EKOLOGI POLITIK DALAM PERLUASAN WILAYAH

KADATUAN SRIWIJAYA BERDASARKAN PRASASTI

 

POLITICAL ECOLOGY IN SRIVIJAYA TERITORRY EXPANSION BASED ON SOME INSCRIPSTIONS 

 

Muhamad Alnoza1, Rafael Arya Bagas Ananta2, dan Mentari Putri Ramadhanti3

Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Jalan Selo Soemardjan, Kampus UI Depok, Jawa Barat

 

Reception date : 05/12/2019

Last Revision: 03/04/2020

Acceptation date: 21/04/2020

Published: 26/05/2020

To Cite this article : Alnoza, Muhamad, Rafael Arya Bagas Ananta, and Mentari Putri Ramadhanti. 2020. “EKOLOGI POLITIK DALAM PERLUASAN WILAYAH MASA SRIWIJAYA: BERDASARKAN BEBERAPA BUKTI TERTULIS.” Berkala Arkeologi Sangkhakala 23(1). Medan, Indonesia, 58-72. https://doi.org/10.24832/bas.v23i1.368.

 

Abstract

Srivijaya is a federation state in Nusantara on the 7th century AD. Dapunta Hyang as the first of Datu Sriwijaya, was first mentioned in the Kedukan Bukit Inscription (606 AD). In its development, Srivijaya's authority which began in Palembang began to develop into the surrounding areas. Evidence of this expansion of Srivijaya is recorded in the Srivijaya inscriptions found in these areas. The inscriptions found generally contain curses about people who rebel against unity. This paper is intended to reconstruct the ecological considerations made by Srivijaya in expanding its territory. This paper connects the location of the discovery of the inscription, the composition of the contents of the curse of the inscription and number of inscriptions to find out the priority scale of the Sriwijaya territory. The analyzed data is then compare it with the ecological conditions of each region. In interpreting the expansion of the region based on ecological and geographic conditions, political ecology theory is used. Finally, it can be seen that Palembang is the axis of unity, because of the many inscriptions found and the curse composition in the inscriptions. Palembang has a wealth of natural resources and the most favorable geographical conditions for the Sriwijaya Union. The inscription discovery area outside Palembang is a hinterland area, whose natural wealth is used as a commodity for Kadatuan Sriwijaya

 

Keywords: ecology;hinterland; inscription;Srivijaya 

 

Abstrak

Sriwijaya adalah sebuah kedatuan yang berdiri di Nusantara pada abad ke-7. Nama Dapunta Hyang sebagai nama Datu Sriwijaya, pertama kali disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 606. Dalam perkembangannya, kekuasaan Sriwijaya yang bermula di Palembang mulai berkembang ke daerah-daerah di sekitarnya. Bukti mengenai perluasan Sriwijaya ini tercatat pada prasasti Sriwijaya yang ditemukan di daerah-daerah tersebut. Prasasti yang ditemukan tersebut umumnya berisi soal kutukan-kutukan pada orang yang memberontak pada kedatuan. Tulisan ini bertujuan untuk merekonstruksi pertimbangan ekologi yang dilakukan Kadatuan Sriwijaya dalam memperluas wilayahnya. Tulisan ini menghubungkan letak penemuan prasasti, komposisi isi kutukan prasasti dan jumlah prasasti untuk mengetahui skala prioritas daerah kekuasaan Sriwijaya. Data yang telah dianalisis tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi ekologi tiap-tiap daerah. Dalam menginterpretasi perluasan wilayah berdasarkan kondisi ekologi dan geografi, digunakan teori political ecology  Pada akhirnya, dapat diketahui bahwa Palembang merupakan poros dari kedatuan, oleh karena banyaknya prasasti yang ditemukan serta komposisi kutukan dalam prasasti. Palembang memiliki kekayaan sumber daya alam dan kondisi geografi yang paling menguntungkan bagi Kedatuan Sriwijaya. Daerah penemuan prasasti di luar Palembang merupakan daerah hinterland, yang kekayaan alamnya dimanfaatkan sebagai komoditas Kadatuan Sriwijaya.

 

Kata kunci: ekologi; hinterland; prasasti; Sriwijaya

 

PENDAHULUAN

Nama Sriwijaya muncul pertama kali dalam kajian yang dilakukan H. Kern pada tahun 1913 terhadap prasasti yang ditemukannya di Bangka. Nama Sriwijaya oleh Kern ditafsirkan pertama kali sebagai nama seorang raja, Sri Paduka Wijaya. Nama ini kemudian direvisi tafsirannya oleh Goerge Coedes (1918) dalam Le Royaume de Srivijaya sebagai nama sebuah kerajaan yang berkuasa di Swarnadwipa. Hal ini berkaitan dengan beberapa prasasti lain di Thailand dan India yang menyebutkan riwayat sebuah kerajaan yang berkuasa di Swarnadwipa (Coedes 2014, 1–28)

Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritim yang diperkirakan muncul dalam panggung sejarah di Indonesia pada abad ke-7. Berdasarkan banyak interpretasi yang dimiliki oleh para peneliti, kerajaan ini diperkirakan berpusat dan berkembang di Sumatera. Hal ini didukung dengan penemuan beberapa prasasti serta temuan arkeologis di beberapa situs di Sumatera. Bukti prasasti tertua yang menyebutkan akan keberadaan Sriwijaya, termuat dalam prasasti Kedukan Bukit (682) yang ditemukan di Palembang (Poesponegoro and Notosusanto 2010, 70–71). Prasasti tersebut berisikan cerita mengenai perjalanan suci (Jaya Siddhayatra Sarwwasatwah) yang dilakukan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa dari Minanga Tamwan menuju Mukha Upang. Selama perjalan tersebut, Dapunta Hyang Sri Jayanasa membawa tentaranya (baik yang berjalan di darat maupun di atas kapal) beserta beberapa harta (Soeroso 2017, 13–22).

Kajian akan Sriwijaya dalam sejarah Nusantara kerap kali berujung pada perdebatan, terutama pada kajian mengenai pusat dan pengaruh dari Sriwijaya. Para peneliti memiliki pelbagai pendapat serta argumen tersendiri mengenai pusat dan pengaruh Sriwijaya. Banyak ahli yang kemudian menerjemahkan data arkeologis yang ada (berupa artefak dan prasasti) dalam menentukan letak pusat Kerajaan Sriwijaya beserta pengaruhnya. Beberapa peneliti sepakat bahwa Palembang merupakan pusat dari Kerajaan Sriwijaya. Hal ini berdasarkan kepada banyaknya prasasti yang ditemukan di Palembang. Boechari melihat bahwa Sriwijaya pada masa awal berpusat di Batang Kuantan. Namun sebagian lagi berpendapat bahwa pusat Sriwijaya perlu dicari lebih lanjut di Jawa dan Chaiya. Teori yang dikemukan para ahli menyimpulkan bahwa  Sriwijaya telah meluaskan pengaruhnya hingga Pantai Timur Sumatera, Bangka, Jawa bagian barat serta Semenanjung Melayu (Poesponegoro and Notosusanto 2010, 82–85).

