MOTIF HIAS POHON HAYAT PADA NISAN-NISAN DI BARUS

Repelita Wahyu Oetomo

Abstract


Barus yang telah dikenal jauh sebelum ekspansi/kolonialisasi Eropa di Nusantara memiliki jejak peninggalan lama berupa nisan-nisan Islam. Motif hias pohon hayat merupakan salah satu ornamen yang banyak digunakan pada nisan-nisan tersebut. Adapun pohon hayat sendiri merupakan motif hias simbolik yang bersifat universal di Nusantara. Dengan metode observasi dan komparatif, tulisan ini akan mencoba menjawab latar belakang penggunaan motif hias pohon hayat pada nisan-nisan di Barus. Setelah diperbandingkan dengan konsep-konsep pohon hayat yang berlaku di Nusantara, maka ditarik kesimpulan bahwa penggunaan motif hias pohon hayat pada nisan-nisan di Barus menunjukkan terjadinya proses pembauran budaya antara budaya pra-Islam dengan budaya Islam. Selain bersifat dekoratif, motif pohon hayat pada nisan-nisan di Barus mengandung makna simbolik kehidupan setelah kematian.


Keywords


Nisan, Barus, motif hias, pohon hayat

Full Text:

PDF

References


Beer, Robert. 2003 Tibetan Buddhist Symbols. Boston Shambhala Publications

Guillot, Claude (ed.). 2014. Lobu Tua Sejarah Awal Barus. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia; École francaise d’Extreme-Orient; Pusat Arkeologi Nasional.

Koentjaraningrat. 1981. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru

--------------- 1985. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Latif, Umar. 2016 “Konsep Mati dan Hidup Dalam Islam (Pemahaman Berdasarkan Konsep Eskatologis1)” Jurnal Al-Bayan / Vol. 22 No. 34 Juli - Desember 2016. Banda Aceh: Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Hal 27-38.

Medley, Margaret. 1977. A Handbook Of Chinese Art. Singapore: Graham Brash

Muhajirin. 2010 “Dari Pohon Hayat Sampai Gunungan Wayang Kulit Purwa (Sebuah Fenomena Transformasi Budaya)” Imaji Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Fakultas Bahasa Seni Universitas Negeri Yogyakarta Indonesia Vol.8, No. 1, Februari 2010. Hal: 33-51

Ratnawati, LD. 1989. “Variasi Relief Kalpataru pada Candi Prambanan” Proceding Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, 4-7 Juli 1989. Yogyakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Rawson, Philip. 1973. The Art of Tantra. London

Zoetmulder, P.J. 2006. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Website:

http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/662/jbptunikompp-gdl-leomarisco-33084-11-unikom_l-i.pdf diakses 30 April 2018

http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2534 diakses 3 maret 2018

https://opopz.wordpress.com/ 2010/09/18 diakses pada 2 Juli 2018

https://commons.m.wikimedia.org) diakses pada 2 september 2018

http://dajakbooven.blogspot.co.id/2009/09/normal-0-false-false-false-en-un-us-x-none.html) diakses pada 7 Agustus 2018

http:/www.KonsultasiSyariah.com diakses pada 2 Juli 2018

http://tafsirq.com diakses pada 2 Juli 2018 Raja pamusuk di Desa Gunung Tua Julu (Padang Lawas Utara): Mohammad Tahtim Harahap bergelar Baginda Oloan Muda (40 th-petani).


Article Metrics

View Counter : Abstract | 11 | PDF | 6 | Total View | 17 |

DOI: https://doi.org/10.24832/bas.v21i2.365

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.