Artefak Dalam Konteks Pemanfaatan Gua Sebagai Dapur Gambir di Ngalau Datuk Marajo Ali, Lembah Harau, Sumatera Barat

Nenggih Susilowati, Taufiqurrahman Setiawan, Dyah Hidayati, Lucas Partanda Koestoro

Abstract


Abstract
Ngalau (Cave) Datuk Marajo Ali is located at Jorong Koto Nan Gadang, Kenagarian (State) of Pilubang, Harau District, Lima Puluh Kota Regency. Ngalau Datuk Marajo Ali is facing southwest (2100) with an opening of 10 m wide. The depth of its front space is 9.5 m, while behind it is a passage 10 m long with a sloping front slope. The ngalau has wide enough room with low cave roof at the back. The problems are: how are the relations between artifacts, space utility, and the forms of activities that took place at Ngalau Datuk Marajo Ali? How are they compared to the artifacts found at other cave around Harau Valley? The method employed during data collection phase was explorative using inductive reasoning, while the writing method was qualitative-descriptive. In general Ngalau Datuk Marajo Ali has wide enough space without stalactite or stalagmite, and is divided into southwest and northeast sections. The southwest section has lower surface than the northeast section. The rock surface of the northeast section is relatively flat so that it was comfortable to sit or stand there, except in the innermost part. Results of the excavation show that the activities in the southwest section were varied, based on the artifacts, artifactual context, and stratigraphy. It shows that the cave was used several times for different purposes. It is assumed that the activities were related to the Paderi War (1821 – 1838) as a hiding place, a hiding place during Indonesian independence war (before 1945), and gambir processing activities (gambir kitchen) in around 1945s


Abstrak

Ngalau Datuk Marajo Ali terletak di Jorong Koto Nan Gadang, Kenagarian Pilubang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Ngalau Datuk Marajo Ali menghadap ke baratdaya (2100) dengan lebar pintu gua 10 m dan kedalaman ruangan depan 9,5 m dan dibelakangnya terdapat lorong sedalam 10 m dengan lereng di depannya melandai. Ngalau tersebut memiliki dimensi ruang cukup lebar dengan atap gua rendah pada bagian belakang. Adapun permasalahannya adalah bagaimana kaitan antara artefak, pemanfaatan ruang, serta bentuk aktivitas yang berlangsung di Ngalau Datuk Marajo Ali? Bagaimana perbandingan dengan artefak di ngalau-ngalau lain di sekitar Lembah Harau? Metode yang digunakan dalam pengumpulan data bertipe eksploratif menggunakan alur penalaran induktif. Metode penulisannya adalah kualitatifdeskriptif. Secara umum Ngalau Datuk Marajo Ali memilki ruangan yang cukup lapang, tanpa stalagtit dan stalagmit, terbagi menjadi dua yaitu di baratdaya dan timurlaut. Di bagian baratdaya kondisi permukaannya lebih rendah dibandingkan dengan timurlaut. Permukaan bebatuan di timurlaut relatif rata, sehingga nyaman untuk duduk atau berdiri, kecuali di bagian paling dalam. Hasil ekskavasi menggambarkan bahwa di bagian baratdaya pemanfaatanya cukup beragam berdasarkan analisa terhadap temuan, konteks temuan, dan stratigrafinya. Hasilnya adalah gua ini dimanfaatkan berulang kali untuk kebutuhan yang berbeda. Diperkirakan aktivitas yang berlangsung berkaitan dengan persembunyian pada masa perang Paderi (1821--1838), persembunyian pada masa perang kemerdekaan (sebelum 1945), serta aktivitas pengolahan gambir dengan dapur gambir sekitar tahun 1945 -an.


Keywords


gambir kitchen, cave, coin, pottery

References


Amran, Rusli. 1981. Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan.

BPS Harau. 2012. Lima Puluh Kota Dalam Angka. Sarilamak: Badan Pusat Statistik Kec. Harau.

BPS Lima Puluh Kota. 2012. Lima Puluh Kota Dalam Angka. Sarilamak: Badan Pusat Statistik Lima Puluh Kota.

Geertz, Clifford. 1983. Involusi Pertanian. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Hillson, Simon. 1986. Teeth. Australia: Cambridge University Press.

Netscher, F. dan J. A. Van Der Chijs. 1864. De Munten Van Nederlandsch Indie, Beschreven en Afgebeeld. Tp.

Rangkuti, Nurhadi, Inge Pojoh, Naniek Harkantiningsih. 2008. Buku

Panduan Analisis Keramik. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Sastrapradja, Setijati et al. 1980. Tanaman Industri. Jakarta:

Balai Pustaka.

Schmid, Elisabeth. 1972. Atlas of Animal Bones. Amsterdam- London-New York: Elsevier Publishing Company.

Susilowati, Nenggih. 2012. LPA, Penelitian Gua & Ceruk di

Kecamatan Luak dan Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Medan: Balai Arkeologi Medan.

Susilowati, Nenggih. 2013. LPA, Penelitian Gua & Ceruk di Lembah Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Medan: Balai Arkeologi Medan.

Tanudirjo, Daud Aris. 1989. Ragam Penelitian Arkeologi Dalam Skripsi Karya Mahasiswa Arkeologi Universitas Gadjah Mada. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.

Laman

Sumana, Alim Artadjaja. 2009. Sejarah Perkembangan Mata Uang

Indonesia. http://www.uangkuno. com/2009/11/info-uangkuno-2. html, diakses tanggal 10/10/2013.


Article Metrics

View Counter : Abstract | 153 | PDF (Bahasa Indonesia) | 3 | Total View | 189 |

DOI: https://doi.org/10.24832/sba.v19i2.30

Refbacks





Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.