Masyarakat Sriwijaya dalam perkembangannya rupanya juga memiliki sebuah pemaknaan tersendiri terhadap lingkungan. Pemaknaan terhadap lingkungan oleh masyarakat Sriwijaya saat itu tercermin pada prasasti Talang Tuo (684) yang ditemukan di Palembang. Prasasti ini secara umum berisi mengenai pembangunan Taman Sri Ksetra oleh Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa (Utomo 2010, 20). Berdasarkan prasasti tersebut, Yenrizal (2018, 841) berpendapat bahwa terdapat tujuh nilai utama masyarakat Sriwijaya dalam memaknai lingkungan. Pertama, masyarakat Sriwijaya saat itu telah mengenal sistem penanaman tanaman wajib yang sifatnya beragam. Kedua, masyarakat Sriwijaya masa itu telah mengenal sistem penanaman tanaman ramah lingkungan (bambu, waluh dan lain-lain). Ketiga, masyarakat telah memunculkan nilai pentingnya irigasi atau saluran air. Keempat, masyarakat Sriwijaya memperhatikan aspek lingkungan yang ramah bagi semua makhluk hidup. Kelima, masyarakat Sriwijaya menyadari pentingnya kriteria pemimpin yang perhatian terhadap lingkungan. Keenam, bentuk kecintaan terhadap lingkungan ialah manifestasi dari kecintaan terhadap Tuhan. Ketujuh, kecintaan terhadap lingkungan berarti kecintaan terhadap kehidupan sosial bermasyarakat.

Pernyataan di atas, tentu lingkungan merupakan salah satu aspek yang menjadi perhatian masyarakat Sriwijaya. Hal ini dapat pula didukung melalui teori ekologi politik. Secara umum, ekologi politik membahas mengenai pola hubungan antara manusia dengan non-manusia seperti lingkungan sekitar. Political ecology of scale (skala ekologi politik) menyoroti beberapa hal, yakni (1) interaksi kekuasaan, agensi, dan skala; (2) proses dan penskalaan sosioekologis; dan (3) jaringan skala. Penelitian political ecology of scale menyoroti kualitas relasional dan jaringan konfigurasi spasial dari dinamika sosial-lingkungan. Hal ini menyoroti cara jaringan aktor (manusia dan non-manusia) melampaui skala spasial tunggal untuk menghasilkan spasial sosio-lingkungan relasional baru (Neumann 2009, 403–4).

Tulisan ini berusaha untuk memberi satu perspektif baru terhadap wilayah kekuasaan Sriwijaya berdasarkan pertimbangan lingkungan yang sebelumnya telah disebut. Perspektif ini nantinya diharapkan mampu menjadi sumbangsih terhadap perkembangan penelitian mengenai kerajaan Sriwijaya secara umum. Tujuan penelitian tersebut dimanifestasikan terhadap sebuah rumusan masalah. Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah apakah lingkungan mempengaruhi Kadatuan Sriwijaya dalam memperluas wilayah kekuasaannya berdasarkan bukti prasasti sezaman yang ada?

 

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian arkeologi. Metode penelitian arkeologi terdiri dari beberapa prosesi, yaitu tahap perumusan masalah, pengumpulan data, analisis data dan interpretasi (Sharer &  Ashmore 2003, 156). Tahapan penelitian ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang sebelumnya telah disebutkan. Tahap perumusan masalah, dilakukan perumusan masalah utama dalam penelitian penulis. Tahap selanjutnya dilakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan terhadap sumber data utama. Dari data utama yang didapatkan data epigrafi dari prasasti masa Sriwijaya. Adapun dalam mengambil data, prasasti yang dijadikan data adalah prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Sriwijaya (dalam hal ini terdapat nama raja dalam prasasti tersebut). Data lain (sekunder) yang menjadi pembanding dari data epigrafi ini ialah data geomorfologi serta lingkungan masa Sriwijaya. Setelah data epigrafi dan geomorfologi terkumpul, dilakukan analisis khusus melalui perbandingan kedua data tersebut. Adapun hasil analisis tersebut diinterpretasi dengan menganalogikannya pada nilai lingkungan serta sejarah Kerajaan Sriwijaya 

Aliran arkeologi pasca-prosesual menjadi paradigma yang digunakan dalam permasalahan penelitian ini. Paradigma ini menitikberatkan kepada penolakan narasi besar dan objektivitas dari penelitian arkeologi. Paradigma ini berusaha untuk mengangkat soal aspek-aspek yang lebih personal dan subjektif dari suatu data arkeologi. Sudut pandang etik dan emik berperan penting dalam merekontruksi kebudayaan masa lampau melalui tinggalan arkeologi (Kelly & Thomas 2010, 39). Paradigma ini sesuai digunakan dalam menafsirkan hasil analisis terhadap data prasasti yang multi-tafsir.

 

HASIL PENELITIAN

Prasasti Masa Sriwijaya

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti ini ditemukan oleh Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di pemukiman keluarga Melayu di Desa Kedukan Bukit di tepi Sungai Tatang, anak Sungai Musi, di kaki Bukit Siguntang yang letaknya di sebelah barat daya Kota Palembang sekarang. Penemuan ini dimuat dalam laporan kepurbakalaan untuk triwulan keempat tahun 1920 bersamaan dengan penemuan Prasasti Talang Tuwo. (Damais 2014, 50). Prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dan beraksara pasca-Pallawa. Berikut isi prasasti setelah dialihbahasakann dalam bahasa Indonesia,

“Semoga selamat sentosa Pada tanggal 11 Bulan Waisaka paro terang tahun 604, Dapunta Hiyaŋ menaiki perahu untuk maṅalap siddhayātra. Pada tanggal  7 paro terang bulan Jyeṣṭha,  Dapunta Hiyaŋ berlepas dari mināṅa tāmwan bersama dengan 20.000 pasukan dan 200 peti yang dibawa melalui berjalan dan berkapal. 1312 orang (dari rombongan ini) telah sampai ke mukha upaŋ dengan bahagia. Pada tanggal 5 paro terang bulan Asadha, ia datang dan membangun permukiman ini secara riang gembira. Sriwijaya gilang-gemilang, perjalanan suci berhasil dan diberkati selama-lamanya” (Boechari 2012b, 388–89).

Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur merupakan salah satu prasasti yang ditemukan di Bangka, di sebelah Sungai Menduk dalam peta buatan Stemfort dan Ten Siehoff. Keterangan topografi tersebut diberikan tahun 1909 kepada Rouffaer oleh J.K. van der Meulen yang menemukan prasasti tersebut pada Bulan Desember 1892. Ketika ditemukan, letaknya di sisi puing-puing sebuah tembok dari tanah. Brandes sendiri yang menaruh perhatian terhadap Prasasti Kota Kapur itu. Prasasti itu disebutnya dalam karangannya yang berjudul Oudheden dalam Encyclopaedie van Ncderlandsch lndie dan dikatakannya beraksara wengi, dengan angka tahun Saka 608 (?). Prasasti ini ditulis dalam bahasa sejenis bahasa Melayu yang menuturkan soal kutukan terhadap barang siapa berani merusak batu itu (Damais, 2014: 66)

“Keberhasilan! [disusul mantra kutukan yang tak dapat diartikan]. Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan yang melindungi Provinsi [kadatuan] Sriwijaya [ini]; juga kau Tandrun luah [?] dan semua dewata yang mengawali setiap mantra kutukan!

Bilamana di pedalaman semua daerah [bhumi] [yang berada di bawah provinsi (kadatuan) ini akan ada orang yang memberontak [ ... ] yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak, yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk; biar sebuah ekspedisi [untuk melawannya] seketika dikirim di bawah pimpinan datu [atau beberapa datu?] Sriwijaya, dan biar mereka dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagi pula biar semua perbuatannya yang jahat, [seperti] mengganggu ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra; racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, [semoga perbuatan-perbuatan itu] tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu, biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tidak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk, setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, semoga moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya: dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari becana, kelimpahan segalanya untuk semua negeri mereka!

Tahun Saka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha, pada saat itulah kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang Tanah [bhumi] Jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya”. (Damais, 2014: 68-69)

Prasasti Telaga Batu

Prasasti ini pertama kali ditemukan pada tahun 1935, di daerah Telaga Batu, Sabokinking, sebelah timur Kota Palembang. Prasasti ini pertama kali dideskripsikan dan dibaca oleh Stutterheim, Prasasti ini secara kesuluruhan berbahasa Melayu Kuno dan bertuliskan aksara pasca-Pallawa (de Casparis, 1956: 35). Berikut terjemahan dari isi prasasti Telaga Batu,

“Om! berhasil! Kalian semuanya, berapa pun kalian, anak-anak raja, pemimpin, panglima tentara, nayaka, pratatya, orang kepercayaan raja, hakim, pengawas sekelompok pekerja, pengawas kasta rendah, pemotong (tukang kebun?), kumaramatya, catabatha, adhikarana, juru tulis, pematung, nahkoda kapal, pedagang, komandan, tukang cuci dan budak raja. Kalian semua akan dibunuh dengan kutukan, apabila kamu tidak tunduk kepadaku. selain itu, apabila kamu berlaku seperti penghianat, bersekongkol dengan mereka yang bersentuhan dengan musuhku atau ketika kamu datang pada datu yang merupakan mata-mata musuh, kamu akan dibunuh dengan kutukan. Apabila kamu masuk ke dalam rombongan dari musuh atau para Datuk yang memata-matai diriku untuk orang lain atau keluarga dan temanku atau budakku atau pemimpin lain yang memata-matai orang. Dan apabila kamu bersentuhan dengan penghianat yang berencana melawan aku sebelum mereka bersama dirimu orang orang yang bersekongkol kepadaku dan kepada kerajaanku dan kalau kamu pergi kepada mereka, kamu akan dibunuh dengan cara dikutuk. Selain itu apabila kamu berencana untuk menghancurkan prasasti ini atau mencurinya, siapa pun kamu dari kelas rendah menengah atau tinggi, atas dasar itu, atau kamu berencana untuk menyerang keratonku, kamu akan dibunuh dengan cara dikutuk. Selain itu kalau kamu mengganggu haremku untuk mendapatkan pengalaman tentang isi dari istanaku  dan datang untuk bersentuhan dengan mereka yang membawa emas dan harta bendaku atau kau bersentuhan dengan orang yang bekerja di dalam istana aku sebelum orang itu pensiun atau dengan laki-laki yang mengantarkan harta benda aku keluar dari kerajaan dan itu ternyata dari dirimu yang membawanya pergi kepada Datuk yang memata-matai diriku, kamu akan dibunuh dengan cara dikutuk. Selain itu apabila kamu mati sebelum berhasil menghancurkan kerajaanku atau pergi untuk meminta bantuan kau akan dibunuh dengan cara dikutuk. Atau kalau kamu hendak menghabiskan emas dan perhiasan untuk menghabiskannya untuk menghancurkan keratonku atau digunakan untuk dipakai bersama-sama di antara kamu atau diberikan kepada orang yang bisa membuat orang lain sakit, dan kau tidak setia dan tunduk kepada aku dan kratonku, maka kamu akan dibunuh oleh kutukan. Dan apabila kamu yang menyuruh \keluargamu untuk berkonspirasi membuat mangkok berisi darah, kau akan dibunuh oleh kutukan. Kendati demikian kalau kamu merencanakan untuk melawan diriku dari negeri seberang, kamu akan dibunuh dengan kutukan. Barang siapa yang membuat seseorang menjadi gila, dengan pelbagai perantara, seperti abu, obat, mantra, kecuali berdasarkan perintahku, gambarku, kustha, sihir cinta (pelet), atau sesuatu yang memberikan kekuatan kepada orang lain; dan atau kamu mengajak seseorang untuk bergabung dengan pihakmu, kamu akan dibunuh dengan dikutuk. Atau apabila kamu memerintah seseorang untuk melakukan perlakuan keji ini, maka kamu akan dibunuh dengan cara dikutuk. Apabila orang ini telah kamu hukum sendiri, aku tidak akan mempermasalahkan dirimu. Apabila kamu memerintah kepada orang yang telah kujadikan datu dan memiliki fungsi parvanda, kamu akan dibunuh dengan dikutuk. Apabila ada orang yang berada di bawah tanggung jawabmu melakukan sesuatu terhadapku (?), maka kamu akan dibunuh dengan dikutuk. Apabila kamu ada pemberontakan, maka-kamu tidak akan dibunuh dengan kutukan. Apabila kamu menggunakan mantra untuk membuat daerah jajahanku merdeka, kamu akan dibunuh dengan kutukan. Apabila kamu sedang mabuk, maka kamu akan dihukum. Tapi, apabila kamu kembali ke tempat tinggal kamu sendiri, maka kamu tidak dihukum. Siapapun yang dilantik oleh datu, haruslah tunduk kepadaku. Apabila kamu berada di persekutuan  musuh-musuhku, kamu akan mati dengan cara dikutuk. Apabila ada seseorang yang menghasut keluargamu, klanmu, teman atau keturunanmu untuk melawanku, kamu tidak akan dihukum. Apabila kamu yang bersalah bermukim bersama pangeran mahkota (atau pangeran lain), maka akan dihukum. Apabila kamu memerintahkan pasukan untuk menyerangku, kamu akan mati karena dikutuk (de Casparis 1956, 36–46).”

