingan

(Sumber: Indriyani 2020)

 

Dari uraian kondisi alam dan lanskap di atas membuktikan bahwa kasawan situs Tamblingan adalah daerah yang ideal sebagai permukiman. Selain ketersediaan sumber air sebagai penyokong kehidupan utama, keragaman fauna dan hayati juga menjadi faktor pendukung kawasan hunian. Bukti-bukti artefak adanya aktifitas dan permukiman manusia dimasa lalu Situs Tamblingan berupa artefak, ekofak dan fitur. Bukti artefak berupa gerabah dengan pola terajala, fragmen beliung persegi, batu ububan, butiran-butiran logam, alat kait besi, palungan batu pendingin, kerak-kerak logam, batu landasan pukul, manik-manik, uang kepeng, dan wadah lebur logam (kowi). Temuan ekofak yaitu arang dan sisa-sisa pembakaran, dan temuan fitur yaitu struktur bangunan. Bukti-bukti arkeologis itu memberikan indikasi komunitas yang mendiami kawasan Tamblingan adalah pengerajin logam (pande). Kelompok pande adalah kelompok masyarakat yang memiliki keahlian khusus yang sangat berperan dalam menunjang kegiatan sehari-hari pada masyarakat Bali Kuno, baik itu sektor pertanian, keagamaan maupun perdagangan. Bahkan profesi pande dalam masyarakat Bali Kuno memperoleh perhatian khusus dari raja, hal ini terbukti dengan dikeluarkannya prasasti yang isinya berkaitan dengan masyarakat yang berprofesi sebagai tukang logam ini. Beberapa prasasti itu antara lain: Prasasti 002 Bebetin AI (818 Saka/896 M), Prasasti Trunyan AI, Trunyan B, Prasasti Batur Pura Abang A (833 Saka/911 M), dan Prasasti Sukawana AI (804 Saka/882 M) (Sunarya 1993, 65-66).

Khusus mengenai Situs Tamblingan, bukti tertulis mengenai komunitas pande yang mendiami wilayah ini antara lain Prasasti Prasasti Bulian B (1103 Saka/1181 M), Prasasti Tamblingan (1306 Saka/1384 M), Prasasti Gobleg Pura Batur C (1320 Saka/1398 M), Prasasti Gobleg Pura Batur B (Bagus 1995, 20-21; Suarbhawa 2010, 598-599; Mahaviranata 1995, 11). Terkait dengan profesi pande ini, dalam artikel yang ditulis oleh Haribuana (2013) menyebutkan bahwa memang Kawasan Tamblingan memiliki potensi kandungan mineral logam yaitu besi (Fe) sebagai bahan baku dalam industri kerajinan logam (Haribuana 2013, 83). Dengan kata lain memang potensi mineral terutama besi yang dikandung di Tamblingan menjadi salah satu penyokong aktifitas penduduk sebagai pengerajin logam pada masa Bali Kuno.

Bukti tertulis yang semakin menguatkan adanya indikasi permukiman di Kawasan Tamblingan yaitu Prasasti Gobleg Pura Batur A yang isinya menyebutkan adanya sekelompok masyarakat yang memuja Wisnu yang mendiami Tamblingan. Prasasti ini diduga dikeluarkan pada masa Ugrasena abad IX-X M (Mahaviranata 1995, 11). Masyarakat Tamblingan dimasa lalu memilih lokasi permukiman yang memang telah memenuhi salah satu kebutuhan pokok manusia yaitu tersedianya air, hal ini tersedia secara melimpah di Situs Tamblingan. Selain air, wilayah Tamblingan menyediakan sumber makanan baik berupa flora dan fauna serta faktor-faktor kemudahan memperoleh makanan dapat terpenuhi di wilayah ini.

 