Prasasti Palas Pasemah

Palas Pasemah pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Desa Palas Pasemah, Kalianda, Lampung Selatan. Inskripsi ini ditemukan tidak jauh dari Sungai Way Pisang, yang merupakan anak sungai dari Sungai Way Sekampung. Prasasti ini memiliki isi yang tidak jauh berbeda dengan Prasasti Karang Berahi. Palas Pasemah diketahui memiliki dialek yang berbeda dengan bahasa dari prasasti-prasasti lain. Dialek ini disebut sebagai dialek bahasa B (Boechari 2012a, 361–63). Berikut isi dari Prasasti Palas Pasemah:

“kepada seluruh dewata yang melindungi Sriwijaya. Kepada, pula, tandrun luah, dan seluruh dewata yang menjadi akar bahan pembentuk yang tidak sempurna ini. (Apabila) terdapat orang  di dalam kawasan kerajaanku yang memberontak, membelot, berbicara dengan pemberontak, mendengarkan pemberontak, mengetahui pemberontak, tidak setia terhadapku dan kepada orang yang kulantik sebagai datu, akan dibunuh beserta keluarga dan klannya oleh gubernur yang ditunjuk oleh penguasa. Barangsiapa yang membuat seseorang menghilang, membuat orang sakit, membuat orang menjadi gila, membuat mantra sihir, meracuni seseorang dengan upas dan tuba, memelet (sihir cinta), maka ia telah berbuat buruk yang menimbulkan dosa. Dan apabila ia tunduk dan mengabdi kepada diriku dan datu yang kulantik, maka akan diberkatilah seluruh keluarga dan klannya. Dan kemakmuran, kekayaan, kebahagiaan, kesehatan, keselamatan dan keamanan akan melingkupi negara tersebut (Boechari 2012a, 366)

Prasasti Karang Brahi

Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh L. Berkhout, seorang kontrolir Belanda, di Desa Karang Berahi pada 1904. Karang Berahi ditemukan berdekatan dengan hulu Sungai Merangin, Jambi. Pada saat pertama kali ditemukan, prasasti ini terletak di tempat wudhu sebuah masjid. Prasasti ini pertama kali dibaca oleh Kern pada 1906, setelah residen Palembang J.A. van Rijn van Alkemade membuat kertas acuan akan prasasti tersebut. Catatan mengenai prasasti ini baru diterbitkan pada tahun 1920 oleh Krom (Damais 2014, 61-62). Berikut isi dari Prasasti Karang Berahi:

“Keberhasilan! Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan yang melindungi Propinsi Sriwijaya; juga kau Tandrun luah [?] dan semua dewata yang mengawali setiap mantra kutukan! Bilamana di pedalaman semua daerah akan ada orang yang memberontak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak, yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat , yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk; biar sebuah ekspedisi seketika dikirim di bawah pimpinan Datu Srlwijaya, dan biar mereka dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagi pula biar semua perbuatannya yang jahat, mengganggu ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra; racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu, biar pula mereka mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk, setia kepada saya dan kepaada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga  usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebasan dari bencana, kelimpahan segalanya untuk semua negeri mereka! Tahun Saka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha, pada saat itulah kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Srlwijaya baru berangkat untuk menyerang Tanah [bhumi] Jawa yang tidak takhluk pada Sriwijaya (Damais, 2014: 64- 65).”

Prasasti Talang Tuwo

Prasasti ini pertama kali ditemukan oleh L.C. Westenenk di Karanganyar, Palembang Barat pada tahun 1920. Prasasti ini pertama kali dibaca oleh Bosch dan kemudian berturut-turut oleh Ronkel dan Coedes. Prasasti Talang Tuwo berbentuk segi empat dan terbuat dari batu andesit. Berikut isi dari Prasasti Talang Tuwo (Raswaty 1997, 23–24).

“Kemakmuran!!! Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat Baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka. Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak bisa tidur. Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan bintang menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka. Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagipula semoga teman-teman mereka tidak menghianati mereka dan semoga istri mereka menjadi istri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah. Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir pikiran Boddhi dan persahabatan (...) dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu. Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahāsattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahmā. Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah batu ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan penerangan sempurna lagi agung” (Damais 2014, 57-60).

Prasasti Bungkuk

Prasasti Bungkuk ditemukan pertama kali di daerah Karanganyar, Desa Bungkuk, Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Tengah pada tahun 1985. Prasasti ini direkam pertama kali atas instruksi Uka Tjandrasasmita. Secara keseluruhan, prasasti ini memiliki kesamaan inti penulisan dengan Palas Pasemah, Karang Brahi dan Kota Kapur. Hanya saja, prasasti ini memiliki beberapa kerusakan di beberapa bagian, sehingga tidak lengkap terbaca (Boechari 2012a, 365). Berikut isi dari Prasasti Bungkuk:

“Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan yang melindungi Provinsi [kadatuan] Sriwijaya [ini]; juga kau Tandrun luah [?] dan semua dewata yang mengawali setiap mantra kutukan!

Bilamana di pedalaman semua daerah [bhumi] [yang berada di bawah provinsi (kadatuan) ini akan ada orang yang memberontak [ ... ] yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak, yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takhluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk; biar sebuah ekspedisi [untuk melawannya] seketika dikirim di bawah pimpinan Datu Srlwijaya, dan biar mereka dihukum bersama marga dan keluarganya. ……. (Boechari 2012b, 386).”

Prasasti Boom Baru

Prasasti ini ditemukan pertama kali di daerah pemakaman raja-raja Palembang di Kawah Tengkurep, Boom Baru, Palembang Timur. Tempat penemuan ini berdekatan dengan Pelabuhan Boom Baru di Sungai Musi. Prasasti Boom Baru ditemukan dalam kondisi pecah, sehingga sebagian tidak terbaca (Atmodjo and Soekarto 1994, 3). Berikut isi dari prasasti tersebut:

“Durhaka apabila dia tidak berbakti dan tunduk kepadaku dengan ….. dibunuh dia oleh sumpah dan supaya dia hancur oleh …. yang dengan sanak keluarganya… menyebabkan orang hilang ingatan, menyebabkan orang sakit, menyebabkan orang menjadi gila, meracuni orang dengan tuba, mengguna-guna orang supaya cinta, mengguna-guna supaya orang tunduk pada kemauannya dan demikian selanjutnya…. kembali lagi ke asalnya ke dosanya lagi, tetapi apabila ia tunduk dan berbakti kepadaku dan taat kepada aturan datu (Sriwijaya), ia akan mendapatkan kembali kesantausaan dan keselamatan, sehat wal afiat dan terbebas dari beban malapetaka. Makmur seluruh negara….. (Atmodjo and Soekarto 1994, 3–4).”

Paleogeografi daerah Timur Sumatera

Paleogeografi daerah Sumatera Timur berdasarkan data-data geologis dan sejarah menjelaskan beberapa hal. Dataran sepanjang pantai timur Sumatera yang merupakan rawa-rawa dulunya merupakan daerah lautan. Pada sebelah barat lautan tersebut berbatasan dengan Bukit Barisan yang merupakan dataran tinggi atau rendah. Bagian-bagian tertentu dari dataran tersebut menjorok jauh kelautan dan di antara tanjung-tanjung tersebut terdapat teluk-teluk yang terdapat seperti yang dialiri oleh Sungai Batanghari dan Batang Tembesi. Catatan kuno (Cina) menyebutkan teluk tersebut sebagai “Teluk Wen”, yang dimungkinan pada daerah teluk tersebut kemungkinan terdapat pusat kerajaan, sedangkan pada ujung tanjung terdapat pelabuhan atau kota maritim. Kerajaan-kerajaan menguasai dan melakukan kontrol atas pelayaran India-Cina. Garis pantai lebih lama bergeser ke arah timur menuju Selat Malaka (Sartono 1978, 63).

Interpretasi mengenai gejala-gejala geologis yang terjadi di Timur Sumatera menurut Sartono (1978, 47–49) berdasarkan data seperti sedimentasi fluvial (sungai), sedimentasi marin (lautan), Kjokkenmoddinger (bukit sampah), undak pantai, vegetasi rhizofora, dan kegiatan vulkanisme menghasilkan sebuah interpretasi bahwa terdapat pendangkalan yang relatif cepat, pantai timur Sumatera termasuk “pantai terbenam” (drowned coast), pengangkatan mempengaruhi pantai timur Sumatera, dan perubahan terhadap letak garis pantai purba masa sejarah.

Palembang

Secara astronomis Palembang terletak antara 104° 42' hingga 104° 48' Bujur Timur dan 2° 57' Lintang Selatan. Secara keseluruhan Palembang dan sekitarnya terletak di dataran aluvial di pantai timur Sumatera bagian selatan. Daerah ini bertopografi datar hingga berbukit rendah dengan ketinggian antara 2,5 m hingga 25 m di atas permukaan laut. Pada dataran rendah yang berawa terdapat tanggul alam sungai yang rendah yang pada saat air sungai surut tidak tergenang air dan pada saat air sungai penuh terutama pada musim hujan, area tersebut tergenang air (Raswaty 1997: 86).

Berdasarkan peta lereng, wilayah Provinsi Palembang dapat dibedakan menjadi tiga kelas lereng, 2-15%, 15-40%, dan lebih dari 40%. Pada kelas lereng 2-15% sebagian besar terletak di wilayah lipatan pedalaman. Situs yang terdapat pada kelas lereng ini adalah Situs Lesung Batu dan Baturaja. Pada kelas 15-40%, dan lebih dari 40% berada di wilayah vulkanik. Situs yang terdapat pada kelas lereng ini adalah Situs Tebing Tinggi, Bunga Mas, dan Jepara. Sebagian besar situs-situs di Palembang terletak di wilayah rawa. Banyaknya situs-situs tersebut pada bentuk lahan seperti ini sangat mungkin dikarenakan memiliki derajat kelerengan yang datar, mengandung tanah aluvial yang umumnya subur, dan lokasinya berasosiasi dengan sungai yang memungkinkan adanya akses melalui air. Selain itu situs-situs ini letaknya strategis di daerah yang dekat dengan tepi pantai. Hambatan yang biasanya dihadapi orang pada wilayah rawa adalah adanya bahaya banjir atau genangan dan drainase yang kurang baik. Jenis tanah yang di Palembang sebagian besar glei humus, terutama pada jenis tanah asosiasi glei humus dan organosol (Bakorsurtanal and UGM 1985).

Jambi

Secara astronomis Jambi terletak antara 101,10° hingga 104,55° Bujur Timur, 0,45° Lintang Utara, dan 2,45° Lintang Selatan. Berdasarkan peta lereng, wilayah Provinsi Jambi dapat dibedakan menjadi empat kelas lereng, 0-2%, 2-15%, 15-40%, dan lebih dari 40%.  Sebagian besar-situs yang ada di Jambi berada pada kelas lereng 0-2%, sejumlah 52 situs. Pada daerah dengan kelas lereng seperti ini terdapat dataran aluvial pantai dan dataran aluvial, dan sebagian besar terletak di bagian timur Jambi Terdapat 14 situs yang berada pada kelas lereng kemiringan landai 2-15% yang merupakan lereng kaki perbukitan rendah. Salah satunya adalah Situs Karang Berahi yang merupakan tempat ditemukannya Prasasti Karang Berahi.  Terdapat 17 situs yang berada pada kelas lereng 15-40% yang merupakan perbukitan dan pegunungan. Pada kelas lereng yang terakhir dengan kemiringan lebih dari 40% terdapat 8 situs yang ditemukan. Kelas lereng 40% terletak di daerah gawir sesar yang terdapat sisi dari graben (Raswaty 1997).

Bentuk lahan yang terdapat di wilayah Jambi yaitu, dataran aluvial perbukitan lipatan, gunung api tua, gunung api muda, serta perbukitan atau pegunungan bebatuan beku dan metamorf. Sekitar 50 % situs terletak pada dataran aluvial. Terdapat situs-situs pada lahan seperti ini sangat wajar dikarenakan memiliki kemiringan lereng yang datar, berisi tanah aluvial yang umumnya subur, dan alokasi berasosiasi dengan sungai yang memungkin adanya akses melalui udara. Hambatan yang biasanya menyebabkan orang di dataran aluvial adalah adanya bahaya banjir atau genangan dan drainase yang kurang baik. Jenis tanah yang terdapat di wilayah Provinsi Jambi adalah glei humus rendah, organosol, aluvial, andosol, podsolik, latosol, kompleks litosol dan podsolik, serta podsolik merah-kuning.  Hanya terdapat empat situs yang terdapat pada jenis organosol (gambut). Jumlah situs yang terdapat pada jenis podsolik cukup  banyak yaitu 22 situs. Pada jenis tanah aluvial terdapat 20 situs, sedangkan pada jenis tanah andosol terdapat 16 situs (Bakorsurtanal and UGM 1985).