KESIMPULAN

Kawasan Tamblingan saat ini dikenal sebagai taman wisata alam. Selain lanskap alam, kawasan ini juga memiliki kandungan lanskap budaya. Lanskap alam dengan kondisi lahan yang cenderung datar, tanah sangat subur, iklim sejuk, curah hujan cukup, dan ketersediaan pemenuhan kehidupan dari hutan dan Danau Tamblingan menjadikan kawasan ini ideal untuk dijadikan sebagai kawasan permukiman. Bentang alam dan kekayaan yang dikandung di kawasan Tamblingan turut menyumbang wilayah ini sebagai kawasan hunian dimasa lampau. Hal ini semakin diperkuat dengan bukti-bukti tinggalan arkeologis berupa artefak, ekofak dan fitur. Bukti artefak berupa gerabah dengan pola terajala, fragmen beliung persegi, batu ububan, butiran-butiran logam, alat kait besi, palungan batu pendingin, kerak-kerak logam, batu landasan pukul, manik-manik, uang kepeng, dan wadah lebur logam (kowi). Temuan ekofak berupa arang dan sisa-sisa pembakaran, dan temuan fitur yaitu struktur bangunan. Dari data arkeologi yang berhasil ditemukan tersebut, kawasan ini telah dihuni terutama oleh komunitas pande periode masa Bali Kuno abad X-XI M.

Seiring berkembangnya jaman dan kebutuhan masyarakat untuk hunian yang meningkat terutama di kawasan Tamblingan, maka perlu kearifan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan situs ini. Menjaga kelestarian dan keberlanjutan alam juga perlu dilakukan mengingat kawasan ini sudah menjadi destinasi wisata yang dikenal hingga keluar Bali.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ashmore, Wendy. 2004. Social Archaeologies of Landscape dalam A Companion to Social Archaeology eds. Lynn Meskell and Robert W. Preucel. Blackwell Publishing. UK. P.255-267.

 

Bagus, A.A. Gede. 1995. “Kerajinan Masyarakat Tamblingan Kuno.” Forum Arkeologi No. 2 (8): 19-31.

 

----------------------------. 2013. "Perkembangan Peradaban di Kawasan Situs Tamblingan." Forum Arkeologi No. 21 (26): 1-16.

 

Butzer, Karl. W. 1971. Environment and archeology: An ecological approach to prehistory. Aldine-Atherton. Chicago.

 

Branton, Nicole. 2009. “Landscape Approaches in Historical Archaeology: The Archaeology of Places.” International Handbook of Historical Archaeology, T. Majewski, D. Gaimster (eds.). Springer, New York. New York: page 51-65.

 

Ekawana, I Gusti Putu, M.M Soekarto K. Atmodjo, Machi Suhadi. 1990. “Laporan Penelitian Epigrafi Bali Tahap II” dalam Berita Penelitian Arkeologi. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

 

Fleming, Andrew. 2006. Post-processual Landscape Archaeology: A Critique. Cambridge Archaeological Journal 16:3, 267–80. McDonald Institute for Archaeological Research.

 

Geria, I Made. 1993. "Ritus Memendak Taulan, Salah Satu Aspek Budaya Kesatuan Wilayah Tamblingan Kuno." Forum Arkeologi No. 1 (6): 45-53.

 

----------------. 2006. "Kajian Arkeologi Lanskap Tantangan Kedepan Dalam Pelestarian Warisan Budaya Bali." Forum Arkeologi No. 1 (19): 8-18

 

Handoko, Wuri 2008. “Kajian Arkeologi Lanskap dalam Konteks Kajian Arkeologi Lanskap dalam Konteks Penelitian Situs-situs Negeri Lama di Maluku: Sebuah Kerangka Metodologi.” Kapata Arkeologi 6 (4): 84-105.

 

Haribuana, I Putu Yuda. 2012. "Melacak Sumber Logam di Situs Tamblingan." Forum Arkeologi No. 1 (26): 76-84.

 

Indriyani, N.M.P dan A.D.N Makalew. 2020. “Ecotourism Landscape Planning in Nature Tourism Park of Buyan – Tamblingan Lakes Tabanan and Buleleng Regency Bali Province.” The 4th International Symposium of Sustainable Landscape Development. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Kluiving & Guttmann-Bond, E. (Eds.). (2012). Landscape Archaeology between Art and Science; From a Multi- to an Interdisciplinary Approach. LHS Amsterdam University Press. Amsterdam.

 

Laksmi, Ni Ketut Puji Astiti. 2014. “Kehidupan Ekonomi Pada Masa Udayana.” Dalam Raja Udayana Warmadewa: Nilai-Nilai Kearifan Dalam Konteks Religi, Sejarah, Sosial Budaya, Ekonomi, Lingkungan, Hukum, Dan Pertahanan Dalam Perspektif Lokal, Nasional, dan Universal, disunting oleh I Ketut Ardhana dan I Ketut Setiawan, 289-313. Gianyar: Pemerintah Kabupaten Gianyar dan Pusat Kajian Bali Universitas Udayana.