Lampung

Secara astronomis Lampung terletak pada 103 ⁰ 40 ‘ hingga 105 ⁰ 40’ Bujur Timur dan 3 ⁰ 45′ hingga 6 ⁰ 45′ Lintang Selatan. Berdasarkan peta lereng, wilayah Lampung dapat dibedakan menjadi empat kelas lereng, 0-2%, 2-15%, 15-40%, dan lebih dari 40%. Sebagian besar wilayah Lampung berada di pada kelas lereng 0-2 %, seperti di dataran rendah, tepi pantai, dan sepanjang aliran besar sungai. Situs-situs yang berada pada kelas lereng 0-2% adalah Situs Sukadana, Jabung, dan Pugungraharjo di Kabupaten Lampung Tengah; Situs Palas di Kabupaten Lampung Selatan, dan di Kabupaten Lampung Barat meliputi Situs Pesisir Utara dan Pesisir Selatan. Pada kelas lereng 2-15% terdapat di daerah yang terletak di sebelah timur garis Telukbetung sampai Tanjungkarang.  Bagian yang tertinggi terletak dekat Telukbetung dengan tinggi antara 110-130 m dpl.  Sementara bagian terendah terletak di sepanjang Jalan Sekampung dengan ketinggian 12-18 m dari permukaan laut.  Di sepanjang Jalan Sekampung ini ditemukan lebih banyak peninggalan arkeologis, seperti situs Karanganyar atau Bungkuk tempat ditemukannya Prasasti Bungkuk dan Situs Pugungraharjo yang berisi temuan dari masa prasejarah hingga klasik. Selain itu terdapat juga Situs Sukadana yang terdapat pintu gerbang dari masa Islam di dalamnya.  Semua situs ini berada di Kabupaten Lampung Tengah. Pada bagian-bagian yang tinggi muncul bukit-bukit kecil, seperti Gunung Kedaton di Kodya Bandar Lampung yang terdapat situs Kedaton yang berisi temuan berisi Benteng Raden Intan, Gunung Pahoman, Balau Merbau, dan sebagainya. Kelas lereng kemiringan 15-40%, meliputi Kabupaten Lampung Barat, Lampung Utara dan Lampung Selatan. Situs yang berada pada kelas lereng 15-40% adalah Sumber Jaya di Kabupaten Lampung Barat.  Kelas lereng kemiringan lebih dari 40%, terletak di bagian barat wilayah Lampung dan merupakan lanjutan dari pegunungan Barisan. Situs yang terdapat pada kelas lereng lebih dari 40% adalah situs-situs di Kecamatan Balik Bukit dan Belalau di Kabupaten Lampung Barat. Bentuk lahan yang terdapat di wilayah Lampung yaitu, wilayah dataran rendah (A) dan wilayah pegunungan (B). Wilayah dataran rendah ini meliputi wilayah rawa atau dataran alluvial timur (Al), dataran rendah timur (A2), dan dataran rendah barat atau dataran alluvial barat (A3). Wilayah pegunungan meliputi wilayah vulkanik timur atau tanah vulkanik muda (B1), wilayah patahan turun Semangka atau Lembah Bongkah Jalur (B2), dan wilayah vulkanik barat atau Landas Bengkulu (Bakorsurtanal and UGM 1985).

Situs-situs yang tersebar di Lampung sebagian besar terletak di wilayah dataran rendah timur. Daerah ini mudah digunakan sebagai persawahan dengan kesuburan tanah yang mungkin meningkat, tergantung dari endapan yang dibawa dari sungai yang berasal dari pedalaman.  Hambatan yang terjadi adalah mudah terjadi erosi, dengan kemiringan lereng 2%-15% mewakili daerah yang tidak rata dan tingkat kesuburannya kurang walaupun sudah diperkaya oleh abu Gunung Krakatau. Selain itu situs-situs yang menempati wilayah vulkanik timur atau tanah vulkanis muda, menjadi wilayah yang cukup banyak di Lampung. Situs-situs tersebut terdapat di daerah yang tanahnya berjenis andesit muda dengan abu krakatau yang subur, cocok untuk lahan pertanian dan perkebunan. Bahaya yang harus dihadapi adalah mudah terjadi erosi.  Terdapat situs-situs di wilayah vulkanik barat atau Landas Bengkulu (B3). Kondisi daerah di sini hampir sama dengan dataran barat aluvial. Situs-situs yang memindahkan wilayah patahan hingga semangka atau Lembah Bongkah Jalur adalah situs-situs di Belalau (situs prasejarah) dan Situs Wonosobo. Situs-situs yang terletak di dataran rendah barat atau wilayah dataran di sebelah barat (B3) adalah situs-situs yang terletak di sepanjang pantai barat Lampung, yaitu situs-situs di pesisir utara dan pesisir selatan (Raswaty 1997).

Jenis-jenis tanah di wilayah Provinsi Lampung adalah podsolik merah kuning, alluvial, regosol, hidromorf kelabu, laterit air tanah, andosol, podsolik coklat dan latosol. Situs-situs arkeologis paling banyak ditemukan di daerah dengan jenis tanah latosol dengan sebaran tanah alluvial di dekatnya. Sedangkan situs-situs paling sedikit ditemukan di daerah-daerah dengan jenis tanah hidromorf kelabu yang berasal dari tuf vulkan masam (Bakorsurtanal and UGM 1985).

Bangka Belitung

Secara astronomis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terletak pada 104° 50’ hingga 109° 30’ Bujur Timur dan 0° 50’ hingga 4° 10’ Lintang Selatan. Berdasarkan peta lereng, wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki satu kelas lereng yaitu 0-2%. Pada kelas lereng dengan kemiringan 0-2% terdapat di dataran rawa dan wilayah lipatan pedalaman. Situs Kota Kapur terdapat di kelas lereng 0-2% (Raswaty 1997).

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan data prasasti di atas tergambarkan sebaran temuan prasasti masa Sriwijaya umumnya berasal dari beberapa daerah di Sumatera dan Bangka. Prasasti di Sumatera, yang antara lain terdiri dari Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, Karang Berahi dan Palas Pasemah. Prasasti Kota Kapur merupakan prasasti satu-satunya (dalam kajian ini) yang ditemukan di luar Pulau Sumatera. Sebaran dari prasasti ini dapat dimungkinkan sebagai representasi dari luas pengaruh kekuasaan wilayah Sriwijaya seperti yang terlihat pada Gambar 1 (de Casparis 1956, 15–46; Munandar 2017, 133–34).

Hampir semua prasasti pada masa Sriwijaya berisi mengenai kutukan (kecuali prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo yang masuk dalam pembahasan lain. Tiap prasasti kutukan memberikan penekanan tersendiri terhadap siapa saja pihak yang dikutuk, alasan mengapa seseorang dikutuk dan pihak yang memberi kutukan. Hal ini dapat dilihat dalam tabel analisis sebagai berikut:

Gambar 1. Peta Persebaran prasasti Sriwijaya dengan keterangan: huruf A mewakili Prasasti Karang Brahi, huruf B mewakili prasasti-prasasti yang ditemukan di Palembang, huruf C mewakili Prasasti Kota Kapur, huruf D mewakili Prasasti Palas Pasemah dan huruf E mewakili Prasasti Bungkuk

(Sumber: Google Maps)

Tabel 1. Analisis kutukan pada prasasti

No.

Nama Prasasti

Pihak yang dikutuk

Alasan Pengutukan

Pemberi kutukan/ hukuman

1.

Telaga Batu

Anak-anak raja, pemimpin, panglima tentara, nayaka, pratatya, orang kepercayaan raja, hakim, pengawas sekelompok pekerja, pengawas kasta rendah, tukang kebun, kumaramatya, catabatha, adhikarana, juru tulis, pematung, nahkoda kapal, pedagang, komandan, tukang cuci dan budak raja.

Pemberontakan terhadap raja, konspirasi dengan musuh raja, menyerang keraton, bermabuk-mabukan, masuk ke dalam harem raja, mengambil harta raja, bermain sihir dan lain sebagainya

Datu Sriwijaya

2.

Kota Kapur

Warga dari daerah ditemukannya Prasasti Kota Kapur

memberontak, bermabuk-mabukan, menggunakan praktek sihir, meracuni orang

Datu yang dilantik oleh datu Sriwijaya

3.

Karang Berahi

Warga dari daerah ditemukannya Prasasti Karang Berahi

memberontak, bermabuk-mabukan, menggunakan praktek sihir, meracuni orang

Datu yang dilantik oleh datu Sriwijaya

4.

Palas Pasemah

Warga dari daerah ditemukannya Prasasti Palas Pasemah

Membuat seseorang menghilang, membuat orang sakit, membuat orang menjadi gila, membuat mantra sihir, meracuni seseorang dengan upas dan tuba, memelet (sihir cinta), maka ia telah berbuat buruk yang menimbulkan dosa.

Datu yang dilantik oleh datu Sriwijaya

5.

Bungkuk

Warga dari daerah ditemukannya Prasasti Bungkuk

Memberontak, mengenal para pemberontak, tidak berlaku hormat, tidak tunduk. tidak setia kepada datu yang diangkat oleh datu Sriwijaya

Datu yang dilantik oleh datu Sriwijaya

6.

Boom Baru

Tidak terbaca

Membuat seseorang menghilang, membuat orang sakit, membuat orang menjadi gila, membuat mantra sihir, meracuni seseorang dengan upas dan tuba, memelet (sihir cinta), maka ia telah berbuat buruk yang menimbulkan dosa.

Datu yang dilantik oleh datu Sriwijaya

 

Melalui tabel tersebut diketahui, Telaga Batu menjadi satu-satunya prasasti yang menyajikan kutukan paling lengkap dan rinci dibandingkan prasasti lain. Prasasti kutukan lain yang ditemukan di Palembang adalah Prasasti Boom Baru yang isinya lebih pendek dibandingkan Telaga Batu. Demikian kedua prasasti ini dapat dihubungkan dengan konsep mandala Sriwijaya, yang menjadikan daerah Palembang sebagai poros dan daerah di luarnya sebagai hinterland. Daerah-daerah ini yang kemudian sering disebut sebagai provinsi di bawah Kedatuan Sriwijaya (Kulke 2014, 295). Oleh karena sifatnya yang hanya berupa hinterland, (wilayah pedalaman) prasasti di luar Palembang memang dibuat tidak terlalu rinci dan hanya bersifat mengikat hubungan antara Datu Sriwijaya dengan warga lokal wilayah pedalaman. Hal ini berbeda rupa dengan Prasasti Telaga Batu yang mengikat semua lapisan masyarakat masa Sriwijaya.

Selain beberapa prasasti di atas, Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo juga menjadi sorotan. Menurut Boechari (Boechari 2012c, 398–99), Prasasti Kedukan Bukit bisa dikatakan merupakan sebuah penanda perpindahan ibukota Sriwijaya dari suatu tempat bernama Minanga Tamwan ke Palembang. Prasasti ini turut pula menyebutkan perihal pembuatan pemukiman oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa prasasti ini merupakan batu perintis dari pembentukan ibukota baru Sriwijaya di Palembang. Berkaitan dengan hal itu, Talang Tuo merupakan penanda dari pembentukkan fasilitas berupa Taman Sri Ksetra pada ibukota baru tersebut.

Berkaitannya dengan lingkungan, pertimbangan ekologi dari cakupan wilayah politik kekuasaan Sriwijaya cukup tergambar pada prasasti-prasasti di atas. Palembang secara ekologi merupakan tempat yang paling cocok sebagai pusat perluasan wilayah (mandala) dari Sriwijaya, baik dipandang dari segi epigrafi maupun ekologi. Secara ketersediaan data epigrafis, Palembang merupakan kota yang memiliki prasasti terbanyak. Selain itu, dari segi ekologi, Palembang memiliki peran yang strategis karena merupakan dataran rendah yang subur dan lembab, sehingga cocok untuk pengembangan nilai ekologi masyarakat Sriwijaya yang sebelumnya telah disebut. Hal ini didukung dengan keberadaan Prasasti Talang Tuo di Palembang dan beberapa ekofak lain yang ditemukan di Palembang (Poesponegoro and Notosusanto 2010, 67).

Gambaran mengenai paleogeografis daerah timur Sumatera, khususnya daerah Sumatera Selatan (Palembang) dan sekitarnya (Jambi, Lampung dan beberapa pulau di timur Sumatera), telah mengalami perubahan hingga saat ini. Daerah selat yang dulunya merupakan daerah lautan yang cukup luas untuk dilalui oleh para pedagang mengalami penyempitan dan pendangkalan, daerah-daerah rawa di pantai timur Sumatera dahulu sempat menjadi daerah yang strategis untuk mengatur alur dagang di pantai timur Sumatera, sehingga Palembang menjadi tempat “pemantau” dari adanya aktivitas perdagangan laut tersebut. Alasan lain mengapa Palembang menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya adalah karena pada abad-abad awal (abad V sampai VIII) selat-selat di Kepulauan Singapura, Riau, Lingga, Bangka, dan Belitung diketahui lebih dangkal daripada selat Malaka sehingga perjalanan kapal dari India ke Cina atau sebaliknya terpaksa melewati selat Bangka yang berada di dekat daerah Palembang (Sartono 1978, 70).

Wilayah Jambi merupakan wilayah yang datarannya cukup mirip dengan wilayah Palembang. Dataran rendah dan banyaknya sungai menjadikan daerah tersebut subur. Daerah Jambi pun juga memiliki beberapa daerah tinggi, sehingga menghasilkan beberapa sumber daya tambang yang menjadi komoditas Sriwijaya, seperti misalnya emas (Hall 1985, 85–86). Jambi pada masa lampau juga merupakan pelabuhan yang ideal. Laut Jambi dahulu sangat jauh menjorok ke dalam dari daratan saat ini, sedangkan “Teluk Jambi” dari luar dilindungi oleh berbagai pulau (Timbunan-timbunan tanah neogen-pleistosen seperti di sebelah timur laut Kayu Agung, Palembang). Oleh karena itu, penempatan Jambi sebagai salah satu wilayah jajahan Sriwijaya menjadi wajar.

Wilayah Lampung juga dapat dikatakan merupakan wilayah yang cukup penting. Posisi geografisnya yang berhadapan langsung dengan Jawa menjadi penting. Posisi Lampung dan Bangka (kendati secara ekologi sebenarnya kurang menguntungkan dibandingkan beberapa daerah di Sumatera) merupakan daerah yang cocok dalam mengawasi Bhumi Jawa yang dianggap membangkang pada Sriwijaya. Prasasti Kota Kapur menjadi salah satu bukti akan hal tersebut. Keduanya juga dapat dianggap sebagai daerah penting bagi Sriwijaya, karena perannya dalam mengawasi dua selat besar yang amat berguna bagi perdagangan Sriwijaya, yaitu Selat Bangka dan Selat Sunda. Hal ini pula yang menjelaskan daerah penemuan Prasasti Palas Pasemah yang berada di wilayah pantai timur Sumatera.