 

Mahaviranata, Purusa. 1995. “Tamblingan Sebagai Sentra Industri Kecil di Sekitar Abad Ke 10-14 Masehi.” Forum Arkeologi No. 2 (8): 11-18.

 

Mundardjito. 2002. “Pertimbangan Ekologis Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta.” Wedatama Widya Sastra dan École Française d’Extréme-Orient. Jakarta.

 

---------------------. 1995. “Kajian Kawasan:  Pendekatan Strategis dalam Penelitian Arkeologi di Indonesia Dewasa Ini.” Berkala Arkeologi 15(3): 24–28.

 

Renfrew, Collin. 2005. Archaeology: The Key Concepts. Eds. Colin Renfrew and Paul Bahn. Routtledge. London and New York.

 

Ririmasse, Marlon NR. 2007. “Ruang Sebagai Wahana Makna: Aspek Simbolik Pola Tata Ruang dalam Rekayasa Pemukiman Kuna di Maluku.” Kapata Arkeologi 5 (3): 72-106.

 

S. Campana. 2009. Archaeological site detection and mapping: Some thoughts on differing scales of detail and archaeological ‘non-visibility’. Seeing the Unseen Geophysics and Landscape Archaeology eds. Stefano Campana and Salvatore Piro. CRC Press.

 

Setiawan, I Ketut. 2011. “Usaha-Usaha Pelestarian Lingkungan Hidup Pada Masyarakat Bali Kuno Berdasarkan Rekaman Prasasti.” Jurnal Bumi Lestari No. 2 (11): 355-259.

 

Soejono, R.P. 1992. Jaman Prasejarah Indonesia. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. P.N Balai Pustaka.

 

Suantika, I Wayan. 1993. “Ekskavasi Situs Arkeologi Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng”, dalam Laporan Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Denpasar.

 

-----------------------. 1997. "Permukiman Kuno di Tepian Danau-Danau di Bali." Forum Arkeologi No 1 (10): 29-38

 

Suarbhawa, I Gusti Made. 1995. "Tamblingan Dalam Rekaman Prasasti." Forum Arkeologi No. 2 (8): 1-10.

 

---------------------------------. 2010. “Satu Lempeng Prasasti Tamblingan.” Forum Arkeologi No. 3 (23): 595-622.

 

--------------------------------. 2014. “Kearifan Pengelolaan Lingkungan Pada Zaman Raja Udayana.” Dalam Raja Udayana Warmadewa: Nilai-Nilai Kearifan Dalam Konteks Religi, Sejarah, Sosial Budaya, Ekonomi, Lingkungan, Hukum, Dan Pertahanan Dalam Perspektif Lokal, Nasional, dan Universal, disunting oleh I Ketut Ardhana dan I Ketut Setiawan, 314-328. Gianyar: Pemerintah Kabupaten Gianyar dan Pusat Kajian Bali Universitas Udayana.

 

Suhadi, Machi. 1986. “Data Prasasti Untuk Ekologi” dalam PIA IV: Manusia, Lingkungan Hidup dan Teknologi. Proyek Penelitian Purbakala Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

 

Sumartono. 2005. “Penyelidikan Geokimia Regional Sistematik Lembar Denpasar Dan Mataram Provinsi Bali”, Kolokium Hasil Lapangan–DIM 2005.

 

Sunarya, I Nyoman. 1993. “Kelompok Pande Dalam Beberapa Prasasti Bali.” Forum Arkeologi No. 1 (6): 64-70.

 

Sutaba, I Made, 2007. Situs Tamblingan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng bekerjasama dengan Balai Arkeologi Denpasar.

 

Tanudirdjo, Daud Aris. 2019. “100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur, Trilogi I: Menyelamatkan Kembali Candi Borobudur.” Cetakan ke-5, diterbitkan oleh Balai Konservasi Borobudur. Magelang.

 

Utami, Luh Suwita. 2010. “Upacara Payascitta Keseimbangan Masyarakat Tamblingan dengan Alam”. Forum Arkeologi No. 1 (23): 163-175.

 

Yuwono, J. Susetyo Edy. 2007. "Kontribusi Aplikasi Sistem Informasi Geografis Dalam Berbagai Skala Kajian Arkeologi Lanskap." Berkala Arkeologi No. 2 (XXVII): 107-136.

 

Vink, AP.A., 1983, Landscape Ecology and Landuse, London – New York: Longman.