Kompleksitas interaksi manusia-lingkungan menuntut pendekatan yang mencakup kontribusi berbagai skala geografis dan hierarki organisasi sosial ekonomi (misalnya, orang, rumah tangga, desa, wilayah, negara bagian, dunia) (Neumann 2009, 398). Pemanfaatan wilayah pantai sebagai salah satu kekuatan Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu bentuk hubungan antara manusia dengan non-manusia dalam hal ini adalah landscape alam. Beberapa bukti keletakkan prasasti masa Sriwijaya memberikan gambaran mengenai luas daerah Sriwijaya serta keadaan paleogeografis daerah Pantai Timur Sumatera yang sangat mendukung untuk kegiatan perdagangan. Masyarakat Sriwijaya memanfaatkan keuntungan ekologis daerahnya untuk keberlangsungan hidup Kerajaan Sriwijaya itu sendiri. Kompleksnya hubungan antara kerajaan, masyarakat dan lingkungan membuat kerajaan ini semakin berkembang dan menjadi kuat. Semakin kuatnya Sriwijaya dapat ditelusuri dengan catatan pengiriman persembahan ke Cina. Terjadi penurunan pengiriman yang dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya ke Cina dan hal ini diasumsikan bahwa Kerajaan Sriwijaya tidak perlu lagi mendapat perlindungan dari daerah Cina karena merasa Sriwijaya sudah cukup kuat sebagai kerajaan yang mandiri

 

KESIMPULAN

Ekologi menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penentuan perluasan wilayah Kadatuan Sriwijaya. Masyarakat Sriwijaya telah mengenal nilai penting lingkungan bagi masyarakat. Unsur lingkungan berupa keletakan geografis, kesuburan suatu daerah serta hasil tambang menjadi beberapa unsur yang penting dalam penentuan wilayah masa Sriwijaya. Prasasti menjadi media dari skala prioritas suatu wilayah. Pertimbangan penentuan wilayah berdasarkan prasasti dan keletakannya memperlihatkan bahwa masyarakat Sriwijaya hidup dan berkembang di daerah rawa yang umum ditemukan di pantai Timur Sumatera.  Penggunaan lahan rawa sebagai tempat tinggal masyarakat Sriwijaya disebabkan karena letaknya yang berdekatan dengan Selat Bangka. Selat Bangka menjadi salah satu jalur laut penting pada masa Sriwijaya karena menjadi satu-satunya jalur yang harus dilalui ketika para pedagang atau agamawan dari daerah Cina hendak pergi ke India, begitupun sebaliknya.

Apabila dilihat secara kuantitas dari jumlah prasasti dan isi dari prasasti yang ditemukan, dapat diketahui bahwa Palembang merupakan poros Kedatuan Sriwijaya. Wilayah pedalaman Sungai Merangin dan Way Sekampung merupakan wilayah hinterland Sriwijaya yang secara geografis memberikan sumber daya alam yang dijadikan komoditas Sriwijaya (terbukti dengan ditemukannya Prasasti Karang Berahi dan Bungkuk). Daerah Palas Pasemah dan Kota Kapur disebut sebagai tempat yang secara geografis ideal sebagai “menara pengawasan” Jawa oleh Sriwijaya

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang membantu terselesaikannya karya ilmiah ini, antara lain Dr. Ninie Soensanti Tedjowasono, S.S., M.Hum. dan Dr. Andriyati Rahayu.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Atmodjo, Sukarto K., and Soekarto. 1994. “Beberapa Temuan Prasasti Baru Di Indonesia.” Berkala Arkeologi XIV: 1–5.

 

Bakorsurtanal, and Fakultas Geografi UGM. 1985. “Laporan Pemetaan Terintegrasi Kepurbakalaan Sriwijaya.” Yogyakarta.

 

Boechari. 2012a. “An Old Malay Inscription of Sriwijaya at Palas Pasemah (South Lampung).” In Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, edited by Ninie Susanti, Hasan Djafar, Edhie Wurjantoro, and Arlo Griffiths, 361–84. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

 

———. 2012b. “New Investigations on the Kedukan Bukit Inscription.” In Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, edited by Ninie Susanti, Hasan Djafar, Edhie Wurjantoro, and Arlo Griffiths, 385–400. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

 

———. 2012c. “New Investigations On The Kedukan Bukit Inscription.” In Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, 385–400. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

 

Casparis, J.G. De. 1956. Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D. Bandung: Masa Baru.

 

Coedes, George. 2014. “Kerajaan Sriwijaya.” In Kedatuan Sriwijaya, 1–40. Depok: Komunitas Bambu bekerjasama dengan EFEO dan Puslitarkenas.

 

Damais, G. Coedes et al. .2014. Kedatuan Sriwijaya: Penelitian tentang Sriwijaya . Jakarta: EFEO dan Puslitarkenas

 

Hall, Kenneth R. 1985. “Trade and Statecraft in Early Śrīvijaya.” In Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia. Hawaii: University of Hawaii Press.

Kelly, R.L., D.H. Thomas.  2010. Archaeology. Belmont: Wadsmorth Cengage Learning

 

Kulke, Hermann. 2014. “Kadatuan Sriwijaya: Imporium Atau Kraton Sriwijaya?” In Kadatuan Sriwijaya, 281–314. Depok: Komunitas Bambu.

 

Munandar, Agus Aris. 2017. Kaladesa: Awal Sejarah Nusantara. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

 

Neumann, Roderick P. 2009. “Political Ecology: Theorizing Scale.” Human Geography 33 (3): 398–406.

 

Poesponegoro, Marwati Djoened, and Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Raswaty, Retno. 1997. “Kerajaan Sriwijaya Abad 7 Dan 8 Masehi Tinjauan Konsep Kekuasaan Raja Berdasarkan Data Prasasti Dan Naskah Berita Asing.” Depok.

 

Sartono, S. 1978. “Pusat-Pusat Kerajaan Sriwijaya Berdasarkan Interpretasi Paleogeografi.” Pusat Penelitian Purbakala Dan Peninggalan Nasional Pra-Seminar Penelitian Sriwijaya.

 

Sharer, Robert, W.Ashmore .2003. Archaeology: Discovering Our Past. Newyork: McGraw-Hill Publisher

 

Soeroso, M.P. 2017. “Jaya Siddhayatra Sarwwasatwah.” In 25th Retrospeksi Balai Arkeologi Sumatera Selatan, 13–22. Palembang: Balai Arkeologi Sumatera Selatan.

 

Yenrizal. 2018. “Makna Lingkungan Hidup Di Masa Sriwijaya: Analisis Isi Pada Prasasti Talang Tuwo.” Aspikom 3 (5): 833–45.